Self Lifehacks

Tentang Masa Depan

Perubahan yang terjadi karena adanya pandemi mungkin membuat kita mempertanyakan masa depan. Apakah semua akan baik-baik saja? Apa yang akan terjadi di masa depan? Sebelum kita terlalu jauh memikirkan masa depan yang sekarang ini kepastiannya seakan sedang diuji oleh waktu, kami berdiskusi dengan Tradeto dan Hindia. Tentang masa depan dan segala refleksi mereka yang menjadi inspirasi lagu kolaborasi mereka.

 

Greatmind (GM): Apa yang menjadi inspirasi di balik lagu “Tentang Masa Depan/Satu Dua Langkah”?

Tradeto: Cerita di balik lagu ini terjadi di awal pandemi. Gue sempat ada di momen mempertanyakan harus menjalani yang mana. Di saat itu, gue lagi meniti karier menjadi seorang desainer grafis dan musisi di waktu yang sama. Lalu, pandemi membuat gue mempertanyakan apakah harus mulai lagi dari nol sampai ada momen gue rehat dari dunia musik untuk beberapa lama. Tapi kemudian ternyata ada saja proyek yang seolah mendorong gue untuk tetap terlibat dalam dunia musik. 

Akhirnya, gue menyadari bahwa dulu gue terlalu fokus melihat gambaran besar yang ingin dicapai sehingga hal-hal kecil yang harus dijalani saat ini tidak diperhatikan. Jadi, lagu ini terinspirasi dari pilihan gue untuk memikirkan masa depan atau untuk maju satu dua langkah kecil yang harus difokuskan di masa kini. 

 

GM: Selama menjalani situasi pandemi ini, apakah persepsi kalian tentang masa depan berubah?

Hindia: Pasti. Gue jadi memikirkan untuk merapikan prioritas hidup. Banyak hal di musik yang ingin gue coba lakukan walaupun sebenarnya satu per satu udah terlaksana pelan-pelan. Gue mulai memikirkan tentang apa yang gue harus lakukan dengan penghasilan yang gue punya sekarang. Apalagi semakin mendekati kepala tiga, gue semakin memikirkan tentang kehidupan domestik. Gue pun menyadari ternyata kehidupan domestik itu mahal. Memang, berkesenian itu tidak ada usianya. Tapi gue percaya tidak mungkin selamanya gue bisa seperti sekarang. 

Tradeto: Dulu gue kerja lumayan nge-gas. Sekarang seperti disuruh istirahat tiba-tiba. Tapi karena kondisinya begini, jadi gue berpikir nggak apa-apa untuk bernapas dulu. Ambisi boleh saja, tapi tetap harus ada istirahat juga. Seperti mesin, kalau tidak diistirahatkan pasti akan rusak. Begitu juga manusia. 

 

GM: Dari segala pengalaman di pandemi, bagaimana cara kalian untuk bisa kembali optimis dan kembali produktif?

Tradeto: Gue percaya kalau dalam hidup pasti ada momentum. Terkadang kita memang harus menahan keinginan dalam kondisi tertentu. Tapi jangan sampai semangatnya lepas karena sebenarnya apa yang ingin dicapai, impian, selalu ada dalam diri kita. Jadi, sebenarnya semangatnya akan selalu ada di diri. Kita hanya perlu mengingatnya kembali. 

Hindia: Sejauh ini, gue hanya mencoba mengerjakan apa yang bisa dikerjakan dalam kapasitas gue. Gue udah berdamai dengan fakta bahwa gue nggak akan bisa menyenangkan dan bantu semua orang. Tidak ada keputusan yang sempurna. Keputusan apapun yang diambil akan ada risikonya. Buat gue, hal-hal ini lumayan teramplifikasi di keadaan sekarang. Terkadang hidup mati kita bergantung pada 1 atau 2 keputusan yang diambil hari ini. Semua tidak ada yang pasti. Akhirnya gue bisa optimis pada hal-hal kecil dalam hidup. Tapi pada saat yang sama, gue mencoba menerima bahwa ada yang tidak bisa gue ubah. Akan ada orang yang tidak suka, yang selalu menganggap kita salah. Dan semua itu ada di luar kendali gue.

 

GM: Bagaimana cara kalian menemukan keseimbangan antara mencoba untuk tetap optimis dan menerima keadaan yang dialami sekarang?

Tradeto: Kita harus mengingat bahwa saat kita terlalu memikirkan apa yang ingin dicapai, kita bisa melupakan kewajiban yang harus dilakukan di keseharian, yang memengaruhi orang terdekat. Jadi, sebenarnya kita harus mengingat kebaikan orang lain juga. Terutama orang-orang di sekitar kita. Terlalu egois rasanya kalau kita hanya memikirkan pencapaian yang masih jauh. 

Hindia: Banyak yang bilang pandemi itu hambatan. Jujur, gue sebagai orang Indonesia sudah tidak yakin pandemi akan selesai. Mungkin ini adalah perubahan hidup di peradaban ini. Di momen itu, gue pun sadar bahwa gue nggak bisa menghentikan semua yang biasa gue lakukan karena merasa situasi sedang ada di tombol jeda. Menunggu semuanya kembali seperti semula barulah akan bergerak lagi. Jadi, gue nggak bisa memberhentikan semua karena harus menunggu semua ini selesai. Gue memilih untuk beradaptasi dengan keadaan sekarang dan tetap melakukan apa yang bisa dilakukan. 

 

GM: Terkadang di situasi yang menantang, seniman justru menemukan inspirasi untuk berkarya. Kalian setuju tidak?

Hindia: Pasti. Tapi tidak semua seniman punya privilese yang dapat mengubah kesulitannya untuk berkarya. Di keadaan seperti sekarang banyak seniman di luar sana yang tidak bisa memikirkan karya karena perutnya lapar. Gue belakangan berusaha untuk menjadi lebih mawas diri, dengan menyadari betapa gue beruntung masih bisa berada di bawah atap dan tidur di kasur nyaman. Kesadaran ini juga yang berusaha gue sampaikan dalam lagu untuk memberikan perspektif lain. Gue pribadi mengakui bahwa gue tidak terlalu terdampak. Yang bisa gue lakuin selain membantu mereka yang terdampak adalah mengakui bahwa di badai ini, gue punya kapal yang lebih kokoh.

 

GM: Jadi, masih ada tidak mimpi yang ingin diwujudkan di waktu mendatang?

Tradeto: Sebenarnya bukan mimpi tapi lebih ke harapan atau doa. Tentunya ingin kita semua sehat, ingin tetap produktif.

Hindia: Kurang lebih sama. Gue cuma ingin sehat, keluarga dan orang terdekat sehat. Tidak kekurangan kebutuhan primer di kondisi sekarang. Gue berdoa juga semoga satu sama lain saling bantu dan mengurangi berantem yang tidak penting di internet. Kalau bisa simpan opini sampai pandemi kelar dan lebih baik perbanyak bantu orang lain. 

 

GM: Tentang kesuksesan, dalam lagu ini ada lirik“Sesekali kembali ke bumi, hati-hati terbakar matahari”. Ketika sedang menulis ini perspektifnya apa?

Hindia: Pas gue nulis ini gue terbayang dengan sosok Ikarus yang ingin punya sayap padahal dia manusia. Hakikatnya bukan terbang tapi berjalan. Ini seakan jadi pengingat buat diri gue sendiri agar jangan sampai lupa injak tanah karena tidak semua orang seberuntung gue. Banyak orang yang mau ngeluarin lagi album sekarang kebingungan karena sulit biaya. Banyak dari mereka yang penghasilannya tidak tetap harus melewati masa yang sangat menantang saat ini. Jadi, dalam kondisi seperti sekarang janganlah berharap untuk terbang hingga langit tertinggi tapi jalan saja bersama orang lain, membantu sesama. 

 

GM: Tapi pernah tidak membandingkan jalan yang ditempuh sendiri dengan orang lain?

Tradeto: Tentu pernah. Apalagi dengan mereka yang ada di satu industri. Tapi yang gue sadari, ketika gue melihat sana sini, gue jadi mengikuti jejaknya dan tidak jadi diri sendiri. Akhirnya gue kehilangan diri sendiri dan jadi mempertanyakan apa yang ingin dilakukan karena membandingkan sama orang lain. Padahal sebenarnya cara yang dia lakukan untuk berhasil belum tentu cocok gue terapkan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, akhirnya gue mencari cara gue sendiri dan melihat orang lain hanya untuk jadi penyemangat, motivasi untuk jadi diri sendiri yang lebih baik. 

Hindia: Gue rasa tidak ada orang yang luput dari perasaan tersebut. Gue sendiri pasti pernah begitu, bertanya sendiri “Kok dia bisa, ya?”, “Wah, udah album ke berapa dia?”. Tapi di saat yang sama, gue pun sadar bahwa yang bisa gue kendalikan adalah bagaimana gue menanggapi rangsangan dari luar tersebut. Bagaimana caranya pemikiran membandingkan itu tidak jadi perkataan buruk atau memengaruhi keputusan hanya karena ingin mengikuti orang lain saja. 

Sebaliknya, pemikiran itu dijadikan pacuan untuk jadi lebih baik. Kecepatan orang dalam mencapai sesuatu berbeda-beda karena pengalaman hidup yang berbeda-beda. Untuk tidak membandingkan memang bukan hal yang gampang. Gue sendiri juga masih belajar tapi gue rasa kita semua pasti punya jalan masing-masing untuk merasa puas dengan pencapaian sendiri tanpa perlu membandingkan dengan pencapaian orang lain. Lagipula, belum tentu orang lain bisa mencapai apa yang sudah kita dapatkan. 

 

GM: Apa pesan kalian untuk teman-teman yang mengalami stagnasi di masa sekarang?

Hindia: Tidak usah pusing ketika sedang tidak produktif. Kita semua memang sedang terhambat. Mereka yang di tingkat kenegaraan saja sedang terhambat. Situasi ini tidak nyaman untuk semua orang. Lebih baik di keadaan sekarang kita menghidupi keseharian saja tanpa perlu berlomba. Lalu kalau punya waktu, nikmatilah waktu dengan diri sendiri untuk memikirkan hal-hal yang memang perlu dipikirkan. Dan jangan juga sampai melakukan sesuatu berlebihan. 

Tradeto: Jangan mengubur mimpi kalau memang mimpi itu masih jadi sebuah keinginan. Entah kapan itu akan terjadi, tapi kalau memang ada waktunya, pasti akan terjadi. Tidak apa-apa punya kecepatan yang berbeda dengan orang lain karena setiap orang punya cerita dan pengalaman yang berbeda. Di saat yang sama, jangan takut untuk istirahat juga karena memang saat ini kita semua sedang terhambat. 

Related Articles

Card image
Self
Mendengar dengan Tulus

Saat kita bersedia belajar mendengar dengan sepenuh hati pada dasarnya kita juga menambah kemampuan dan referensi kita untuk berbicara dengan orang lain. Manusia memang harus bisa saling mendengarkan dan didengarkan untuk bisa merasa berarti bukan?

By Greatmind
14 May 2022
Card image
Self
Good Enough: Apa Itu Libur?

Apa itu libur? Terlepas dari se-workaholic nya seseorang, kita semua sepakat kalau kita butuh liburan untuk berbagai alasan. Yup, meskipun kita semua suka libur, ternyata nggak sedikit juga orang yang merasa bersalah salah dirinya meliburkan diri. Kok bisa?

By Nurul Idzni
14 May 2022
Card image
Self
Semua Akan Berakhir

"Jika hari ini adalah hari terakhir hidup Anda, apa yang Anda akan lakukan?" Hal terpenting dalam kehidupan ketika kita menemukan alasan untuk hidup adalah, kita bisa memahami semua akan berakhir, dan mulai melihat dunia dengan sudut pandang baru.

By Joshua Budiman
14 May 2022