Self Science & Tech

Tanggung Jawab Bermedia Sosial

Tidak bisa dipungkiri keberadaan media sosial di tengah-tengah masyarakat membuat kita secara tidak sadar terus  menerus ingin mengkonsumsi dan membagikan konten-konten mainstream. Semua demi tidak ketinggalan tren juga mendapatkan perhatian dari para penghuni dunia maya. Namun kita seringkali tidak sadar bahwa penggunaan media sosial dapat mempengaruhi pikiran dan perilaku kita di keseharian. Sebagai salah seorang influencer yang secara rutin membuat konten untuk dikonsumsi banyak orang, aku berusaha untuk lebih berhati-hati memproduksinya. Berusaha untuk membuat konten yang lebih positif untuk agar tidak memberikan dampak negatif pada kehidupan sehari-hari mereka. 

Kita seringkali tidak sadar bahwa penggunaan media sosial dapat mempengaruhi pikiran dan perilaku kita di keseharian.

Sangat disayangkan belakangan banyak figur Instagram yang membuat konten hanya untuk clickbait di mana mereka hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas. Tidak jarang konten yang dipublikasikan dibuat menyimpang hanya agar orang tertarik untuk melihatnya. Cukup tidak nyaman mengetahui banyak pihak yang tidak menyaring kontennya dan menganggap apa yang disebarkan itu tidak berdampak bagi orang lain. Mungkin aku bukan pribadi yang alim atau sosok yang mulia. Tapi paling tidak aku melakukan kurasi berdasarkan nilai moral yang aku percaya yaitu menjadi diri apa adanya di mana konten yang dipublikasi tidak mengarahkan orang ke hal negatif. 

Aku khawatir dengan adanya para kreator konten yang kurang memperhatikan kualitas, kurang mendidik, mereka bisa merugikan konten kreator lainnya. Contohnya kalau ada seorang Youtuber yang mempublikasikan konten kurang mendidik secara terus menerus, lama kelamaan akan muncul stereotip bahwa Youtuber adalah sosok yang tidak mendidik. Pelan-pelan mereka bisa mengurangi rasa percaya pada para Youtuber lain. Padahal tidak semua Youtuber mempublikasikan video tidak berkualitas. Padahal di industri ini setiap akun media sosial punya karakter sendiri. Jumlah pengikut yang lebih banyak tidak menentukan besarnya pengaruh sang pemilik akun. Oleh karena itu tidak ada kompetisi layaknya produk antar pabrik.

Ketika aku ingin membagikan sesuatu yang tidak semua orang terima biasanya aku pasti akan berpikir berkali-kali seperlu apakah memposting konten tersebut. Aku percaya bahwa tidak semua orang bisa berpikir sama sepertiku. Hal simpel seperti pergi ke klub saja bisa jadi kontroversial. Buatku mungkin tidak masalah karena dari kecil aku dididik untuk bebas melakukan apa yang disenangi. Yang penting aku bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain. Tapi tidak semua orang mendapatkan panduan sepertiku. Jadi aku tidak mau membagikan konten yang menyiratkan bahwa aku mendukung orang lain pergi ke klub. Aku tahu tidak semua orang bisa menerapkan tanggung jawab seperti yang aku pahami. Inilah tanggung jawab moral sebagai seorang pemengaruh yaitu untuk bijak membagikan konten.

Begitu juga ketika ada brand yang menawarkan produk untuk diulas atau dipromosikan di akunku. Tidak hanya karena brand tersebut memberikan uang lalu menyebarkan mentah-mentah materi dari mereka. Sebisa mungkin caption yang kubuat menunjukkan diriku yang jujur karena aku tidak mau membohongi para follower. Kalau memang produk tersebut tidak cocok dengan karakter dan idealismeku, aku tidak akan semerta-merta menerima demi mendapatkan penghasilan. Contohnya ketika produk tersebut ternyata berdampak buruk untuk lingkungan tapi mereka menyampaikan bahwa produk itu ramah lingkungan. Sudah pasti aku akan menolak karena ulasanku bisa mempengaruhi dan merugikan orang lain. Aku merasa bertanggung jawab pada orang-orang yang sudah percaya pada kejujuran kontenku.

Upaya untuk lebih real di media sosial media tidak lain karena aku tahu dampak media sosial  bisa membuat mempengaruhi mental seseorang salah satunya membandingkan.

Upaya untuk lebih real di media sosial media tidak lain karena aku tahu dampak medsos  bisa membuat mempengaruhi mental seseorang salah satunya membandingkan. Bagi sebagian orang mereka terdorong untuk lebih sombong dan memamerkan apa yang dimiliki. Sebagian lainnya dapat menjadi terlalu rendah diri sehingga memudarkan rasa syukur pada hidupnya. Mereka seringkali berpikir “kok saya tidak seseru para influencer ya?”, “kok mereka bisa punya tujuan hidup, saya tidak punya”. Mereka pun pelan-pelan merasa lebih payah dari para figur-figur media sosial tersebut. Itulah mengapa belakangan aku berusaha menyampaikan pesan kepada para pengguna media sosial untuk tidak memaksakan diri membuat konten semaksimal para pembuat konten. Bahwa bukan masalah besar untuk tidak membagikan konten yang “wah”. 

Bukan masalah besar untuk tidak membagikan konten yang “wah”. 

Akan tetapi meski konten sudah berkualitas baik para follower maupun influencer disarankan untuk berusaha berada dalam siklus yang sehat. Aku mengakui masih belum bisa 100 persen berada dalam siklus tersebut. Terciptanya siklus yang tidak sehat berasal dari budaya “tidak pikir panjang” di masyarakat. Para pengguna media sosial sebentar-sebentar ingin membagikan aktivitas yang sedang terjadi di sekitarnya. Inilah yang dapat memunculkan dampak negatif seperti kurangnya interaksi seseorang dengan orang di kehidupan nyata. Terdapat salah satu cara untuk mengendalikan konsumsi berlebihan. Kini kita bisa mengunduh aplikasi pengingat yang dapat mengatur waktu kita mengkonsumsi media sosial. Ada pula aplikasi yang dapat melaporkan konsumsi konten dalam seminggu. Apa saja yang kita konsumsi dan berapa lama berada di dalam akun atau situs tersebut. Pengaturan ini bisa jadi refleksi personal agar bisa belajar lebih selektif dalam menikmati konten.

Dengan belajar mengendalikan diri sebenarnya kita pun jadi bisa mengatasi berbagai isu di media sosial yang mungkin terjadi.

Dengan belajar mengendalikan diri sebenarnya kita pun jadi bisa mengatasi berbagai isu di media sosial yang mungkin terjadi. Utamanya dalam menyikapi hate speech atau ungkapan kebencian. Saat tidak bisa mengendalikan diri kita dapat dengan mudah terpancing dan terbawa suasana. Kemudian menanggapi kritik maupun konten yang kontroversial dengan tidak bijaksana. Boleh-boleh saja mengeluarkan argumen. Namun tetap harus berhati-hati. Belakangan aku mencoba untuk menerapkan agree to disagree saat dipertemukan dengan topik tertentu. Bahkan aku mendorong para pengikutku untuk menerapkan hal yang sama apabila mereka merasa kurang nyaman dengan apa yang aku bagikan. Aku merasa perlu untuk terbuka menerima saran, pendapat, dan kritik.

Kuncinya adalah berani mengabaikan yang tidak berguna bagi diri.

Dengan memahami prinsip ini aku jadi belajar untuk tidak selalu terbawa perasaan ketika mendapat komentar pahit. Kuncinya adalah berani mengabaikan yang tidak berguna bagi diri. Tidak ada cara dan ungkapan lain karena kita tidak pernah bisa mengubah orang untuk berpikir sesuai yang diinginkan. Yang bisa aku lakukan adalah memberitahu diri sendiri untuk tetap bersyukur dengan segala kebaikan yang kuterima selama ini dan tidak membiarkan komentar pedas merusak kebahagiaanku. Aku yakin setiap orang pasti memiliki hal yang dapat disyukuri. Jadi setiap kali ada yang mengganggu, kita mungkin akan kesal tapi cara ampuh mengobati rasa kesal itu adalah dengan menelusuri kembali sisi-sisi baik yang sudah didapatkan sampai detik ini.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020