Self Lifehacks

Tak Lagi Senang Bermain

Ingat tidak semasa kecil kita senang sekali bermain dan berkumpul dengan banyak teman? Bahkan terkadang kita mengabaikan pekerjaan rumah karena lebih ingin main ketimbang belajar. Tapi kenapa semakin beranjak dewasa minat untuk bermain seperti terus berkurang dan lama-lama malah kita tidak lagi menyediakan waktu untuk bermain? Jawabannya terletak pada pengembangan psikologi kita menjadi pribadi yang dewasa. Dalam teori Erikson dijelaskan bahwa masa dewasa dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap dewasa awal (18-35 tahun), madya (35-55 tahun), dan akhir (di atas 55 tahun). 

Di masa tahap dewasa awal terdapat tahap yang dinamakan Intimacy vs Isolation. Yaitu pencarian sebuah hubungan terhadap manusia lainnya atau sesuatu hal yang bisa memberikan arti lebih mendalam. Di tahap ini kerap kali kita merasakan kebutuhan untuk bersosialisasi yang berkualitas dengan orang lain. Hanya orang-orang tertentu saja yang akhirnya kita pilih untuk menghabiskan banyak waktu bersama. Contohnya mulai berpikir tentang komitmen akan hubungan asmara yang jelas. Mulai ada keinginan untuk membawa hubungan tersebut ke jenjang yang lebih serius. Begitu pula perhatian terhadap hubungan diri sendiri akan berubah. Kita jadi mulai memikirkan tujuan hidup, mengembangkan diri agar punya orientasi hidup yang lebih terarah. 

Minat bermain kita berangsur-angsur pun mulai menurun. Tidak sepenuhnya hilang tapi lebih terstruktur. Kita jadi lebih memberikan waktu pada hal-hal yang memiliki tujuan untuk mencapai aktualisasi diri. Apalagi ketika kita sudah pernah merasakan sebuah pengalaman di masa lalu dan berpikir pengalaman tersebut kini tidak lagi punya nilai lebih. Contohnya bermain Playstation. Ketika kecil kita masih penasaran untuk mencoba sehingga banyak memberikan waktu untuk bermain Playstation. Tapi ketika tubuh dewasa kita mengurangi waktunya karena tahu kegiatan tersebut tidak signifikan untuk tujuan hidup kita yang sebenarnya. Orientasi hidup yang lebih terarah membuat kita memiliki rasa tanggung jawab akan apa yang kita lakukan. Sehingga kita akan menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk mencapai misi tertentu. Jadilah kita memilah mana yang harus diprioritaskan. 

Seperti yang diungkapkan dalam teori Anderson tentang kematangan individu. Kita akan lebih punya ketertarikan pada tugas yang memberikan manfaat lebih pasti di mana terlihat ada manfaat besar di baliknya. Fase pencarian intimasi ini membuat kita memiliki pemikiran realistis untuk melihat kepastian. Sehingga hal-hal yang tidak pasti lama kelamaan akan ditinggalkan. Contohnya di aspek pertemanan yang tidak lagi jadi paling utama. Kita memilah akan “bermain” dengan siapa dengan beragam pertimbangan. Seberapa lama berteman dengannya, seberapa dekat dengannya, seberapa berharganya momen yang dihabiskan dengannya. Maksudnya bukan tidak membuka pertemanan dengan orang baru tapi memilah seberapa banyak waktu yang hendak diinvestasikan untuknya.

Hanya saja kategori seseorang yang dibilang dewasa bukan berdasar pada sedikitnya pertemanan yang dimiliki dan kurangnya bermain di masa dewasa. Justru seseorang bisa dibilang matang ketika dia bisa memahami konsep waktu. Tahu kapan harus bekerja, kapan harus bermain, dan kapan harus bersosial secara berkualitas dengan orang-orang terdekat dan diri sendiri. Seseorang dikatakan matang jika sudah memiliki kesadaran diri dalam mengatur porsi minatnya dalam hidup. Jadi seseorang yang di usia dewasa masih membawa kebiasaan bermain di masa kecil tidak bisa dikatakan childish jika apa yang dilakukannya tidak keluar batas tanggung jawab dan perannya dengan orang lain. Misalnya saja seorang ayah sibuk bermain sampai lupa melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Itulah childish. Sedangkan mereka yang masih menjalankan hobi di masa kecil misalnya koleksi Lego tidak bisa dibilang masih seperti anak-anak jika dia memiliki kesadaran untuk membagi waktu antara hobi dan perannya di dalam hidup. Malahan sebenarnya kebiasaan masa kecil yang dihadirkan di kala dewasa bisa menjadi mekanisme koping psikologinya. Mekanisme koping tidak melulu tentang spiritual seperti meditasi atau bahkan konsultasi ke psikolog. Bermain bisa jadi alat untuk mengatasi emosi yang ada di kala dewasa.

Seseorang bisa dibilang matang ketika dia bisa memahami konsep waktu. Tahu kapan harus bekerja, kapan harus bermain, dan kapan harus bersosial secara berkualitas dengan orang-orang terdekat dan diri sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Manusia Makhluk Egois

Kita itu egois. Manusia pada dasarnya memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, ada yang baik hati, ramah, penyayang dan ada juga yang pemarah, kasar, dan egois. Orang yang egois pada umumnya adalah orang yang sulit untuk dihadapi dan diajak berkomunikasi. Sadarkah kita bahwa sebenarnya setiap orang memiliki sisi egosi, hanya kadarnya saja yang beragam. Ada yang halus ada juga yang dominan.

By Ardy Wu
09 October 2021
Card image
Self
Memahami Beragam Dimensi Dalam Diri

Diri kita sebenarnya adalah gabungan dari banyak hal. Self concept sangat bersifat multidimensional. Diri kita bukan hanya sebatas aspek-aspek yang bisa kita lihat. Sebenarnya ini menenangkan, dalam artian jika kita merasa belum maksimal dalam satu dimensi, bisa jadi pada dimensi-dimensi lain lebih positif.

By David Irianto
09 October 2021
Card image
Self
Menafsirkan Penantian dan Rasa Sepi

Penafsiran rasa sepi bagi setiap orang bisa saja berbeda-beda. Spektrum rasa sepi juga sebenarnya sangat luas. Menurutku rasa sepi sangat bergantung kepada bagaimana kita memosisikan diri kita sendiri. Tanpa rasa sepi juga kita tidak akan bisa memahami apa itu rasa rindu dan tidak menghargai waktu menunggu saat kita menginginkan hal ataupun kehadiran orang yang kita butuhkan dalam hidup. Menurutku dalam kadar yang cukup, sebenarnya rasa sepi bisa dinikmati.

By Caldera
02 October 2021