Self Health & Wellness

Tak Harus Jadi Sempurna

Yulia Baltschun

@yuliabaltschun

Praktisi Diet & Kebugaran

Bagaimana cara mengatasi body shamming? Sebenarnya hal ini sudah banyak banget yang menanyakan secara langsung  dan aku yakin juga sudah banyak orang yang mengalami "Body Shaming". Bagi aku sendiri, kalau hate commentnya tentang body shaming, sih, aku sudah nggak peduli karena hanya orang yang berpikiran sempit saja yang masih menggunakan satu beauty standard atau berpatokan dengan ideal body shape yang sempit dan tidak berubah.

Hanya orang yang berpikiran sempit saja yang masih menggunakan satu beauty standard atau berpatokan dengan ideal body shape yang sempit dan tidak berubah.

“Yah tapi kan tetep aja yang cantik tuh yang putih, tinggi, langsing, mulus”

Ini pemikiran yang sepertinya sudah harus kita tinggalkan karena sudah tidak lagi relevan. Coba deh kamu lihat di America's Next Top Model ada perempuan dengan kulit 'Vitiligo' sebuah kondisi di mana warna kulit memudar di beberapa bagian karena genetik. Contoh lainnya, di Bali banyak sekali perempuan dengan warna kulit yang lebih gelap, mereka terlihat sangat menarik dan punya pesonanya masing-masing, atau kecantikan yang ditampilkan oleh keluarga Kardashian  yang badannya lebih berisi, kok fansnya mereka sampai 200jutaan? Kan mereka tidak termasuk ke dalam "standar" langsing?

Hey, lihat aku, deh, yang punya badan tidak terlalu tinggi, 165cm pun tak sampai, kok aku masih direspon baik oleh publik? Intinya setiap orang punya kelebihan dan pesonanya masing-masing selama mereka percaya diri menjadi versi terbaik mereka.

Sebenarnya orang yang menghina, menjatuhkan, atau mengujarkan body shaming kamu mungkin tidak selamanya orang jahat. Bisa jadi dia adalah orang yang masih berpatokan dengan beauty standard jadul atau pake beauty standard zona sempit, berdasarkan pergaulan mereka yang masih disekitar lingkungan rumah saja atau ternyata mereka penggemar garis keras dengan standar yang berbeda dengan kita. Sedangkan kamu mungkin lebih menyukai atau lebih nyaman menjadi orang dengan beauty standard zona lainnya yang mungkin belum familiar bagi orang lain. Gaya Brazil, ubud, atau mungkin juga powerlifter.

Selama berat badan kamu mendekati ideal, kesehatan bagus, stamina baik, sisanya kamu bebas berekspresi mau menjadi apa pun! Kenapa harus mendekati berat badan yang ideal? Karena kalau kejauhan, nyawa kamu yang akan terancam, hormon di dalam tubuh kamu error, dan sudah bukan persoalan body shamming lagi tapi sudah masuk berbahaya untuk status gizi dan kesehatan kamu.

Selama berat badan kamu mendekati ideal, kesehatan bagus, stamina baik, sisanya kamu bebas berekspresi mau menjadi apa pun! 

Kamu nggak harus putih, super langsing, tinggi menjulang, wajahmu juga tak selamanya harus flawless. Kamu tidak harus menjadi paket komplit hanya untuk diterima oleh publik, kok. Orang yang benar-benar positif akan tetap menerima kamu berdasarkan value yang kamu miliki, bukan dari penampilanmu saja yang 30 tahun kemudian juga akan menua seiring berjalannya waktu.

Kamu tidak harus menjadi paket komplit hanya untuk diterima oleh publik, kok. Orang yang benar-benar positif akan tetap menerima kamu berdasarkan value yang kamu miliki, bukan dari penampilanmu saja yang 30 tahun kemudian juga akan menua seiring berjalannya waktu.

Kalau ada orang yang ternyata tidak bisa menerima kamu hanya karena kamu tidak memiliki paket komplit itu, fixed banget dia bukan real and positive people for you! Mungkin dia adalah manusia yang lupa apa sebenarnya fungsi menjadi manusia alias manusia dengan mindset yang tidak berkualitas. So, let’s be someone who’s real & positive, either for yourself or for people around you!

Related Articles

Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022
Card image
Self
Menentukan Prioritas dalam Tujuan

Salah satu ajaran dari keluargaku adalah hidup harus jelas, kita harus punya tujuan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Kemudian tujuan tersebut dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum, aku merasa mulai butuh menentukan tujuan mulai dari SMA. Saat SMA kita harus mulai menentukan jurusan kuliah yang kita suka karena akan berhubungan dengan karir kita dalam jangka panjang.

By Nadhira Afifa
15 January 2022