Self Lifehacks

Sepercik Air: Kemubaziran

Archie Wirija

@archiewirija

Pendiri Platform Sosial

Besarnya keinginan kita menjadi penyebab hidup kita dalam kemubaziran. Sebagai manusia, kita cenderung memiliki keinginan yang tidak terbatas, membuat kita sering terjebak dalam kemubaziran. Dalam Islam, istilah mubazir bermakna perilaku boros, berlebihan, membuang-buang, atau menyia-nyiakan terhadap suatu hal yang tentu tidak ada manfaatnya.

Sebagaimana Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 26 dan 27 yang memerintahkan kita untuk membantu sesama dan tidak berperilaku boros atau mubazir, karena sesungguhnya pelaku mubazir itu adalah saudara syaitan. Coba lihat sekitar yang kita miliki.

Berapa banyak pakaian yang kita punya, yang sebenarnya kita hanya membutuhkan beberapa saja? Berapa banyak makanan yang kita beli dan tidak habis karena hanya untuk memenuhi nafsu kita? Mulailah berpikir kembali ketika kita menginginkan sesuatu.

Dasarkan semua yang kita inginkan pada kebutuhan. Jangan sampai keinginan kita menjadi kemubaziran. Kemubaziran tentu saja bertentangan dengan maksud penciptaan segala sesuatu oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana Al-Quran Surat Ali Imran ayat 191 “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."

Begitu pula dengan keinginan kita di dunia ini, sebaiknya hal-hal tersebut dapat bermanfaat dan tidak sia-sia. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita meninggalkan kemubaziran dengan melakukan kebermanfaatan terhadap segala sesuatu yang bernilai positif, untuk menciptakan kerahmatan-Nya.

Alih-alih melakukan kemubaziran, mengapa kita tidak melakukan kebermanfaatan terhadap sesama? Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat bermanfaat bagi sesamanya?

Berbagilah kepada sesama kita, kepada yang lebih membutuhkan. Mungkin saja hal yang sering kita mubazirkan, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi mereka, sangat mereka butuhkan. Bahkan untuk berwudhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang kita mubazir akan air,  sekalipun kita berada di sungai maupun lautan. Kita dianjurkan untuk berhemat air dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakannya, meskipun air tersebut melimpah.

Berbagilah kepada sesama kita, kepada yang lebih membutuhkan. Mungkin saja hal yang sering kita mubazirkan, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi mereka, sangat mereka butuhkan.

Juga tanpa kita sadari, kita sering melakukan kemubaziran akan waktu dan kesempatan. Berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam bermain media sosial dan gadget? Benar, bahwa media sosial ada sisi baiknya juga, tidak hanya buruknya. Tetapi, seringkali yang kita dapatkan dari media sosial adalah kecemasan dan iri hati. Bijaklah dalam menginginkan dan melakukan segala sesuatu, serta tetaplah melakukan kebermanfaatan terhadap sesama.

'Sebaik-baik perkara adalah pertengahannya,'' begitulah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda. Segala sesuatu sebaiknya seimbang, tidak lebih dan tidak kurang.

Related Articles

Card image
Self
Untuk Apa Hidup: Satu Perjalanan

Sudahkah kita menggunakan sisa hari yang kita punya dengan baik dalam satu perjalanan ini? Seberapa pun sisa hari yang kita miliki, adalah kesempatan untuk menjelajahi kehidupan ini.

By Joshua Budiman
18 June 2022
Card image
Self
Menghadapi Takut

Selamat datang di dunia kesunyian. Ini adalah sebuah kalimat yang biasa aku sebut untuk menggambarkan pengalaman perjalananku ketika masuk ke alam bawah laut. Ketika kita diving atau free diving, memang nggak ada suara apa pun. Kita hanya bisa mendengarkan suara gelembung napas kita.

By Della Dartyan
18 June 2022
Card image
Self
Belajar Mengendalikan Ekspektasi

Kadang kala kita bisa punya ekspektasi melebihi kemampuan yang kita punya, tapi aku belajar untuk mengendalikan ekspektasi di dalam kepalaku. Aku selalu berusaha untuk tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Saat aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya aku pun sadar bahwa hal itu sulit untuk dicapai, aku akan menurunkan ekspektasi.

By Sorenza Nuryanti
18 June 2022