Self Art & Culture

Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan. Akan tetapi, nostalgia juga bisa menjebak, bahkan toksik, ketika sudah melibatkan unsur penyesalan. Ketika kita bilang, “Andai saja saya dulu begini…” atau “Andai saja kondisi sekarang bisa kembali seperti dulu…” dan sebagainya. Jadi, selama nostalgia tidak diiringi perasaan menyesal berlebihan, saya rasa nostalgia menjadi unsur manis dalam hidup kita. 

Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

Jika bernostalgia dengan karya-karya saya di masa lampau, rasanya banyak yang berubah dengan masa kini. Pengalaman dan pengetahuan jelas berpengaruh besar dalam gaya menulis saya sekarang, dan tidak cuma gaya semata, melainkan juga pendekatan saya terhadap proses berkarya. Dulu, mungkin saya cenderung lebih impulsif ketika menulis. Kalau mau menulis ya, menulis saja. Kalau sekarang, pendekatan saya lebih terstruktur, target saya adalah tamat. Saya harus bisa menghitung kapan cerita saya tamat. Dulu, cara menulis saya juga rasanya lebih ‘kasar’ sehubungan dengan transisi POV (point of view), adegan, dan lain-lain, tidak semulus sekarang.  

Tapi tentu saja ada memori yang dirindukan dari pengalaman berkarya dulu. Yang mengasyikan dari menulis zaman dulu adalah kebebasan waktu. Saya belum berkeluarga, masih tinggal sendiri, sehingga saya punya keleluasaan waktu dan fokus untuk hanya menulis. Sekarang saya harus membagi waktu dan fokus saya untuk banyak hal. Karena itulah struktur bekerja menjadi sangat penting, karena situasi saya sudah tidak bisa sama lagi seperti dulu. 

Tapi tentu saja ada memori yang dirindukan dari pengalaman berkarya dulu. Yang mengasyikan dari menulis zaman dulu adalah kebebasan waktu.

Mengingat kenangan-kenangan masa lampau juga mengantarkan kepada “Rapijali” yang merupakan transformasi cerita “Planet Ping” yang berasal dari 27 tahun lalu. Ketika menulisnya, saya mengingat bagaimana kenangan nge-band, bermusik di sekolah. Waktu sekolah saya melakoni semuanya yang berhubungan dengan musik. Mulai dari nyanyi solo, nge-band, grup vokal, paduan suara, jadi dirigen, bahkan jadi ketua seksi kesenian di sekolah. Semangat bermusik itu terekam sangat kuat, dan menjadi salah satu kenangan termanis yang saya miliki. 

"Rapijali" adalah penggabungan dua dunia saya: fiksi dan musik. Meski dulu pernah berkiprah di dunia musik, tapi setelah menjalani bertahun-tahun saya memang merasa lebih nyaman menulis. Menulis memberikan fleksibilitas dan kemandirian kreativitas yang lebih leluasa ketimbang bermusik, karena dalam menulis saya sepenuhnya mengandalkan diri sendiri dalam berkreasi. Namun, keduanya tetap memberikan kepuasan yang berbeda dan sama-sama tak tergantikan. Sebenarnya saya ingin lebih produktif bermusik, terutama untuk menulis lagu. Tapi, tidak mau ngoyo juga. “Rapijali” memberikan kesempatan emas itu, karena saya memang dituntut menulis lagu sebagai bagian dari kebutuhan cerita. Lewat buku ini, saya ingin berbagi spirit bermusik kepada para pembaca. Yang memang sudah suka musik, saya rasa akan sangat mudah menghayatinya. Namun, yang bukan pemusik aktif semoga masih tetap bisa merasakan asyiknya dunia musik lewat "Rapijali". 

Menulis “Rapijali” juga membuat saya menyadari kekurangan apa yang saya lakukan ketika menulis “Planet Ping” dahulu. Utamanya tentang plot cerita. Plot yang dibutuhkan untuk membuat naskah tersebut bekerja adalah plot yang besar dan kompleks. Hal itu tampaknya tidak saya sadari dahulu kala, dan baru saya sadari sekarang saat menuliskannya ulang. Kini saya jadi maklum kenapa dulu tidak sanggup menuntaskannya. Dulu, saya hanya tahu: “pokoknya Ping bakal jadi begini dan begitu”, tetapi bagaimana cara mencapai ke sana, saya tidak tahu. Akhirnya tersendat. Meski Rapijali tokoh sentralnya anak-anak muda, itu tidak otomatis membuat jalinan dramanya menjadi simpel. Agar naskah bekerja optimal dibutuhkan ensambel karakter yang luas, dan setiap karakter membawa subplotnya masing-masing. Itu yang menjadikan jalinan kisah di “Rapijali” ini kompleks. Jika mendapat kesempatan untuk menjelajahi ruang waktu dan kembali ke diri Anda di masa menulis "Planet Ping", saya ingin mengucapkan salut karena ia telah menyimpan kepercayaan yang sangat tinggi pada "Planet Ping". Saya rasa itu juga yang membuat ide naskah itu bertahan bersama saya, meski ia harus menunggu lama. 

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Digital Minimalism

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari. Maka itu saya jadi digital minimalist. Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

By Marissa Anita
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021
Card image
Self
Hubungan dengan Diri

Sejak kecil kita sudah diajarkan bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain. Pelajaran ini sudah kita dapatkan dan lakukan dalam lingkungan keluarga. Pada akhirnya, ketika kita cukup ahli untuk berinteraksi pada orang lain, yang disayangkan adalah kadang kita lupa akan hal yang ternyata lebih penting, yaitu bagaimana berinteraksi kepada diri sendiri.

By Diyah Deviyanti
13 February 2021