Self Art & Culture

Seni Sebagai Refleksi Diri

Tom Tandio

@tom_tandio

Kolektor Seni & Direktur Pameran

Greatmind x Art Jakarta

@artjakarta

Media Partner

Fotografi Oleh: Art Jakarta

Seni mengubah hidup saya. Menyukai dan memasukinya, bagi saya, seperti adegan meminum pil di film The Matrix. Sekali menelannya, seseorang tak lagi bisa berubah dan kembali ke keadaan sebelumnya – saat belum mengenal seni. Begitu pun yang saya alami, terutama, ketika saya mulai memasuki seni dengan perspektif yang berbeda. Saat mulai memasuki seni sebagai kolektor sekitar 13 tahun silam, saya melihat seni sebatas sebagai sebuah lahan di mana bisa berinvestasi. Hingga beberapa tahun pertama, saya memakai perspektif seorang investor ketika berhubungan dengan dunia seni. Namun dalam perjalanannya, ada sisi lain dari seni yang saya temui ketika mulai berkawan dengan para seniman. 

Saya minum dan berpesta dengan mereka, membicarakan berbagai hal di luar seni, termasuk tentang hidup dan perkembangannya. Semakin mengenal mereka, saya merasa jatuh cinta pada pemikiran-pemikiran jenius yang melatari karya-karyanya. Mereka jauh lebih dalam dari yang saya duga sebelumnya. Atau mungkin, saya sendiri yang terlalu dangkal menilai seni dan menghargainya sebatas benda mewah belaka. Berkawan dengan para seniman, membuat saya juga belajar tentang hidup dan mengenali diri saya sendiri dengan lebih baik. Saya mulai bisa menghargai nilai-nilai lain dalam hidup dan tak lagi melulu menilai segala hal hanya dengan kacamata material. Saya pun mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah saya lakukan seperti memakai tote bag gratisan yang saya peroleh sebagai cinderamata sebuah acara yang saya kunjungi, dan bisa dengan santai ngobrol di warung-warung pinggir jalan bersama teman-teman seniman lalu setelahnya melakukan meeting di hotel bintang lima. 

Semakin mengenal para seniman, saya merasa jatuh cinta pada pemikiran-pemikiran jenius yang melatari karya-karya mereka..

Secara filosofis, saya senang mengatakan bahwa seni bagi saya adalah hidup, seperti napas. Hidup, bagi saya juga tentang naik dan turun di mana bagi manusia, menurut saya, kita harus mengetahui tentang apa yang kita perbuat dalam hidup. Banyak sekali orang di dunia ini yang melakukan berbagai hal dalam hidup seperti bersekolah, bekerja, berkeluarga, dan sebagainya tanpa mengetahui apa yang hendak mereka cari. Semua dijalani sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan sebagai manusia. Pada akhirnya banyak dari kita yang kemudian lupa mencari apa yang menjadi arti hidup. Seni, menurut saya, dapat menjadi medium yang baik untuk menemukannya.

Seni dapat merefleksikan diri sejati seseorang. Kalau dilihat dari luar, saya orang yang sangat hidup dan riang. Orang kerap menduga, karya-karya yang saya koleksi pasti yang ringan dan berwarna. Padahal, koleksi-koleksi saya justru sebaliknya, lebih banyak yang gelap dan murung. Saya mengoleksi cukup banyak lukisan yang di dalamnya ada pisau dan darah. Beberapa orang teman yang mengenal saya dengan baik sering mengatakan kalau karya-karya seni yang saya koleksi itu seperti menggambarkan siapa saya yang sebenarnya.

Terus terang, agak sulit bagi saya menyebut karya mana yang mendeskripsikan kepribadian saya. Tapi, beberapa teman yang pernah melihat koleksi-koleksi milik saya ketika pernah saya pamerkan di Yogyakarta mengatakan kalau karya-karya ini benar-benar bercerita tentang saya dan berbagai hal yang telah saya lalui dalam hidup. Saya mengoleksi berbagai bentuk karya seni dari video hingga performance art. Seni bagi saya merupakan sebuah media untuk menyampaikan pesan tentang apa yang saya pikirkan, rasakan dan sebagainya. Mengoleksi barang seni pun menjadi hal yang terapeutik untuk saya karena seni bisa membuat kita memiliki saluran untuk menyelami apa yang ingin kita ketahui dan membuat kita merasa sangat puas ketika berhasil melampaui sebuah rasa penasaran. Itu menurut saya sangat terapeutik. Pada karya-karya seni, saya juga kerap merasa menemukan “diri sejati”. Itu sebabnya, semua karya seni yang saya koleksi biasanya berupa sebuah rangkaian atas tema-tema tertentu. Ini lantas akan terkait pula dengan cara “merasakan” karya-karya tersebut. Contohnya sebuah karya seni kontemporer bagi saya adalah karya di mana senimannya bisa menyampaikan pesan yang relevan untuk sebuah zaman di mana ia diciptakan. Sehingga biasanya saya mengoleksi seluruh seri karya tersebut untuk melihat bagaimana seniman itu menggali dan mengembangkan ide dan pesan di balik karya-karyanya. 

Banyak dari kita yang lupa mencari apa yang menjadi arti hidup. Seni, menurut saya, dapat menjadi medium yang baik untuk menemukannya.

Tidak hanya terjadi pada saya sebagai penikmat seni, refleksi diri terutama menjadi prinsip yang tak secara langsung diungkapkan oleh para seniman. Sejauh pengamatan saya, hampir dari semua seniman yang saya temui sudah dapat merefleksikan diri mereka dengan baik lewat karyanya. Seniman adalah manusia-manusia visual yang tak terlalu bisa dan biasa menyampaikan ide dan gagasan mereka lewat kata-kata. Kadang saya menemukan, seniman yang sangat artikulatif menyampaikan ide dan gagasan secara verbal, ternyata tak terlalu berhasil menuangkannya ke dalam karya sementara sebaliknya, seniman yang tidak terlalu artikulatif biasanya karya justru sangat berbicara. Banyak seniman yang baru akan bicara tentang karyanya bila seseorang secara tulus benar-benar bertanya dan ingin mengetahui lebih jauh. Di banyak acara pembukaan pameran, seniman biasanya cenderung bersikap formal dan tak terlalu artikulatif menceritakan ide-ide di balik karyanya. Setelah acara pembukaan usai, saat berbincang santai, barulah mereka akan lebih terbuka dan lebih banyak bercerita tentang karyanya.

Namun berbicara tentang karya seni kita bisa menilai baik buruknya tergantung dari bagaimana karya tersebut bisa secara spesifik menceritakan ide yang melatarinya dan pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang terlalu umum dan dangkal dapat membuat sebuah karya bisa menjadi tidak menarik. Misalnya, sebuah karya bicara tentang perkawinan LGBT. Kalau tema itu hanya dibahas secara umum, tentu akan jadi tidak menarik. Tapi bila karya tersebut dibawa masuk lebih dalam membahas sesuatu yang lebih spesifik misalnya tentang apakah pasangan LGBT tersebut harus punya anak atau tidak, dan bagaimana perkembangan psikologis anak tersebut memiliki dua ayah atau dua ibu, pasti akan lebih menarik. Atau misalnya, seniman ingin bicara tentang polusi udara dan membuat lukisan pabrik dengan asap-asap yang membubung, tentu jadinya terlalu umum. Tapi seandainya dia meletakkan selembar kertas di dalam cerobong asap selama 30 hari untuk melihat perkembangan polutan yang mengotori udara, tentu nada pesan lebih mendalam. Bagi saya, karya yang baik adalah yang bisa melakukan penajaman tema dan menjadikannya lebih relevan. 

Berbagai dialog dengan para kolektor seni lain dan seniman juga membantu saya untuk menjabarkan pemikiran-pemikiran baru seputar dunia seni. Biasanya berdiskusi mengenai apa itu seni, bagaimana cara mengoleksi, apa pentingnya koleksi dan sebagainya.. Sementara kalau dengan seniman, saya biasanya berdiskusi tentang karya-karya dan progres karier mereka. Latar belakang saya yang memang bukan dari seni rupa tapi bisnis, sehingga saya jadi banyak memahami hal-hal seputar perencanaan, penyusunan strategi marketing, pengorganisasian. Ini juga sebenarnya topik yang banyak didiskusikan karena saya bisa melihat seni rupa secara lebih netral. Saya telah mendatangi banyak art fair di Asia baik yang besar maupun yang tak terlalu tertangkap radar seni rupa. Dari sana saya mengambil banyak sekali ide tentang bagaimana tampilan bentuk exhibisi seni di Indonesia bisa dikembangkan secara maksimal dan itu yang sedang saya coba lakukan melalui Art Jakarta.

Sebagai Fair Director, saya berharap melalui Art Jakarta, sebuah eksibisi seni tahunan di Jakarta yang akan digelar tanggal 30 Agustus hingga 1 September nanti bisa menularkan sebuah kesadaran bahwa seni adalah bagian dari keseharian kehidupan Jakarta. Saat ini, seni terasa sekali masih menjadi sesuatu yang berjarak dan hanya sebagian saja warga Jakarta yang melihat seni sebagai sebuah hal yang dekat, sementara sisanya menganggap seni sebagai sesuatu yang jauh dan berjarak. Padahal seni itu berkaitan erat dengan hidup itu sendiri. Berangkat dari kesadaran dan keinginan itu, saya mencoba membawa Art Jakarta pada sebuah nuansa yang lebih relaks dan akrab. Membuat siapa pun tak lagi gentar mengunjunginya.

Related Articles

Card image
Self
Perubahan Berasal dari Dalam

Jika diminta untuk mendefinisikan gaya hidup mindful, saya tidak bisa mengungkapkan secara singkat. Nyatanya, gaya hidup mindful tidak hanya berarti kita harus mengikuti arus – hidup di masa kini. Tidak hanya melakukan apa yang kita percaya karena orang lain berkata demikian.

By Ivana Atmojo
24 August 2019
Card image
Self
Menata Hidup Dari Rumah

Menurut sebagian orang, menata rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin iya, ada benarnya. Menata rumah memang kadang terasa melelahkan dan memakan waktu. Tapi, justru dari kegiatan menata rumahlah saya mendapat ketenangan dan mindfulness meski tinggal di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

By Astri Puji Lestari
24 August 2019
Card image
Self
Menelisik Benak (Mantan) Teroris

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang diciptakan untuk menjadi orang jahat. Pun seorang teroris. Tidak ada yang terlahir dibalut dengan bendera ISIS. Namun berkembangnya manusia identitas kita bisa berlipat ganda. Layaknya perubahan wujud zat air, manusia bisa berubah karena lingkungan, situasi atau kondisi tertentu. 

By Noor Huda Ismail
17 August 2019