Self Lifehacks

Seni Mengatur Waktu

Happy Salma

@happysalma

Produser, Aktris, dan Pengusaha Kreatif

Banyak hal dalam hidup kita yang tidak dapat kita atur. Jadi jika ada, mengapa tidak kita atur sebaik mungkin? Itu yang saya pikir setiap kali berusaha mengatur jadwal saya. Berada di tengah lalu lintas kegiatan yang cukup padat tentu tidak mudah. Selain menjadi ibu dan istri, tahun ini saya juga membuka tiga toko ritel untuk brand saya Tulola Jewelry di Jakarta. Lalu Titimangsa Foundation yang saya kelola juga sedang mempersiapkan pertunjukan pada akhir November ini di mana saya berperan sebagai produser, dan ditambah lagi dengan persiapan bermain film lainnya.

Tidak hanya disibukan dengan pekerjaan saja. Setelah saya menikah, saya pindah ke Bali mengikuti suami. Bersama keluarga di sini, sudah pasti kami punya acara dan kegiatan adat yang harus dilakoni. Awalnya untuk saya tentu saja berat. Karena seumur hidup, saya tidak pernah berdekatan dengan situasi semacam itu. Tetapi di Bali, kegiatan adat sudah menjadi bagian dari kehidupan. Hal itu membuat saya berefleksi. Sejak lama saya selalu bicara tentang keinginan besar melestarikan budaya. Lalu saya mengerti, apa yang dilakukan oleh suami saya dan keluarganya adalah langkah konkret untuk merawat dan menghidupkan budaya.

Banyak hal dalam hidup kita yang tidak dapat kita atur. Jadi, jika ada mengapa tidak kita atur sebaik mungkin?

Keluarga suami saya memang punya tanggung jawab terhadap adat, untuk saya itu menjadi tantangan tersendiri. Terutama dalam mengatur waktu saya antara pekerjaan dan peran dalam keluarga. Tapi saya berkomitmen untuk melakukannya dengan ikhlas dan senang hati. Untuk itu, saya butuh cara untuk mengatur semua kegiatan dengan baik agar tidak ada yang bertabrakan.

Sebenarnya, berada di Bali sangat membantu saya untuk memiliki pola pengaturan waktu yang lebih baik. Pertama, saya jauh dari riuhnya Jakarta. Saya berjarak dengan situasi yang serba cepat. Sekarang saya punya banyak ruang untuk mengevaluasi diri dan berpikir ulang tentang cara saya berkegiatan. Di Jakarta, kegiatan saya sering bertumpuk karena semuanya serasa ingin saya ambil. Mungkin karena saya adalah orang yang selalu punya banyak energi. Tetapi ketika saya di Bali, semuanya seperti terarah. Karena jarak yang ada membuat saya mampu menilai segala sesuatu lebih jelas.

Berjarak dari riuhnya Jakarta membuat saya mampu menilai segala sesuatu lebih jelas dan memiliki pola pengaturan waktu yang lebih baik.

Ada peran penting keluarga yang saya temukan dalam proses pengaturan kegiatan saya. Semua ini hanya bisa terjadi karena sistem dukungan yang sangat baik. Menurut saya, kuncinya ada di keluarga. Saya bersyukur mendapatkan suami yang suportif , mertua yang selalu bisa jadi tempat berbagi, saudara, kakak, adik dan asisten rumah tangga yang bisa diandalkan ketika saya harus jauh dari anak-anak.

Selain itu juga saya punya tim yang mumpuni. Mereka membuat saya berani untuk membuat terobosan-terobosan baru. Seperti menyelenggarakan acara, membuka toko, membuat pertunjukan atau film. Semua terjadi karena saya punya tim yang bagus. Tim yang saya punya adalah para pendukung saya dalam berkegiatan. Mereka membuat semuanya mungkin untuk dikontrol dari jarak jauh.

Peran keluarga sangat penting dalam proses pengaturan kegiatan saya. Kuncinya adalah keluarga.

Karena saya tinggal di Bali dan kegiatan saya masih banyak berpusat di Jakarta, hal terpenting kedua adalah perencanaan. Syuting dan pertunjukan adalah dua kegiatan yang perencanaannya sangat jelas sehingga pas untuk saya. Rencana untuk Tulola hingga akhir tahun depan juga saya sudah punya. Sehingga meminimalisir situasi yang tumpang tindih. Walaupun di tengahnya tetap banyak kemungkinan perubahan, paling tidak kita punya gambaran besar. Saya juga terbuka, kok, untuk ruang dinamis itu. Sama seperti sifat dasar seni yang selalu menimbulkan banyak reaksi dan kejutan.

Perencanaan yang sudah dibuat itu memungkinkan saya untuk memadatkan pekerjaan ketika ada di Jakarta. Jadi sampai di Jakarta, saya hanya tinggal aksi. Saya cukup aktif bolak balik Jakarta. Kadang pulang pergi di hari yang sama atau mungkin dua kali sebulan untuk jumlah hari yang lebih panjang (semalam atau dua malam). Tapi semuanya sudah terencana. Bahkan sulit untuk saya melakukan hal-hal spontan di luar schedule.

Perencanaan ini dilakukan tentu saja demi memiliki hidup yang seimbang. Idealnya, saya ingin terus ada bersama dengan anak-anak. Tapi bagaimanapun, sulit pada prakteknya memiliki hidup yang ideal. Karena bagi saya, penting juga untuk tetap aktif dan kreatif. Ini juga contoh baik untuk anak-anak bahwa perempuan dan ibu juga punya pilihan dalam hidup. Tapi untungnya, saya dan suami mempunyai pekerjaan yang fleksibel. Artinya, kami sendiri yang mengatur jadwal kerja. Saya mengerti mungkin sulit untuk orang yang bekerja pagi hingga sore di kantor misalnya.

Sama seperti sifat dasar seni yang selalu menimbulkan reaksi dan kejutan, saya juga terbuka untuk ruang dinamis itu.

Menurut saya, beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengatur waktu adalah delegasi atau pembagian tugas. Kebetulan di tiap-tiap pekerjaan, saya yang membuat keputusan. Jadi untuk membuat semua kegiatan saya berjalan bersamaan dengan mulus, saya akan membagi pekerjaan pada orang-orang yang sudah dipercaya. Selain itu, kita juga harus tahu batas. Jika memang sudah terlalu banyak, sebaiknya berhenti terlebih dahulu kemudian atur ulang rencana.

Namun, pada akhirnya kita juga tidak bisa mengatur sepenuhnya. Ketika masalah muncul kita mungkin panik dan sedih. Tidak menyenangkan ketika sudah diatur sedemikian rupa ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Tapi untuk saya, semua pasti ada solusinya. Jadi tidak perlu dibuat ribet dengan reaksi yang meledak-ledak. Oke, pembagian waktu tidak sesuai harapan, lalu adakah cara lain yang bisa dilakukan? Jika saat ini tidak ada jalan keluar, ya mungkin lain kali. Yang penting, kita sudah berusaha maksimal.

Kita perlu tenang untuk bisa mengatur waktu dengan baik dan bekerja fokus. Banyak orang melarikan diri ke hal lain seperti keluarga atau liburan untuk menenangkan diri dari stres. Menurut saya, keluarga itu bukan properti. Jika sedang ribet atau marah, saya tidak mau melarikan diri ke anak-anak misalnya. Saya harus bisa menurunkan tensi ini sendiri tanpa menjadikan siapapun alasan.

Kita perlu tenang untuk bisa mengatur waktu dengan baik dan bekerja fokus.

Dalam hidup pasti ada terang dan redup. Itu hal yang biasa. Kunci ketenangannya ada pada diri kita sendiri. Saya sudah cukup senang karena bisa tetap aktif dan kreatif dalam kegiatan-kegiatan saya. Di samping itu, tetap punya waktu yang berkualitas untuk anak-anak, suami, dan keluarga.

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Digital Minimalism

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari. Maka itu saya jadi digital minimalist. Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

By Marissa Anita
20 February 2021
Card image
Self
Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

By Dewi Lestari
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021