Self Love & Relationship

Sembuhkan Luka Hati

Kecintaanku terhadap musik sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. Saat itu aku pernah datang ke sebuah mall, di sana kebetulan sedang berlangsung sebuah pameran musik. Aku melihat seseorang sedang bermain piano, aku rasa itu adalah kali pertama aku jatuh cinta pada dunia ini. Pada tahap awal memulai karir musikku di Indonesia sebenarnya aku juga pernah mendapatkan keraguan dari banyak pihak.

Tumbuh besar di Australia menjadikanku lebih nyaman menggunakan Bahasa Inggris saat menceritakan diriku sendiri, hal ini sempat membuatku cukup takut saat masa awal transisi berkarir di Indonesia. Buat aku, aku tidak terlalu memikirkan bias bahwa aku dibesarkan di luar, jadi aku harus lebih baik dan sebagainya. Kalau dunia musik aku rasa aku sangat beruntung bisa bertemu dengan musisi lainnya serta mentor-mentor di Industri. Aku balajar lagi bagaimana perbedaannya produksi musik di dalam dan luar negeri. 

Ada beberapa pengalaman kurang mengenakkan saat aku kembali pulang ke Jakarta. Beberapa orang sangat meragukan keputusanku untuk menulis lagu dalam Bahasa Inggris. Bahkan, aku pernah punya pegalaman naik salah satu layanan transportasi online, pengendaranya berbicara cukup keras padaku untuk bilang bahwa tidak mungkin bisa sukses kalau membuat musik berbahasa Inggris di Indonesia. Tapi aku tetap percaya pada kemampuan yang aku miliki. Sebenarnya aku juga mengetahui bahwa kesulitanku untuk menulis lagu dalam Bahasa Indonesia merupakan limitasi bagi diriku sendiri. Tapi justru dari keterbatasan yang aku punya, aku memilih untuk lebih fokus pada apa yang aku miliki dan tekat untuk melakukan yang terbaik. Puji Tuhan sudah banyak musisi Indonesia yang bisa sukses dengan lagu berbahasa Inggris, beberapa lagu yang aku tulis juga mendapat penerimaan yang baik oleh para pendengar.

Dari keterbatasan yang aku punya, aku memilih untuk lebih fokus pada apa yang aku miliki dan tekat untuk melakukan yang terbaik.

Beberapa kali aku juga dipercaya untuk menulis lagu untuk penyanyi lain. Saat aku menulis untuk orang lain, aku selalu mencoba memosisikan diri aku sebagai mereka. Ketika memilih topik aku harus tahu orangnya, jadi aku ajak ngobrol dulu. Saat aku ingin menulis lagu tentang cerita patah hati seseorang, aku harus tahu dulu ceritanya dari perspektif individu yang mengalami. Karena setiap cerita orang akan berbeda-beda. Contohnya, alasan putus setiap pasangan tentu berbeda-beda, di laguku ada yang putus karena alasan hubungan yang toxic ada juga yang menyerah LDR. Jadi aku mencoba menempatkan diri aku dari sudut pandang sang penyanyi.

Salah satu tantangan paling besar bagi musisi adalah bagaimana kita bisa mengemas ide yang kita punya menjadi sesuatu yang mudah dicerna. Ketika mempersiapkan EP perdana aku juga memiliki kegelisahan yang sama. Dalam EP "The Melting Love", aku menjelaskan penggambaranku akan cinta anak muda dengan analogi es krim. Aku merasa es krim adalah salah satu yang paling pas untuk di santap di Indonesia yang cukup panas, rasanya manis dan lembut, tapi kalau terlalu panas es krimnya akan meleleh dan justru menjadi lengket dan tidak nyaman. Dari situ aku ingin menceritakan kisah cinta yang berakhir tidak nyaman karena hubungan yang terlalu berlebihan. 

Dalam lagu "Detox" yang juga tergabung dalam EP perdana ini aku mengangkat cerita seorang teman yang pernah mengalami kekerasan fisik dan verbal saat menjalin hubungan romantis. Hingga dia mulai menyalahkan dirinya sendiri dan depresi karena hubungan yang tidak sehat. Saat terjebak dalam hubungan yang toxic, kadang mereka belum sadar bahwa hal tersebut tidak baik. Aku adalah orang yang mendukung penuh konseling psikologi. Menurutku meskipun dianggap “cuma pacaran” tapi kalau dampaknya besar hingga kalian stres hingga menyalahkan diri sendiri, susah tidur, pusing, menurutku itu sudah tanda bahaya dan kalian bisa coba untuk konsultasi ke profesional. Kalau takut untuk konseling mungkin bisa mulai dari teman terdekat, tapi aku sangat-sangat menyarankan untuk konseling.

Aku adalah orang yang mendukung penuh konseling psikologi. Menurutku meskipun dianggap “cuman pacaran” tapi kalau dampaknya besar hingga kalian stress hingga menyalahkan diri sendiri, susah tidur, pusing, menurutku itu sudah tanda bahaya dan kalian bisa coba untuk konsultasi ke profesional.

Buat aku The Melting Love ini lebih seperti sebuah cerita cinta yang berawal bahagia tapi bisa saja berakhir dengan relatif buruk. Bukan berarti semuanya akan berakhir buruk, tapi memang banyak kejadian yang berakhir dengan patah hati, tapi itu kan memang bagian dari hidup. Dalam kisah cinta anak muda, ini  memang perjalanan yang harus dilewati yakni merasakan patah hati, tapi itu akan membuat kita jadi lebih tangguh. The Melting Love adalah niat kita untuk bertumbuh dari hati yang terluka.

Sebuah cerita cinta yang berawal bahagia, bisa saja berakhir dengan relatif buruk. Bukan berarti semuanya akan berakhir buruk, tapi memang banyak kejadian yang berakhir dengan patah hati, tapi itu kan memang bagian dari hidup.

 

Related Articles

Card image
Self
Untuk Apa Hidup: Satu Perjalanan

Sudahkah kita menggunakan sisa hari yang kita punya dengan baik dalam satu perjalanan ini? Seberapa pun sisa hari yang kita miliki, adalah kesempatan untuk menjelajahi kehidupan ini.

By Joshua Budiman
18 June 2022
Card image
Self
Menghadapi Takut

Selamat datang di dunia kesunyian. Ini adalah sebuah kalimat yang biasa aku sebut untuk menggambarkan pengalaman perjalananku ketika masuk ke alam bawah laut. Ketika kita diving atau free diving, memang nggak ada suara apa pun. Kita hanya bisa mendengarkan suara gelembung napas kita.

By Della Dartyan
18 June 2022
Card image
Self
Belajar Mengendalikan Ekspektasi

Kadang kala kita bisa punya ekspektasi melebihi kemampuan yang kita punya, tapi aku belajar untuk mengendalikan ekspektasi di dalam kepalaku. Aku selalu berusaha untuk tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Saat aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya aku pun sadar bahwa hal itu sulit untuk dicapai, aku akan menurunkan ekspektasi.

By Sorenza Nuryanti
18 June 2022