Self Lifehacks

Pilihlah untuk Selalu (Meng)Hidup(kan)

Benny Prawira Siauw

@bennysiauw

Pakar Bunuh Diri

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Tetapi sahabat terbaik manusia pun dirinya sendiri. Semua hal pada akhirnya akan berbalik kembali ke diri kita sendiri. Pikiran adalah faktor utama dalam menentukan apakah kita sedang menjadi musuh atau sahabat diri sendiri. Ingatlah bahwa hidup itu selalu ada naik dan turun dan itu normal. Tapi kadang ketika sedang berada di bawah kita lupa untuk meminta bantuan padahal meminta bantuan orang lain adalah hak dan kewajiban untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Kita tidak bisa memilih hidup kita akan sepahit apa dan tidak bisa mengatur hidup untuk selalu berada di atas. Namun kita punya kekuatan untuk membentuk masa depan kita seperti apa. Salah satu caranya adalah dengan meminta bantuan profesional sesaat merasa tak lagi ada harapan untuk masa depan yang cerah.

Memang bertandang ke klinik psikologi masih menjadi hal yang tabu bagi kebanyakan orang Indonesia. Ada saja yang akan bilang, “memang kamu sakit jiwa sampai harus konsultasi dengan psikolog?”, jika mereka tahu. Pertimbangan lainnya adalah soal keuangan. Sebagian orang berpikir hanya buang uang saja pergi ke psikolog atau psikiater. Tapi coba pikirkan bahwa berkonsultasi dengan para profesional itu sebagai bagian dari self care. Pikirkan bahwa kita berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik dengan kondisi mental yang lebih stabil sehingga akan lebih produktif dalam beraktivitas.

Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Tetapi sahabat terbaik manusia pun dirinya sendiri.

Pada dasarnya setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda dalam merasakan sesuatu masalah. Biasanya orang-orang yang telah melalui begitu banyak masalah sedari kecil telah menumpuk tekanan-tekanan dalam dirinya. Dan jika tidak segera ditindak-lanjuti dampak negatif yang mungkin terjadi adalah pemikiran bunuh diri. Sejauh saya menjalankan komunitas untuk melancarkan pencegahan bunuh diri, Into The Light, saya menemukan bahwa kebanyakan orang yang mengalami depresi adalah orang-orang yang memiliki masalah psiko sosial. Ini tentang bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, bagaimana orang lain memperlakukan kita. Banyak dari mereka yang rentan dalam sebuah lingkungan di mana terdapat peer pressure atau tekanan sosial. Lebih mengejutkannya lagi adalah keluhan yang dilontarkan oleh mereka tidak lain seputar keluarga —yang sering dianggap sebagai tempat paling aman. Bahkan ditemukan bahwa tinggal bersama orang tua dapat meningkatkan risiko bunuh diri, lho.

Adanya kesenjangan generasi di keluarga bisa menjadi salah satu penyebab kehadiran risiko tersebut. Contohnya sewaktu anak-anak remaja yang sudah menyadari mereka memiliki masalah pada kondisi mentalnya, orang tua justru tidak mendukung dan justru berpikir kalau itu hanya salah satu cara mereka mencari perhatian. Lebih ironisnya lagi adalah mereka dianggap kurang iman dan harus berpikir positif. Di kala remaja mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengikuti keputusan orang tuanya, kan? Erosi mental pun semakin sering terjadi.

Setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda dalam merasakan sesuatu masalah.

Sejatinya berkonsultasi dengan profesional harus dilakukan sejak dini. Tidak hanya melulu tentang kepintaran, tentang psikotes untuk masuk ke sekolah favorit. Banyak orang tua meluputkan perhatian dengan tidak menanyakan kesehatan jiwa sang anak. Mereka hanya fokus pada prestasi tidak pada kebahagiaan anak. Padahal alasan hadirnya titel Psikolog Anak adalah untuk membantu orang tua meningkatkan kesehatan jiwa anak. Sesaat terdapat perilaku yang kurang sesuai pada perkembangan anak sebaiknya dikonsultasikan dengan profesional demi ternutrisinya mental anak dengan baik.

Hanya saja perlu dipahami bahwa pemikiran untuk bunuh diri tidak hanya berasal dari satu faktor tunggal saja. Tekanan yang menumpuk dalam waktu lama itulah yang dapat menggerus keyakinan diri sendiri untuk tetap hidup dan saat seluruh krisis bertemu dalam satu waktu, depresi pun meningkat. Kurangnya dukungan dari orang tua, kesepian karena tidak punya teman dekat, bullying, hingga kekerasan fisik dan seksual menjadi alasan para korban untuk menyerah pada dunia.

Terdapat sebuah kasus datang dari seseorang yang melakukan percobaan bunuh diri karena seringnya ditanya ‘kapan menikah’. Faktanya pertanyaan ini memiliki tekanan sangat kuat pada mental seseorang. Pernikahan dinilai sebagai suatu yang ideal di masyarakat. Jadi ketika dia tidak bisa mencapai itu dia merasa menjadi orang yang gagal. Apalagi bila pertanyaan tersebut terus-menerus dilontarkan. Label ‘orang gagal’ akhirnya semakin mendarah daging pada dirinya.

Tekanan yang menumpuk dalam waktu lama itulah yang dapat menggerus keyakinan diri sendiri

Jeleknya masyarakat kini adalah terjerumus pada stigma yang melekat. Sehingga pada saat ada seseorang yang mengekspresikan niatnya untuk bunuh diri mereka malah menjadikan bahan olokan. Terlebih pada pemikiran bahwa yang korban lakukan hanyalah cari perhatian, cuma fase, tidak serius atau menganggap hanya sekadar curhat toh orang tersebut sudah sering seperti itu tapi tidak pernah benar-benar bunuh diri. Padahal jika itu benar-benar terjadi, kita pasti menyesal telah meremehkan ‘peringatan’ yang sudah disinyalir.

Memang kita butuh lingkungan yang lebih peka. Lingkungan dengan pribadi-pribadi yang bisa lebih berhati-hati saat mengucapkan sesuatu pada orang lain karena setiap orang berbeda-beda dalam merasakan sakit. Hal yang tidak kita sengaja terucap ternyata bisa menjadi suatu pukulan keras bagi seseorang. Itulah mengapa Into The Light bertujuan untuk membudidayakan masyarakat agar dapat membantu mencegah percobaan bunuh diri.

Hal yang tidak kita sengaja terucap ternyata bisa menjadi suatu pukulan keras bagi seseorang.

Tidak sesulit itu kok untuk membantu individu yang mengarah pada percobaan bunuh diri. Kita hanya perlu mengetahui tanda-tandanya seperti perubahan sikap yang drastis. Sering menyendiri dan menarik diri dari lingkungan sosial bisa menjadi tanda-tandanya. Kemudian ungkapan-ungkapan tersirat seperti: “saya ingin tidak dilahirkan”, “saya berharap dapat tertidur dan tidak bangun lagi”, “ingin rasanya pergi jauh selama lamanya”, “saya tidak mau jadi beban orang lain”, atau “saya benci diri sendiri”. Apabila mendengar kata-kata tersebut mulainya bertanya ‘ada apa’.

Umumnya mereka tidak akan langsung terbuka namun jangan menghentikan usaha begitu saja. Lontarkan pernyataan, “Jika kamu butuh waktu tidak apa-apa tapi ingat ada orang yang mau mendengarkan, ya”. Yakinkan dia bahwa kamu benar-benar peduli sehingga dia bisa merasa “oh ternyata masih ada orang yang berempati pada saya”. Sesering mungkin temani dia, tanyakan langsung apakah dia sampai ada pikiran untuk bunuh diri. Jika memang ada, mintalah dia untuk tetap memilih hidup, menjauhi diri dari akses bahaya, dekatkan dengan sumber dukungannya. Bila tidak tahu siapa saja sumber dukungannya, minta dia mendaftar orang-orang tersebut.

Perlu diingat ketika seseorang berada pada krisis mental kita harus membuat energinya habis agar dia bisa lebih tenang dan berpikir jernih. Sesimpel mengajak bicara, apapun topiknya. Kemudian tanyakanlah seberapa lama dia bisa menahan rasa ingin bunuh diri lalu kalau terbukti dia bisa melewatinya berikan afirmasi yang membangun. Penting juga untuk dia tidak bergantung pada bantuan orang lain. Sesulit apapun itu, pilihlah untuk berada di sisi yang baik.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024