Self Health & Wellness

Pikiran Sehat Adalah Obat

Mendengar kata kanker kita seringkali mengaitkannya dengan kematian. Seolah hidup sudah pasti akan berakhir jika kita mengidap penyakit tersebut. Padahal kalau dipikirkan kembali, semua orang bisa meninggal kapan saja. Seseorang yang tidak menjalani kemoterapi juga bisa tiada. Ada yang masih sehat di pagi hari, masih pergi ke kantor, lalu siang hari meninggal karena sakit jantung. Ada juga yang sudah divonis kanker tapi ternyata masih diberikan kesempatan untuk sembuh dan menjalani kehidupannya lebih lama. Pada akhirnya, kita memang akan sampai di hari kematian itu. Tapi ketimbang dirundung rasa takut, buat saya yang juga pernah terserang kanker payudara, saya lebih memilih untuk menyesuaikan rasa takut tersebut, mencari tahu apa yang membuat saya takut, lalu apa solusinya. 

Ketimbang dirundung rasa takut, buat saya yang juga pernah terserang kanker payudara, saya lebih memilih untuk menyesuaikan rasa takut tersebut, mencari tahu apa yang membuat saya takut, lalu apa solusinya. 

Salah satu yang membuat saya takut akan kematian adalah meninggalkan Chelsea, anak perempuan saya satu-satunya. Masih banyak yang ingin saya lakukan dengannya dan melihatnya bertumbuh. Setelah mengetahui apa yang ditakuti, saya kemudian berpikir bahwa daripada terus-terusan memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi di masa depan, lebih baik saya memanfaatkan setiap detik yang masih bisa dijalani. Saya berupaya melakukan yang terbaik setiap harinya, sebab setiap momen sangatlah berharga. Ini semua mungkin tidak bisa saya pahami jika tidak pernah mengalami kanker. So much wisdom behind this illness

Terus terang dahulu saya memang kurang memerhatikan kesehatan payudara. Saya berpikir karena sudah punya anak dan melewati proses menyusui, maka tidak mungkin terserang kanker payudara. Hingga suatu hari saya mendengar ada salah satu teman yang mengidap kanker payudara. Barulah saya memutuskan untuk memeriksakan diri. Waktu itu, saya juga sempat merasakan ada yang ganjil di payudara sebelah kiri. Sehingga saya semakin terdorong untuk cepat-cepat berkonsultasi dengan ahlinya. Betul saja, saat diperiksa saya disarankan oleh dokter untuk melakukan biopsi di pertemuan berikutnya. Setelah banyak melakukan riset tentang biopsi dan kanker payudara, saya akhirnya setuju untuk melakukan biopsi. 

Lalu tibalah waktunya menyampaikan berita ini pada keluarga. Saya mengajak mereka berkumpul untuk makan bersama agar pesan tersebut bisa didengar di suasana yang tidak tegang. Saya tidak ingin mereka berpikir berlebihan dan khawatir yang mungkin bisa menciptakan energi negatif dalam proses menjalani pemeriksaan. Setelah memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, mereka sangat mendukung dan menyemangati saya. Bahkan saat hendak operasi, banyak sekali yang mengantar dan menemani di rumah sakit. Kemudian seusai biopsi, hasilnya menunjukkan bahwa jaringan sel-sel yang ada di payudara saya abnormal sehingga saya dianjurkan melakukan mastektomi (operasi pengangkatan payudara). Saya bersyukur sekali setelah operasi tidak ada rasa sakit sama sekali. Meskipun saya dianjurkan untuk tetap melakukan kemoterapi agar sel-sel kanker yang ada di tubuh dapat dibersihkan secara menyeluruh. 

Bersyukur sekali selama proses kemoterapi saya tidak pernah sendirian. Saya selalu ditemani orang-orang terdekat dan teman-teman. Mereka adalah hadiah yang luar biasa dan obat untuk kesembuhan saya. Namun, menurut saya yang terpenting ketika menjalani kemoterapi adalah pola pikir yang positif. Inilah kunci kesembuhan yang utama. Saya percaya setiap pasien kanker payudara pasti punya pengalaman yang berbeda-beda. Jadi saya berusaha untuk tidak terpengaruh dengan berbagai kisah orang-orang yang merasa kemo adalah mimpi buruk. Untungnya, sebelum menderita kanker saya pernah mengikuti berbagai kelas self-healing dan hipnoterapi. Sehingga saya bisa praktik di kala menjalani perawatan. Di setiap sesi kemo, saya bilang pada diri sendiri bahwa kemo adalah cocktail party. Jadi seperti di cocktail party, kalau minum alkohol agak banyak kita bisa mabuk bahkan bisa muntah. Begitu pula kemoterapi. Lalu, saya juga membangun suasana hati yang gembira dengan memakai pakaian yang berwarna, aksesori. Jadi tidak membuat sesi kemo terasa menegangkan dan menakutkan. 

Namun menurut saya yang terpenting ketika menjalani kemoterapi adalah pola pikir yang positif. Inilah kunci kesembuhan yang utama.

Our mind is the biggest asset. Terutama untuk para pasien kanker payudara. Seberapa pun besarnya dukungan orang lain, hanya kita yang bisa menciptakan pikiran yang sehat. Jika mengidap kanker payudara, kita harus bisa berdialog dengan diri sendiri, memberikan energi positif dengan melakukan kegiatan-kegiatan kreatif yang dapat membuat tubuh tidak lesu. Jangan sabotase pikiran dengan ketakutan. Kemudian kita juga harus tanya pada diri sendiri, apakah mau sembuh atau tidak. Kalau memang ingin sembuh, kita butuh alasan kuat yang menjadi motivasi kesembuhan. Buat saya, Chelsea adalah motivasi terbesar, selain saya juga masih ingin bisa menjadi instrumen di dunia ini untuk berbagi kebaikan. Akhirnya saya bisa berjuang melewati kemoterapi karena pola pikir tersebut. 

Dari kanker saya belajar banyak tentang kesabaran dan penerimaan. Saya berdamai dengan kanker karena memang itu di luar kendali saya. I let go and let God. Saya mencoba berpikir secara sederhana, “Ini bisa terjadi pada siapa saja. Kebetulan saya adalah salah satunya”. Saya belajar untuk melepaskan apa yang terjadi di masa lalu, berdamai dengannya, serta memaafkan diri sendiri dan orang lain supaya bisa menjalani masa depan lebih tenang. Pengalaman ini juga mengantarkan saya untuk berkontribusi dalam organisasi nirlaba, Lovepink, yang memiliki misi untuk memberikan edukasi dan dukungan moral pada pasien kanker payudara. Besar harapan saya dengan hadirnya Lovepink yang merupakan support group dan komunitas perempuan dengan kanker payudara dapat memberikan support pada para pasien dan membantu meningkatkan kesadaran kita semua tentang kanker payudara sehingga kita bisa melakukan pencegahan sedini mungkin. 

 Dari kanker saya belajar banyak tentang kesabaran dan penerimaan. Saya berdamai dengan kanker karena memang itu di luar kendali saya.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020