Self Lifehacks

Perjalanan Berhijab

Setiap orang punya perjalanan hidupnya masing-masing. Memiliki proses yang berbeda-beda ketika sedang menempuh sesuatu. Tidak ada anak yang berusia satu tahun tiba-tiba bisa lompat ke usia lima tahun. Prosesnya pun harus dijalani dengan kehendak sendiri, tidak bisa dipaksa. Salah-salah kalau dipaksa takutnya tidak siap dengan apa yang diputuskan. Sama halnya dengan berhijab. Kalau ingin mengikuti ajaran Islam memang dinyatakan bahwa perempuan harus menutup auratnya. Hanya wajah dan telapak tangan saja yang boleh terlihat. Dalam hal ini hijab syar’i memang menjadi model yang paling tepat secara Islam. Namun saya percaya setiap orang perlu proses untuk bisa sepenuhnya berkomitmen untuk sampai tahap tersebut.

Saya bukan berasal dari keluarga yang didominasi dengan perempuan berhijab sejak kecil. Mama saya baru berhijab sembilan tahun lalu. Alhamdulillah bagi mereka yang dari lahir sudah tertutup dan semuanya sudah sesuai dengan syariat Islam. Mungkin ada juga mereka yang ketika berhijab lalu langsung tertutup semua. Tapi saya belum sampai di sana. Hijab yang saya kenakan belum syar’i. Saya tidak bilang apa yang saya percaya ini benar. Tapi saya percaya apa yang saya lakukan sekarang ini tepat untuk saya pribadi. Saya tidak mau ketika memutuskan untuk langsung berhijab syar’i lalu suatu saat ternyata belum siap. Di awal mulai memakai hijab saja terdapat berbagai pergulatan batin dengan kecintaan saya pada pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk mengenakan hijab. Saya telah menjadi presenter selama 12 tahun. Dulu saat masih aktif dalam pekerjaan namun sudah mulai mengenakan hijab, sesekali masih ada sisi manusia saya yang melonggarkan diri untuk melepas. Hingga suatu saat ada berbagai kejadian yang membuat saya yakin untuk berkomitmen mengenakan hijab. 

Saya tidak mau ketika memutuskan untuk langsung berhijab syar’i lalu suatu saat ternyata belum siap.

Orangtua dan keluarga saya tinggal di California, Amerika Serikat. Meskipun mereka tinggal di area dengan percampuran budaya yang kental namun rasisme tetap masih ada. Setelah Donald Trump menjadi presiden ada sedikit kekhawatiran terhadap mama yang berhijab di sana. Saya bilang pada beliau, “Ma, lepas saja deh hijabnya. Tuhan juga tahu kok kalau umat-Nya beriman. Yang penting Mama aman.” Lalu beliau menjawab, “Kak, kita mau ada di mana pun kalau memang sudah waktunya kita meninggal, kita akan meninggal. Hijab adalah bagian dari diri mama. Mama tidak akan melepas hanya karena isu rasisme.” Perkataan Mama itu kemudian jadi turning point saya. Mama bisa sebegitunya mempertahankan hijab meski sebenarnya beliau sudah melalui berbagai pengalaman kurang menyenangkan karenanya.

Pernah suatu kali kami sekeluarga pergi ke salah satu area yang didominasi dengan komunitas orang kulit putih. Saat sedang antre masuk ke dalam restoran ada satu pasangan yang melihat mamaku lekat-lekat. Terasa sekali mereka sedang memperhatikan dan membicarakan mama. Sampai adik saya menegur dan akhirnya mereka pergi. Sedangkan mama saya hanya tersenyum saja. Bukan sekali saja kejadian serupa terjadi. Bahkan ada yang mengikuti karena mungkin berpikiran negatif pada mama. Menanggapi hal semacam ini sebenarnya kita tidak bisa juga menyalahkan mereka. Dari media massa terpapar identitas teroris yang beragama Islam. Walaupun mereka tidak menjalankan praktik agama tapi tetap saja yang mereka tahu teroris itu lekat dengan agama Islam. Mama saya juga paham kalau semakin dilawan malah mungkin akan membuktikan pemikiran jelek tentang umat Muslim. Jadi beliau tidak mau justru memberikan mereka alasan untuk meragukan keberadaannya. 

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya jadi mempelajari Islam lebih dalam. Saya melihat betapa banyak orang-orang Indonesia dengan mayoritas Islam masih sering mendiskriminasi non-Muslim. Padahal umat Muslim yang merantau di negara-negara barat adalah minoritas dan merasakan diskriminasi tersebut. Isu-isu keagamaan bisa terjadi karena banyak orang yang menggunakan agama sebagai senjata melawan orang lain. Padahal saya yakin tidak ada agama yang mengajarkan hal tersebut. Malah sebaliknya setiap agama pasti mengajarkan kebaikan. Dari pengalaman dan pendalaman agama juga kemanusiaan, saya kemudian ingin lebih mengimani Islam bukan hanya karena keinginan menjadi pribadi yang lebih baik tapi juga keinginan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Bahwa seseorang yang mengenakan hijab bukan berarti ia lebih baik dari orang lain. Bukan berarti ia seorang Muslim yang lebih baik. Kita tidak bisa menghakimi orang lain hanya melihat penampilan luarnya saja. 

Seseorang yang mengenakan hijab bukan berarti ia lebih baik dari orang lain. Bukan berarti ia seorang Muslim yang lebih baik. Kita tidak bisa menghakimi orang lain hanya melihat penampilan luarnya saja. 

Saya percaya kalau kita berpikir positif kita akan mendapat hal positif. Kalau kita berbuat baik, kebaikan akan datang. Memang mama saya sering mengalami kejadian kurang menyenangkan. Namun ada juga pengalaman sebaliknya. Tiga tahun lalu, pernah mama saya sedang membeli buah lalu datanglah seorang bule mendekati dan bilang, “Jangan takut untuk berhijab meskipun kita punya presiden yang rasis. Ada banyak orang yang akan melindungi. God bless you, ma’am."

Rasisme dan diskriminasi terjadi di berbagai belahan dunia. Tapi saya percaya akan nilai kemanusiaan. Ini yang saya ingin sampaikan di berbagai platform atau media yang saya punya. Entah itu media sosial atau label fashion hijab yang sedang digeluti. Saya ingin bilang bahwa keluarga saya yang muslim tinggal di Amerika Serikat dan menjadi minoritas. Jangan di sini kita diskriminasi orang lain karena kita mayoritas karena di negara lain mungkin saja kita yang mengalami itu.

Berhijab merupakan sebuah kewajiban di agama Islam. Tapi saya merasa identitas kita harusnya tidak terletak di pakaian yang dikenakan tapi di diri sendiri. Keyakinan adalah soal kita pribadi dengan Tuhan. Tidak berarti orang yang tidak berhijab akan masuk neraka dan saya yang berhijab akan masuk surga. Berhijab buat saya adalah tentang saya dan Sang Pencipta. Sebagai penghubung saya dengan-Nya. Kalau hijab dianggap sebagai identifikasi diri seseorang akhirnya hanya akan membuatnya merasa menjadi lebih baik dari orang lain. 

Keyakinan adalah soal kita pribadi dengan Tuhan. Tidak berarti orang yang tidak berhijab akan masuk neraka dan saya yang berhijab akan masuk surga. Berhijab buat saya adalah tentang saya dan Sang Pencipta.


Selain itu, berhijab bagi saya juga sebagai cara untuk bersyukur atas segala yang diberikan Tuhan dalam hidup. Saya sungguh bersyukur atas orang tua yang membesarkan juga suami yang luar biasa sabar dan begitu menyayangi saya dan keluarga. Sehingga saya berpikir apa yang bisa dilakukan untuk mereka? Setelah memelajari hadits, Al-Quran juga berbagai kajian tentang pernikahan dan orang tua, saya mendapati terdapat kepercayaan bahwa kalau perempuan menggunakan hijab berarti ia memudahkan jalan orang tua dan suami nantinya masuk surga. Inilah yang dapat saya lakukan untuk Sang Pencipta, orangtua dan suami. Yang juga sebenarnya membantu anak-anak saya juga untuk memahami kepercayaan mereka. Mereka tinggal di Indonesia dengan segala macam isu keagamaan. Saya percaya fondasi untuk mereka memahami kepercayaannya berasal dari rumah. Dan harus dimulai dari saya sebagai orang tua. Kita tidak bisa cuma menyuruh mereka shalat tapi kita sebagai orang tua tidak melakukannya. Kalau ingin mereka mempraktikkan agama orang tua harus bisa mencontohkannya. Sehingga semakin kuatlah keyakinan saya berhijab. Insyaallah, dengan begini saya bisa lebih beriman dalam keadaan baik maupun kurang baik. Berkat dan cobaan yang diterima, saya syukuri. Meski sudah memakai hijab saya masih menjadi manusia yang terkadang emosional dan punya kekecewaan. Saya percaya kita manusia hanya bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa dan membiarkan Tuhan yang mengatur segalanya.

Saya percaya kita manusia hanya bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa dan membiarkan Tuhan yang mengatur segalanya.

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021