Self Health & Wellness

Penyangkalan Berujung Kesadaran

Yasha Chatab

@mryasha

Jurnalis & Pebisnis

“Kena Covid” di Indonesia ternyata bukan hanya soal kena virus dan jadi sakit. Ini virus yang “spesial” dan dibicarakan semua orang, tapi tidak ada yang ingin kena, dan banyak yang tidak ingin ketahuan kena. Saya pun yakin bahwa semua orang yang kena pun tidak ingin mati karenanya. Because it is truly deadly. Walau semua orang membicarakan Covid, kebanyakan orang tidak tahu harus berbuat apa saat benar kena. Benar positif. Termasuk saya. 

Sebelum masuk ke pengalaman saat dirawat, yang mau saya bagikan adalah tentang DENIAL (penyangkalan -red.) yang saya alami di saat mulai ada gejala awal: tenggorokan gatal dan demam. “Nggak mungkin lah kena”, “Kan saya imunitas nya bagus. Pelari gitu loh”, “Palingan hanya flu”, “Rapid Test aja lah, palingan juga negatif.”

Narasi DENIAL tersebut pun terjustifikasi saat saya datang ke sebuah rumah sakit di hari ke-3 demam dan melakukan cek lab dan Rapid Test. Hasilnya Negatif. Confusing yet relieving. Lega bahwa tidak terbukti kena Covid, walau semua gejala masih mengarah ke sana. Panas tubuh di atas 37 derajat, dan di malam hari bisa mendekati 39. Ini terjadi setiap hari. Dua hari kemudian akhirnya testPCR, sekaligus ke radiologi untuk foto X-Ray thorax alias dada atau paru. Tidak tahu kenapa hasilnya baru didapatkan 3 hari kemudian…. dan POSITIF.

ANGRY. Kenapa bisa kena. Marah kepada diri sendiri. Marah kepada orang sekitar. Marah kepada “yang di luar sana” yang selalu ngomong “New Normal” ini itu. Tidak ada yang normal jika bicara tentang sakit. 

CT value yang tertera dalam dokumen tersebut adalah 15. Saya baru tahu belakangan bahwa saat angka CT Value itu rendah, maka itu sebuah tanda bahaya yang seharusnya membuat panik. Artinya adalah virus load di tubuh itu tinggi. Virus itu berhasil mereplikasi diri begitu banyak dan juga telah berkeliaran di seluruh sistem pernapasan. Tapi karena saat itu belum paham, jadi masih mencoba tenang. Mencoba untuk berdamai dengan kondisi tersebut walau kondisi sebenarnya adalah sedang terjadi peperangan di dalam tubuh. Pengabaian saya terhadap kondisi tersebut membuat saya mencoba “bargaining” (tawar menwar -red.) dengan diri sendiri. Bahwa tidak perlu ke RS. Hanya perlu isoman aja. Turned out… Ora Iso, Man!

Oxymeter mulai dipakai dan sensor menunjukkan saturasi di 94% dan terus menurun. Suara pun terdengar semakin nge-bass. Demam selama seminggu lebih juga memicu sakit kepala yang amat sangat sehingga ntidak bisa berpikir ataupun browsing informasi. Mata terasa kabur. Banyak teman merekomendasi suplemen ini -tu, mengirim link, dan lain-lain. Tapi kondisi tidak lagi memungkinkan untuk lihat handphone  terlalu lama, apalagi melakukan online shopping

Stres berat. Walau akhirnya di saat kritis dan mulai susah napas, saya berhasil dilarikan ke RS khusus Covid dan berhasil masuk rawat inap. Di hari-hari krusial saat antibodi saya sedang bertempur dengan virus, saya pun sempat bertanya, “Apakah saya akan meninggal?”. Saat didorong di kursi roda untuk masuk ke ruang UGD Covid, saya pikir saya tidak akan bisa keluar lagi. Apa yang akan terjadi pada keluarga saya? Orang-orang yang saya sayangi, teman-teman saya? Saat saya tidak ada lagi di dunia, apa yang akan mereka bilang tentang saya?

Saya berasumsi salah satu penyebab saya terserang adalah kondisi tubuh yang kurang bugar. Sebelum didiagnosa positif, saya sempat kurang tidur. Mungkin ini juga yang membuat gejala yang dialami cukup parah. Logikanya, kalau tubuh berfungsi dengan baik karena kualitas tidur cukup dan gaya hidup sehat, tubuh bisa mencegah virus masuk. Jadi, jika selama ini kita tidak pernah menaruh kesehatan dalam daftar prioritas hidup, sekarang adalah waktunya. Jaga pola hidup sehat termasuk tidur, makan dan olahraga. Jangan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang esensial. 

Kenapa? Karena ketika terserang, bukan hanya kita yang merasakan akibatnya tapi orang-orang di sekitar juga. Mereka yang tinggal dan sering berinteraksi bisa terpapar virus juga. Sekalipun mereka tidak terserang, mereka jadi harus bertanggung jawab mengurus kita. Harus berjaga-jaga dan membantu dalam berbagai kegiatan. Tidak hanya itu saja, biaya yang tidak murah juga harus kita tanggung. Saya beruntung memiliki asuransi yang bisa menanggung biaya rumah sakit seharga ratusan juta. Saya beruntung dulu masih bisa mendapatkan rumah sakit. Tidak semua orang punya privilese itu. Jika tahu tidak punya privilese tersebut, berarti kita harus menyadari untuk ekstra hati-hati jangan sampai terserang. 

Memang, penyakit ini bisa sembuh. Tapi juga bisa merenggut nyawa. Kalau bisa jangan sampai terserang. Apalagi di situasi seperti sekarang di mana rumah sakit kewalahan mengurus pasien, ruang rawat inap semakin terbatas, dan para tenaga kesehatan sudah kesulitan menangani melonjaknya jumlah pasien. Saya sempat memantau beberapa rumah sakit. Setiap kali melihat UGD, masih banyak pasien yang tidak bisa ditangani. Di parkiran rumah sakit bahkan banyak sekali mobil-mobil yang antre untuk mendaftarkan keluarga yang positif. Hampir semua lapisan usia, para lanjut usia dengan kondisi yang sudah sulit bernapas, datang bersama anak-anaknya menunggu di mobil karena kehabisan ruangan. Pemandangan itu begitu menyedihkan dan sudah pasti tidak ada seorang pun yang mau mengalami itu. 

Sekalipun sekarang masih ada ruangan yang tersedia, tapi tenaga kesehatan tampaknya tidak cukup untuk membantu perawatan pasien. Kini bukan lagi soal mendapatkan ruang rawat. Dalam perawatan hingga bisa dinyatakan pulang, terdapat berbagai peralatan yang harus dioperasikan para tenaga kesehatan. Masalahnya saat ini kita sudah benar-benar kekurangan sumber daya manusia untuk membantu melakukan perawatan tersebut. Jadi, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya menjaga diri agar jangan sampai terserang. Salah satunya adalah dengan vaksinasi. Namun kita pun masih harus tetap menurunkan mobilitas setelah mendapatkan vaksin sebab risiko terserang masih memungkinkan. 

Saya percaya masyarakat kita mungkin tidak akan tergerak atau benar-benar percaya jika hanya membaca data atau mendengar berita. Rasanya masyarakat harus melihat sendiri di lapangan seperti apa sehingga mereka bisa memposisikan diri dengan para pasien atau keluarga pasien. Dalam hitungan hari, kita bisa kehilangan orang-orang tercinta atau bahkan kehilangan nyawa kita sendiri. Menyadari betapa buruknya situasi saat ini, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tapi untuk kepentingan keluarga, bisa jadi langkah utama untuk benar-benar menjaga diri.

Related Articles

Card image
Self
Untuk Apa Hidup: Satu Perjalanan

Sudahkah kita menggunakan sisa hari yang kita punya dengan baik dalam satu perjalanan ini? Seberapa pun sisa hari yang kita miliki, adalah kesempatan untuk menjelajahi kehidupan ini.

By Joshua Budiman
18 June 2022
Card image
Self
Menghadapi Takut

Selamat datang di dunia kesunyian. Ini adalah sebuah kalimat yang biasa aku sebut untuk menggambarkan pengalaman perjalananku ketika masuk ke alam bawah laut. Ketika kita diving atau free diving, memang nggak ada suara apa pun. Kita hanya bisa mendengarkan suara gelembung napas kita.

By Della Dartyan
18 June 2022
Card image
Self
Belajar Mengendalikan Ekspektasi

Kadang kala kita bisa punya ekspektasi melebihi kemampuan yang kita punya, tapi aku belajar untuk mengendalikan ekspektasi di dalam kepalaku. Aku selalu berusaha untuk tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Saat aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya aku pun sadar bahwa hal itu sulit untuk dicapai, aku akan menurunkan ekspektasi.

By Sorenza Nuryanti
18 June 2022