Self Lifehacks

Pengendalian Diri Lewat Godaan

Hannah Al Rashid

@hannahalrashid

Aktris

Fotografi Oleh: Claudia Dian (Dokumentasi Hannah Al Rashid)

Kosa kata “godaan” memang tidak asing untuk disebutkan sehari-hari. Setiap hari berbagai macam cara dapat menggoda kita untuk terjerumus dalam hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. Maka tidak heran jika kata godaan ini sendiri seringkali dikaitkan pada dosa. Godaan berubah wujud menjadi dosa ketika kita terpancing godaan tersebut dan membuat kita kehilangan kendali. Baik konsumsi berlebihan, atau kelewat jatuh cinta yang membuat kita lepas kontrol.

Bayangkan jika tidak ada kosa kata itu di dalam kehidupan. Rasa-rasanya semua orang jadi tak kenal akan sebab-akibat apalagi konsekuensi akan perbuatannya. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kata godaan menjadi bersifat negatif dan sangat berkaitan erat dengan dosa. Tiap-tiap individu yang memahami arti kata godaan pada akhirnya tahu batas-batas yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan. Sehingga tidak sesuka hati melakukan apapun tanpa berpikir dampak yang mungkin dirasakan sendiri atau bahkan secara massal. Godaan pun menjadi sangat penting untuk hidup di tengah-tengah keseharian untuk meningkatkan kedisiplinan diri.

Tiap-tiap individu yang memahami arti kata godaan pada akhirnya tahu batas-batas yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan.

Sejatinya, godaan itu merupakan sebuah ujian. Ibaratkanlah diri kita seperti sedang mengerjakan ulangan layaknya di sekolah dahulu. Kita mengetahui materi-materi apa saja yang harus dipelajari kemudian diingat hingga akhirnya dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar. Namun tentu saja soal-soal ujian tersebut tidak semuanya mudah. Pasti ada yang sulit. Setelah itu jika kita dapat melewatinya pasti perasaan senang mengiringi, bukan? Begitupun dengan godaan. Kata ini ada di sepanjang hidup kita dengan tujuan untuk menantang kita menjadi manusia yang lebih kuat, yang lebih memahami arti hidup itu sendiri. Karena hidup sebenarnya hanya sekadar tentang keseimbangan dan godaan lahir untuk menjaga keseimbangan tersebut. Lulus atau tidaknya kita menjaga keseimbangan tersebut tergantung seberapa kuat diri untuk dapat mengatur hawa nafsu.

Godaan ada di sepanjang hidup dengan tujuan untuk menantang kita menjadi manusia yang lebih kuat dan lebih memahami arti hidup itu sendiri.

Bagi saya pribadi, ujian atau godaan terberat dalam keseharian adalah procrastination – menunda pekerjaan. Saya seringkali terjebak dalam kemalasan kemudian mencari berbagai macam alasan hanya untuk menghindari memulai sesuatu yang harusnya dikerjakan. Inilah juga dua sisi mata uang yang terdapat dalam diri saya. Di satu sisi saya memiliki sikap yang suka menunda pekerjaan, di sisi lain saya memiliki hasrat yang tinggi untuk selalu aktif dan sibuk. Namun baiknya adalah kedua sisi ini menjadi pendukung satu sama lain. Karena saya tahu bagaimana saya dapat menunda sebuah pekerjaan, cara saya mengendalikannya adalah dengan menyibukkan diri, terus aktif melakukan aktivitas. Cara ini mendorong saya untuk tidak terbuai dengan waktu luang agar saya tidak lagi mengucapkan nanti saja ah, gampang”.

Akan tetapi orang-orang di sekeliling saya – terutama keluarga terdekat – adalah pribadi-pribadi yang memiliki target tinggi untuk mencapai sesuatu. Saya beruntung untuk selalu dapat termotivasi oleh semangat mereka mengejar angan-angan tersebut. Mereka pun memiliki dan menularkan kedisiplinan yang tinggi pada diri. Dari melihat kehendak mereka yang besar itu pula saya memiliki aspirasi setiap harinya. Dengan membuat daftar pekerjaan apa saja yang harus dilakukan dalam satu hari, saya dapat lebih berada dalam jalur aktif tersebut dan menghindari perasaan ingin menunda.

Lain hal dengan godaan yang ada di tengah masyarakat kita. Godaan kecil hingga besar nampaknya sudah mendarah daging akibat adanya monolog: “Tidak apa, melanggar aturan itu wajar. Semua orang melakukannya”. Hal kecil adalah saat berkendara, misalnya. Kita seringkali mengabaikan peraturan lalu lintas dan tidak merasa bersalah. Melewati lampu lalu lintas ketika merah, melewati trotoar hingga tidak menggunakan helm saat berkendara motor telah membuat kita terbiasa berada dalam godaan. Lalu perasaan-perasaan yang bilang “Tidak ada salahnya, sesekali saja.” lama kelamaan menjadi perilaku sehari-hari. Hilang sudah moral bertanggung jawab.

Godaan kecil hingga besar nampaknya sudah mendarah daging akibat adanya monolog: “Tidak apa, melanggar aturan itu wajar. Semua orang melakukannya”. Lalu perasaan-perasaan yang bilang “Tidak ada salahnya, sesekali saja.” lama kelamaan menjadi perilaku sehari-hari. Hilang sudah moral bertanggung jawab.

Sama saja dengan ungkapan guilty pleasure yang berarti sebuah kesenangan atau kepuasaan yang berasal dari kesalahan. Guilty yang berarti perasaan bersalah sudah pasti menuntun pada sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Nah, jika sudah tahu dampaknya akan buruk mengapa tetap dilakukan meski akan memberikan kepuasaan atau kesenangan? Seharusnya kita paham betul bahwa hal-hal yang membawa kita untuk mengenyam kepuasaan dari sebuah kesalahan tersebut tidak akan berakhir baik.

Seharusnya kita paham betul bahwa hal-hal yang membawa kita untuk mengenyam kepuasaan dari sebuah kesalahan tersebut tidak akan berakhir baik.

Baiknya memang kita harus memiliki prinsip yang kuat untuk menghindari godaan. Mulai dari berdialog dengan diri sendiri. Memunculkan ungkapan seperti: “Tidak apa menunggu lama di deretan mobil belakang yang penting tidak melanggar peraturan lalu lintas”. Nantinya, pemikiran-pemikiran untuk berperilaku korup pun akan mulai berkurang. Kita akan lebih menghargai sistem yang sudah ditata sedemikian rupa. Sehingga rasa tanggung jawab pada diri sendiri yaitu dapat mengontrol hawa nafsu serta menghormati diri sendiri hidup dalam prinsip dan kedisiplinan tinggi akan berkembang baik. Pada akhirnya kita pun akan lulus ujian karena telah menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

Baiknya memang kita harus memiliki prinsip yang kuat untuk menghindari godaan. Nantinya, pemikiran-pemikiran untuk berperilaku korup pun akan mulai berkurang. Kita akan lebih menghargai sistem yang sudah ditata sedemikian rupa

Related Articles

Card image
Self
Monster Dalam Diri

Aku terlahir tanpa pilihan dan hidup terkurung di dalam kotak-kotak stigma sosial yang sudah diciptakan bertahun-tahun lamanya. Hal tersebut mengaburkan bayanganku tentang jati diri dan siapa diriku sebenarnya. Aku bahkan tumbuh dengan ajaran untuk menjadi pribadi yang lebih mementingkan pendapat orang lain dibandingkan dengan diriku sendiri.

By Evan Aditya
25 May 2019
Card image
Self
Menemukan Jati Diri Dalam Profesi Maskulin

Saat ini, orang awam menggunakan istilah ‘arsitek perempuan’ untuk mendeskripsikan pekerjaan saya. Istilah ini membuat saya tergelitik tidak nyaman. Profesi arsitek dianggap memiliki gender. Saya juga tidak pernah mendengar orang menyebut arsitek laki-laki.

By Gacanti Swastika
25 May 2019
Card image
Self
Hidup dalam Rayuan “Nama Besar”

Faktanya, perkembangan zaman yang tiap harinya memunculkan sesuatu nan baru menyematkan strategi pemasaran yang begitu manipulatif sehingga dapat mengubah cara pandang dan kepribadian kita. Salah satu perencanaan marketing yang tepat sasaran adalah dengan menganalisa perilaku pasar. Dalam proses ini terdapat begitu banyak rencana untuk dapat mempengaruhi pasar memandang inovasi tersebut.

By Greatmind
25 May 2019