Self Lifehacks

Pencarian Jati Diri

Pandemi memberikan kita begitu banyak pelajaran. Ia secara tidak langsung memberi kita waktu untuk memikirkan kembali apa yang terjadi dalam hidup, memberi sudut pandang yang berbeda soal banyak hal. Di awal mungkin kita panik dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi diri yang stabil. Kita berusaha untuk tetap merasa nyaman dengan segala hingar bingar yang ada di sekeliling. Padahal tidak selalu harus begitu. Sisi lain masa pandemi adalah memberikan kita kesempatan untuk memikirkan dari sudut pandang yang berbeda agar tidak selalu memaksa diri sendiri melebihi kemampuan. Inilah juga yang kurang lebih aku tuangkan di lagu “Okay”. Di dalamnya terdapat pesan yang menyatakan bahwa ketika menghadapi masa sulit, kita tidak selalu harus kuat. Kita bisa menenangkan diri tapi tidak perlu selalu harus merasa baik-baik saja.

Ketika menghadapi masa sulit, kita tidak selalu harus kuat. Kita bisa menenangkan diri tapi tidak perlu selalu harus merasa baik-baik saja.

Kita butuh melakukan hal-hal yang bisa membuat kita merasa lebih baik selama berada di ketidakpastian ini. Bagiku, terus melakukan kegiatan yang berdampak positif adalah jawabannya. Aku menyadari betul bahwa selama 12 tahun di dunia hiburan, aku melakukan berbagai bidang. Tapi akhirnya aku tidak akan jauh-jauh dari gitar dan musik. Aku belajar dari 2020 bahwa kita diberi kesempatan untuk menggali kemampuan dan apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Dari hal yang rumit sekali seperti mengemas album atau yang paling sederhana seperti membeli kura-kura darat dan koleksi ikan cupang. Hal-hal ini seperti impianku sejak lama dan aku melakukan sesuatu yang membuatku senang. Tanpa berpikir dua kali. I have nothing to lose because in this pandemic we have lost so many things anyway. Di pandemi ini, kita diberikan kesempatan untuk menyadari bahwa kita semua sama. Apapun profesinya, entah pengusaha, karyawan atau musisi, kita mengarungi hal yang sama. Secara serentak, seluruh dunia mengalami hal yang sama dan harus memulai dari nol. 

Aku belajar dari 2020 bahwa kita diberi kesempatan untuk menggali kemampuan dan apa yang sebenarnya ingin dilakukan.

Kita memang harus melanjutkan hidup tapi tidak berusaha untuk melupakan. Menurutku, melanjutkan hidup atau move on sebenarnya ada dua pemahaman. Pertama, move on bisa berarti membiarkan apa yang terjadi dan melanjutkan hidup. Move on juga bisa bermakna mengikhlaskan masa lalu kemudian kita tetap maju. Sejujurnya, aku tidak percaya pada konsep move on. Aku lebih percaya pada konsep moving forward. Konsep move on tidak menenangkan buatku. Sebelum pandemi terjadi, kita jadi bisa melihat keaslian teman-teman dan keluarga. Kita jadi lebih mengenal bagaimana ketika kita dekat dan jauh. Aku pernah mengalami berbagai kejadian yang aku coba lupakan. Tapi kemudian aku tidak merasa lebih baik dan sebaliknya punya rasa dendam. Akhirnya aku menyadari bahwa berusaha melupakan dan move on tidak menyelesaikan masalah. Kita jadi tidak bisa melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi.

Beberapa waktu lalu, aku mendapat pelajaran yang bagus sekali dari Mbak Endah Widiastuti (Endah N Rhesa —red). Menurutnya, pandemi ini mengajarkan tiga hal yaitu lebih mendengar, berbesar hati, dan pastinya untuk refleksi. Aku menyadari karena lahir menjadi generasi yang instan, kalau diterpa masalah seringkali ingin masalahnya cepat selesai. Sementara Mbak Endah yang hidup di generasi sebelumnya, berpikir bahwa situasi sulit harus dihadapi. Jika tidak bisa dibenahi, kita harus mencoba untuk merenungi alasan mengapa itu terjadi. Setelahnya, baru melangkah maju. Kalau kita bisa meninjau kembali permasalahan yang ada, mengetahui pro dan kontra masalah tersebut, barulah kita bisa mengikhlaskan. Jadi aku kurang percaya pada konsep move on di mana kita harus melupakan satu bagian hidup kita. Sesakit apapun kejadian yang menimpa, itulah yang membentuk diri kita. 

Sesakit apapun kejadian yang menimpa, itulah yang membentuk diri kita. 

Perenungan ini sejalan dengan proses pembuatan lagu “Okay” yang secara tidak langsung menjadi bagian pencarian jati diri. Kalau tidak ada lagi ini, rasanya tidak mungkin aku mengemas lagu lainnya yang terkumpul dalam album “Jennovine”. Di dalam prosesnya, aku menyadari di masa ini aku seperti mencari sebuah tema yang bisa aku ceritakan melalui sebuah lagu. Objektifnya bukan lagi tentang royalti tinggi tapi kebahagiaan dan kenyamanan. Tentu aku tidak menyesali lagu-lagu yang pernah aku buat. Tapi apakah aku bahagia dan nyaman dengan lagu-lagu sebelumnya? Mungkin tidak. Berbeda dengan lagu-lagu yang ada di album ini yang membuatku bahagia dan nyaman. Lagu-lagu tersebut membantuku menemukan sudut pandang untuk tahu siapa aku sebenarnya. 

Penamaan album “Jennovine” juga berkaitan erat dengan tema yang aku cari tersebut. Jennovine adalah nama gitar pertama yang punya banyak sekali makna untuk hidupku. Pertama kali berada di panggung, rekaman, hingga membawakan lagu di Youtube. Di saat-saat itu, aku merasa seperti berada di light bulb moment. Menemukan sesuatu yang baru. Jadi selama pembuatan album “Jennovine” aku merasa menemukan awal mula dari penemuan jati diri. Setiap hari, setiap detik, kita selalu berevolusi, berubah, dan akan terus mendapatkan informasi baru. Aku pun demikian. Terus berubah. Sebenarnya, aku termasuk seseorang yang sangat momentum, bisa memutuskan sesuatu dalam waktu singkat. Buktinya, selama membuat album ini aku menggunakan instingku untuk memutuskan mana yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Inilah aku yang sebenarnya. Setelah berkarya selama kurang lebih 12 tahun di industri ini, baru kali ini aku merasa mengulang kembali segalanya dan mulai dari nol. 

Setiap hari, setiap detik, kita selalu berevolusi, berubah, dan akan terus mendapatkan informasi baru.

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Digital Minimalism

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari. Maka itu saya jadi digital minimalist. Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

By Marissa Anita
20 February 2021
Card image
Self
Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

By Dewi Lestari
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021