Circle Lifehacks

Pemanjat Sosial yang Elegankah Kita?

Indah Ariani

@indahariani

Penulis

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Perkembangan gaya hidup, seringkali membuat kita tanpa sadar menjadi seorang “pemanjat sosial.” Tak ada yang melarang, sepanjang kita bisa memanjat dengan elegan.

Saya mendengar istilah “panjat sosial” saat tak sengaja menguping pembicaraan Meira, anak gadis saya dengan teman kuliahnya. Sang teman, sedang membicarakan seorang teman mereka yang menurutnya berubah dan terkesan ingin sekali berada di kelompok anak-anak populer di kampus.

Selama belasan tahun bekerja di majalah gaya hidup, tentu saja saya sangat akrab dengan aksi yang mereka sebut sebagai panjat sosial itu. Social climber. Begitu biasanya istilah bagi orang yang begitu keras berusaha untuk berada di jenjang sosial yang sebenarnya bukan jenjang sosialnya. Hanya saja, saya baru tahu kalau anak-anak milenial punya istilah yang lebih kekinian untuk menyebut social climber.

Sebagai jurnalis, saya dan teman-teman teramat terbiasa berada di tengah sosialita crème de la crème di pusat pusaran gaya hidup. Di tengah para sosialita dan “crazy rich people” di Jakarta, Surabaya, kota-kota lain di Indonesia bahkan regional dan dunia. Gemerlap gaya hidup adalah dunia yang harus kami masuki saban hari. Kami diharapkan bisa berpikir, melihat dan merasa seperti laiknya mereka. Tak mesti jadi sosialita juga, tapi setidaknya kami bisa menimbun jurang yang dalam terbentang antara dunia mereka dengan dunia nyata kami dengan sebanyak mungkin membaca dan mempelajari berbagai hal seputar gaya hidup. Sebagai jurnalis, kami harus pula menjadi generalis, orang yang secara general memahami sesuatu, dan bisa membincangkan hal itu bila diperlukan. Dari seorang yang generalis, biasanya seorang jurnalis bisa saja menjadi spesialis untuk bidang tertentu yang secara intensif menjadi bidang peliputannya.

Ojo gumunan, – istilah bahasa Jawa untuk kata “jangan norak!”, adalah mantra yang salalu saya bawa ke mana-mana selama jadi jurnalis gaya hidup. Kadang mantranya mujarab, kadangkala tak berdaya karena saya tak bisa menutupi kegumunan saya ketika melihat atau mengalami sesuatu yang terlalu spektakuler bagi saya seperti bertatap muka dan berbincang langsung dengan Rem Koolhas, seorang starchitect yang menjadi kurator untuk Venice Architecture Biennale 2014 di Giardini, salah satu lokasi utama penyelenggaraan biennale tertua di dunia itu, atau bertemu dengan cucu Vincent Van Gogh yang kini jadi ahli waris seniman luar biasa itu sambil berbincang dalam jamuan makan malam yang sangat akrab dengan bonus bebas berfoto di dalam museumnya.

Beruntung,  pertambahan jam terbang sebagai jurnalis, dan kesadaran untuk tetap berpijak pada kenyataan bahwa dunia gaya hidup hanyalah bagian dari jurnalistik di mana saya berada di dalamnya sebagai pengamat untungnya bisa menahan kaki saya twtap di bumi. Kendati berada di pusat pusaran gaya hidup, saya sejatinya berdiri manis di luar arena, mengamati, untuk kemudian membagi cerita tentang apa yang saya lihat dan rasakan di sana.

Namun tak selalu jurnalis gaya hidup adalah 'pendatang' seperti saya. Tak sedikit 'native' dari kalangan yang kami liput, juga menjadi jurnalis seperti saya. Mereka umumnya adalah kaum crazy rich dan sosialita yang jatuh cinta pada proses kerja media dan asyik berkarya tanpa mengedepankan status mereka. Juga, ada pula jurnalis kelompok lain yang sama-sama pendatang seperti saya, dan juga sama-sama mencintai jurnalisme sekaligus dunia gaya hidup dan berusaha untuk menyelami dunia mimpi itu sebaik-baiknya. Mereka selalu terlihat sebagai bagian inegral dari gaya hidup dan sama luwesnya seperti para native. Bagi saya, kemampuan membaur secara kaffah itu merupakan sebuah pencapaian yang layak diapresiasi, kendati acapkali, jerat panjat sosial jadi tak terhindari dan kadangkala membuat mereka terengah-engah. Saya sendiri, selalu berdoa agar tak terjerat di dalamnya, karena terus terang saja, dompet saya pasti akan selalu tercekik dan megap-megap tak bisa bernapas bila harus mengikuti gaya hidup yang saya amati dan beritakan. Itu pun, boleh jadi, saya yang merasa tak pernah terjebak dalam kegiatan panjat sosial ini pun dianggap sebagai pemanjat sosial juga oleh jurnalis lain atau teman dan keluarga yang tak terlalu mengenal saya.

Ketika beberapa pekan lalu menemukan sebuah artikel mengenai ciri-ciri social climber atau pemanjat sosial yang ditulis oleh Irine S. Levine PhD, saya jadi tertawa sendiri karena menemukan beberapa hal yang ternyata juga saya lakukan seperti merasa senang kalau bisa mengenal dan berteman baik dengan beberapa orang ternama yang sejak lama jadi inspirasi saya, misalnya. Untunglah, dari delapan ciri yang disampaikan dalam tulisan berjudul “Eight Signs a 'Friend' Is a Social Climber" itu, hanya dua atau tiga saja yang saya merasa menjaoaninya. Sisanya, saya bisa bilang “nggak tuh, gue nggak gitu” sambil tersenyum-senyum kecil karena teringat teman yang saya pikir memiliki sifat demikian. Walaupun mungkin bisa teman saya yang membaca artikel itu, dia akan berpikir sama seperti saya dan mengganggap temannya yang lain yang memiliki sifat-sifat itu.

Artinya, setiap kita bisa saja memiliki bibit sebagai pemanjat sosial. Persoalannya adalah, seberapa sadar dan seberapa tinggi serta seberapa “maksa” kita memanjatnya.  Hal itu, menurut saya, perlu pula ditambahi dengan seberapa cantik dan elegan kita memanjat. Apakah kita pemanjat yang baik, atau pemanjat yang serampangan karena tak merasa bersalah menginjak-nginjak kepala orang lain demi menjadi pemanjat tertinggi. Kalau kita ternyata tipe pemanjat yang kedua, mungkin perlu kita teliti lagi, apa yang sebenarnya tengah kita panjat, status sosial atau batang pinang penuh oli?

Delapan Tanda Pemanjat Sosial.

Tentu jurnalis gaya hidup bukan satu-satunya orang yang merasa perlu jadi pemanjat sosial. Semua orang, dari beragam profesi dan kelas sosial pasti menyimpan keinginan untuk memiliki eksistensi dan mendapat pengakuan dari lingkungannya dengan berbagai cara. Irine S. Levine PhD, dalam tulisannya Eight Signs a “Friend” is a Social Climber menguraikan delapan sikap yang bisa menjadi indikasi seseorang bisa dikategorikan sebagai pemanjat sosial.

Segala sikapnya berporos pada status. Tanpa jaminan akan mendapat tambahan teman-teman hebat dan berpunya, ia tak mau berteman dengan seseorang. Sebab baginya, “siapa” dan “punya apa” adalah syarat utama yang harus dipenuhi aebelum ia dekati.

Sering “name dropping”. Seorang pemanjat sosial sering tak tahan untuk tidak membicarakan tentang betapa pentingnya orang-orang yang dikenalnya, atau betapa pentingnya teman-teman dari orang-orang yang dikenalnya. Ia juga biasa memindai “kelas” seseorang dari kaliber orang-orang yang dikenal seseorang yang sedang berbicara dengannya.

Sangat menilai penampilan. Memurut Levine, seorang pemanjat sosial umumnya sangat berusaha terlihat “pada tempatnya” dan menginginkan berada di komunitas yang ia rasa “cukup pantas” seperti dirinya. Penampilan menjadi cara mudah untuk memindai apakah kelas yang ia dan komunitasnya bisa pas. Meski terdengar terlalu sumir, umumnya para oemanjat sosial sangat bangga memamerkan busana dan aksesoris berlabel sebagai sebuah simbol kelas.

Penyalip yang lihai. Bila seorang pemanjat sosial dikenalkan oleh seorang teman kita yang menurutnya penting, ia biasanya akan dengan segera menyalip untuk menjadi lebih dekat dari kita yang mengenalkannya.

Pandai memanfaatkan. Koneksi adalah hal yang amat disukai oleh seorang pemanjat sosial. Terlebih bila koneksi itu bisa membantunya mencapai kepentingan yang ingin ia peroleh. Namun mereka termasuk orang yang gigih sehingga pemanfaatan itu bisa terlihat sebagai hasil dari membangun jejaring.

Kurang empati. Mereka berteman dengan banyak orang namun tak benar-benar mengenal mereka. Baginya hubungan yang akrab tak terlalu penting.

Selalu sedia untuk agenda yang lebih bergengsi. Bila diundang menghadiri sebuah acara, ia akan melakukan konfirmasi di saat-saat akhir karena ia selalu berjaga-jaga kalau saja ada undangan lebih menarik dan bergengsi yang ia terima setelahnya.

Seperti ratu lebah. Keinginannya untuk mengontrol lingkaran sosialnya terbilang tinggi. Tapi ia juga tak keberatan bisa harus hanya menjadi “pemain cadangan” dalam kelompok pertemanannya. Ia bahkan tak akan merasa terganggu untuk dijadikan bahan olok-olok oleh kelompoknya.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021