Self Art & Culture

Pelajaran Di Luar Ruang Kelas

Dominique Diyose

@dominiquediyose

Model

Fotografi Oleh: Ade Suardika

Saat aku memutuskan untuk menjadi seorang model, aku masih duduk di kelas 1 SMA. Ternyata belajar modeling dari umur 13 tahun membuatku keranjingan untuk terus menggeluti bidang tersebut. Tapi memang kendalanya adalah keharusanku datang ke sekolah karena ternyata bekerja sambil bersekolah bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan beriringan. Menjelang naik ke kelas 2 SMA pun aku akhirnya semakin sering izin dan tidak mengikuti ulangan-ulangan. Meskipun sebenarnya aku masih tetap bisa mempertahankan nilai tapi ternyata terdapat kesenjangan sosial di sekolah. Banyak pihak yang merasa tidak adil karena memperbolehkan aku untuk sering tidak masuk sehingga akhirnya aku dihadapkan pada pilihan meninggalkan sekolah atau pekerjaan. Untungnya orang tua dan pihak sekolah berdiskusi dengan amat baik. Ketika ditanya apakah aku mau fokus di modeling atau sekolah aku bisa dengan leluasa bilang: "Saya mau jadi model profesional, Pak." Kemudian dengan amat bijak pun kepala sekolah aku memberikan pemikiran yang hebat. Dia memberikan kepercayaan jika itu yang aku, belajar di rumah atau homeschooling bisa jadi opsi.

Zamanku dulu terdapat program Paket C dari Departemen Pendidikan dan Budaya (Depdikbud). Jadi biasanya mereka yang belum menyelesaikan sekolah di SD, SMP, SMA bisa menyelesaikannya dengan mengambil program ini. Tentu saja program ini sangat berbeda dengan sekolah formal. Aku hanya harus datang satu kali seminggu dan itu malam hari. Biasanya kelas malam ini diperuntukkan bagi mereka yang bekerja dari pagi ke sore. Kemudian tiga kali seminggu ada guru yang datang ke rumah hanya untuk meninjau kembali pembelajaran mandiriku di rumah. Di ujian akhir pun pengalamannya sangatlah berbeda. Mulai dari soal dan jadwal ujian. Aku tidak mengikuti jadwal layaknya sekolah-sekolah pada umumnya tapi justru setelah mereka selesai ujian. Jadi dulu kami meminjam salah satu kelas di salah satu sekolah. Para homeschooler atau mereka yang mengambil program paket C dari berbagai area di Jakarta dikumpulkan di sana untuk mengikuti ujian akhir.

Perjalanan homeschooling pun menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kalau banyak orang berpikir belajar sendiri itu mudah, buat saya justru sulit. Tantangannya terletak pada kedisplinan dan pengaturan waktu yang baik. Kalau kita tidak disiplin jangan harap bisa belajar dengan baik. Harus punya kemauan tinggi memang kalau mau lancar menjadi homeschooler. Intinya adalah menjadi seorang homeschooler itu berarti harus mau belajar di mana saja, kapan saja. Jadi dulu aku bawa buku pelajaran, bawa modul ke mana-mana bahkan menjelang fashion show. Tapi tantangan ini juga yang mengajarkan aku banyak hal. Aku jadi tahu bagaimana menjadi pribadi yang disiplin, tahu waktu kapan harus fokus belajar kapan fokus bekerja meski tidak ada yang mengawasi dan memberitahu.

Kalau banyak orang berpikir belajar sendiri itu mudah, buat saya justru sulit karena harus displin dan mengatur waktu dengan baik.

Bagi sebagian orang belajar di rumah akan memberikan hambatan bersosialisasi. Untungnya karena saat itu aku sambil bekerja jadi aku tidak begitu merasa ada sesuatu yang hilang karena memiliki lingkaran pertemanan di lingkungan pekerjaan. Juga ketika aku harus datang ke kelas Program Paket C seminggu sekali, aku bertemu banyak orang dari berbagai strata sosial. Pengalaman yang cukup unik bisa kubilang. Aku bertemu ibu-ibu dan bapak-bapak dari berbagai kalangan. Mendapatkan cerita yang sangat kaya dari lingkungan yang berbeda-beda. Tidak seperti halnya belajar di sekolah yang hanya berada dalam satu lingkungan saja. Selain itu aku juga jauh lebih bisa belajar dari banyak orang hebat yang tidak mengenyam label guru. Aku bertemu salah satu jurnalis yang tertarik membagikan ilmu sosialnya. Sehingga seperti layaknya kuliah (karena aku juga tidak kuliah), dia banyak membantu aku berdiskusi soal masalah sosial yang sedang terjadi sehingga membantu aku untuk tetap berpikir kritis. 

Menurutku pribadi terdapat dua faktor yang paling signifikan ketika memutuskan untuk belajar di luar sekolah formal. Memiliki tujuan dan support system yang kuat. Tujuanku dulu memang ingin menjadi profesional tapi tetap mau belajar sehingga tidak mengikuti sekolah formal menjadi strategiku untuk menyeimbangkan karier. Kemudian support system yang kuat. Kita harus punya dukungan yang solid dari orang-orang sekitar. Aku sangat beruntung mendapatkannya dari orang tua dan bahkan pihak sekolah lama. Ada kata-kata yang sangat memotivasiku hingga saat ini. Dulu kepala sekolahku bilang, “Tidak apa-apa kamu tidak datang ke sekolah lagi dan mau jadi profesional. Tapi kamu harus bisa memiliki sertifikat profesional itu, ya. Bukan sertifikat dalam arti kata yang sebenarnya lho, tapi kamu harus buktiin kalau kamu diakui menjadi seorang profesional”. Ketika itu juga aku jadi semakin tidak setengah-setengah dan maju terus menggapai yang aku impikan.

Terdapat dua faktor yang paling signifikan ketika memutuskan untuk belajar di luar sekolah formal: memiliki tujuan dan support system yang kuat.

Related Articles

Card image
Self
Titik Keseimbangan Hidup

Dunia olahraga pun mengajarkanku banyak hal termasuk keseimbangan hidup. Kala aku harus melatih seseorang sebenarnya aku pun terbantu memahami diriku sendiri. Tidak hanya mereka yang terbantu untuk mencapai gol kebugaran mereka, proses berlatih dan melatih pun mengajarkanku untuk memahami gol kebugaranku sendiri. Hingga aku mengerti bahwa hidup itu harus berada tengah, seimbang.

By Dinda Utami
14 September 2019
Card image
Self
Membangkitkan Energi Dalam Diri

Percaya tidak bahwa setiap orang itu pasti punya masa di mana kita merasa berada pada titik paling bawah hidup dan hampir merasa tidak lagi kuat menghadapi tantangan? Sebagian dari kita pasti pernah berada dalam masa-masa “kegelapan” yang mencampurkan segala emosi, dan pikiran sampai menghasilkan sebuah energi negatif lalu berperilaku negatif.

By Mutia Nandika
14 September 2019
Card image
Self
Menghembuskan Kebahagiaan

Setiap manusia selama masih bernapas pasti memiliki stage of life atau tahapan dalam hidup yang berbeda-beda. Kala lahir kemudian bertumbuh dari bayi menjadi anak-anak, bersekolah kemudian besar, bekerja, menikah, dan seterusnya. Tiap tahap hidup tersebut memberikan pelajaran yang berbeda pun esensi bahagia yang berbeda.

By Lisa Samadikun
14 September 2019