Self Lifehacks

Pelajar Seumur Hidup

Jourdan Kamal

@jourdanz

Pendiri Platform Pendidikan

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Insanity is doing the same thing over and over again, and expecting different results.

Kalimat di atas merupakan salah satu kutipan favorit saya. Kita semua pasti memiliki impian akan bagaimana hidup ini, bukan?  Mulai dari memperoleh hal-hal yang kita inginkan, hingga meraih tingkat kesuksesan tertentu dalam definisi kita yang belum berhasil dicapai. Dan bagaimana caranya kita dapat menjajaki langkah untuk hidup di ‘kehidupan baru’ yang terpatri dalam angan kita? Bagi saya, satu kunci yang pasti adalah ‘belajar’.

I am a believer of long life learning. Mungkin itu telah menjadi prinsip hidup; belajar tanpa henti. Pada kenyataannya pun, kita tidak akan pernah bisa Iberhenti untuk belajar. Bila kita ingin naik tingkat dari satu standar kehidupan yang tengah dijalani ke tingkat yang lebih tinggi lagi, maka selalu terdapat proses dan kewajiban pembelajaran yang harus dilalui terlebih dahulu. Bila dianalogikan, belajar adalah ‘kunci’ yang akan membuka ‘pintu’ standar kehidupan yang kita harapkan.

Sebagai contoh, seorang staf junior ingin naik jabatan sebagai staf senior. Maka, ia harus belajar manajemen terlebih dahulu untuk menguasai keterampilan yang dibutuhkan. Lantas, bila sekian tahun kemudian ia ingin naik tingkat sebagai direktur, maka ia harus tahu bagaimana memimpin perusahaan, menjalin komunikasi dengan investor, hingga belajar menjaga sikap di depan rekanan, dan lain sebagainya. Mungkin tidak semua keterampilan tersebut pernah kita dapatkan semasa sekolah, yang umumnya banyak memberikan kita suatu teori untuk kita ketahui dan hafal. Namun, saya percaya akan mentorship, buku-buku, dan kisah akan pengalaman orang lain yang dapat memberikan pelajaran dan masukan berarti pada diri kita untuk naik tingkat – melengkapi pendidikan formal yang kita kenyam.

Di sekolah, kita pasti pernah diajarkan melukis dan membuat keterampilan. Namun seberapa banyak orang yang pada akhirnya dapat menjadikan melukis dan keterampilan sebagai suatu pekerjaan dan terkenal karena karyanya? Contoh lainnya, bila kita melihat dalam skala besar, ada berapa banyak orang yang bisa memasak enak namun mengapa hanya sedikit yang kemudian diakui kemampuan masaknya? Atau, mengapa ada mereka yang dapat memiliki restoran besar padahal bisa saja rasanya kalah dibanding mereka yang hanya memiliki restoran kecil? Padahal bila dilihat dari konteks pendidikan dan pelajaran yang diperoleh, mereka semua yang pandai memasak bisa saja pernah belajar memasak secara khusus atau meluangkan waktu untuk belajar melalui sejumlah buku resep. Bukankah itu juga belajar? Mengapa hasil akhirnya berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sempat saya ajukan pada diri saya sekian tahun yang lalu. Saya menempuh pendidikan IT, dan setelah itu bekerja sebagai web designer. Saat itu, saya berpikir mengapa ada orang yang bisa menghasilkan banyak uang sementara saya tidak. Padahal, saya memiliki skill desain yang saya percaya diri untuk mengakuinya bagus. Setelah sekian waktu melakukan hal yang sama setiap harinya - mendesain untuk orang lain, saya pun berhenti bekerja sebagai web designer untuk masuk ke dunia yang sama sekali baru; menjual properti. Passion dan minat saya masih tertanam pada desain dan IT, namun saya perlu belajar mengerti mengenai pemasaran. Mengapa desain saya bagus namun tidak ada orang yang membayar? Namun mengapa properti yang harganya mahal sekali namun orang mau membeli? Walaupun bidang properti bukanlah minat saya, namun saya merasa harus dapat keluar dari zona nyaman dan mempelajari keterampilan baru yang belum saya kembangkan; sales. Dan bagaimana saya pada akhirnya mendapat kesadaran untuk belajar dari hal yang saya kurang sukai, untuk kemudian melengkapi skill desain saya, hingga kemudian dapat menjadi pekerjaan yang menghasilkan?  Sebuah workshop singkat yang pernah saya ikuti selama dua hari lah yang menjadi titik baliknya.

Bagi saya, apa yang dapat kita pelajari seiring berjalannya waktu itu terbagi dalam dua, yaitu skill dan mindset. Umumnya, yang banyak kita peroleh adalah pendidikan yang hanya mengajarkan kita skill atau keterampilan, alih-alih mengimbanginya juga dengan pelajaran akan mindset atau pola pikir yang diperlukan. Jadi sebenarnya, belajar tidak melulu terpatri pada suatu kurun waktu tertentu. Belum tentu pelajaran bertahun yang kita peroleh turut mengajarkan mindset yang membuat kita dapat memanfaatkan, mengelola, dan meningkatkan skill yang dimiliki secara strategis. Dan itulah yang saya peroleh dari workshop yang saya ikuti tersebut – mindset. Banyak orang bisa membuat desain bagus. Namun bagaimana caranya mereka yang dapat mendesain ini mampu melejit dan lebih berhasil dibanding rekan sesamanya, itu hal lain. Itulah yang saya selalu cari dan berusaha terus pelajari dari mengikuti ragam workshop singkat yang memberi kesempatan sejumlah orang yang berhasil di bidangnya untuk membagikan pengalaman, pola pikir, serta cara mereka mencapai sesuatu.

Terlepas dari apa yang saya minati dan selalu berusaha pelajari, tiap orang memiliki kebutuhannya masing-masing dalam melengkapi dirinya sendiri. Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana kita mau keluar dari zona nyaman untuk belajar hal-hal yang belum kita kuasai, serta mengimplementasikan hasil pembelajaran yang diperoleh untuk dapat mencapai keberhasilan. Terkait zona nyaman seseorang, seiring berjalannya waktu, akan selalu mengalami perubahan, bukan?

Pada intinya, dalam setiap proses pembelajaran, selalu terdapat tiga hal yang perlu kita perhatikan. Prioritas, disiplin, dan zona nyaman yang menghalangi kita mencoba tantangan baru. Kembali lagi, ketiganya berkaitan erat dengan mindset, atau bagaimana pikiran kita mengajak kita berpikir dan bertindak. Ketika kita berani melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman, di saat itulah kita biasanya akan naik tingkat ke standar kehidupan baru, yang pasti akan memaksa kita kembali dan terus belajar untuk membiasakan diri.

Dibalik alasan yang mengharuskan kita mengenyam pendidikan sedari kecil, terdapat tujuan agar kita dapat mencapai keberhasilan di suatu waktu di masa depan. Dan jawaban atas keberhasilan ini sendiri, terletak pada diri kita seutuhnya. Kita harus mengatakan pada diri sendiri bahwa kita akan berhasil, serta menyadari hal apa saja yang menjadi kekuatan dan kekurangan kita untuk kita kembangkan selanjutnya. Lantas, dari apa yang kita anggap sebagai kekurangan tersebut, kita kuatkan dengan pembelajaran yang dibutuhkan – buku, workshop, sekolah, apapun itu. Yes, we can never stop learning. Lagipula, apakah ada manusia yang telah merasa dirinya sempurna?

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024