Circle Love & Relationship

On Marissa's Mind: Toxic Relationship

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Saya tumbuh besar melihat hubungan beracun yang berlangsung puluhan tahun antara dua orang. Tidak ada seorang pun yang bahagia dalam relasi ini. Tidak seorang pun pantas hidup seperti ini. Saya mau bicara tentang toxic relationship.

Menurut penulis buku Toxic People, Dr Lillian Glass, Toxic relationship atau hubungan beracun adalah ‘hubungan apa pun antara orang-orang di mana mereka tidak saling dukung. Di dalamnya ada konflik dimana yang satu berusaha menghancurkan yang lain; ada persaingan, rasa tidak hormat; dan kurangnya kekompakan.’

Toxic relationship atau hubungan beracun adalah ‘hubungan apa pun antara orang-orang dimana mereka tidak saling dukung (Dr. Lillian Glass)

Memang, pasang surut dalam hubungan itu biasa. Namun konflik yang terlalu sering dan berulang hanya menggerus kebahagiaan dan menguras tenaga orang-orang dalam hubungan itu sendiri.

Hubungan beracun bisa terjadi dalam hubungan romantis, antar sahabat, keluarga atau rekan kerja.

Kita dalam hubungan yang beracun ketika:

Momen negatif lebih banyak daripada momen positif. Dalam konteks berpasangan, seseorang yang terjebak dalam hubungan beracun terus menerus merasa tidak bahagia, penuh rasa sedih, marah, cemas, gugup, tidak nyaman dan pasrah terutama di dekat pasangan. Orang dalam hubungan beracun perkembangan dirinya cenderung mandeg, harga dirinya hancur, dan putus hubungan dengan diri sendiri.

Pelecehan atau kekerasan jelas jadi tanda hubungan itu beracun. Namun gejala hubungan beracun bisa lebih subtil dan manipulatif dari itu, namun punya efek merusak yang sama.

Seseorang yang manipulatif dalam hubungan beracun biasanya:

(1) membunuh karakter Anda dengan halus dan terus menerus. Misal, memanggil dengan panggilan yang merendahkan Anda dengan maksud ‘bergurau’. 

(2) Ia juga mengontrol berlebihan bagaimana Anda bersikap (dalam konteks berpasangan: (i) mengatur dengan siapa Anda boleh/tidak boleh berteman; minta Anda laporan habis ngapain aja, sama siapa, ngomongin apa; (ii) sengaja membuat teman dan keluarga Anda tidak nyaman ketika berkunjung; (iii) merasa keberatan ketika Anda punya aktifitas sendiri di luar aktifitas bersama; mengatur apa yang Anda boleh pakai atau tidak; boleh makan atau tidak. Intinya, membuat Anda merasa bersalah.

Jika tidak dituruti, sang manipulator berperilaku pasif agresif untuk membuat Anda merasa bersalah selama mungkin. Akhirnya Anda jadi mempertanyakan diri sendiri dan mulai berpikir Anda yang gila.

(3) Seorang manipulator sangat sulit minta maaf meski tahu ia salah.

Seseorang yang selalu negatif juga bisa jadi beracun karena ia menarik orang lain ke lubang negatifitas yang sama, jadinya mengurangi kualitas hidup orang lain juga.

Hidup dalam hubungan beracun bak berjalan di atas cangkang telur. Rapuh. Anda takut mengekspresikan yang Anda sejujurnya rasakan dan pikirkan.

Dalam hubungan yang beracun, Anda tidak pernah bisa merasa cukup di hadapan pasangan, karena harus jadi versi yang dia dambakan sebagaimana pun bertolak belakang versi itu dengan diri Anda sebenarnya.

Bagaimana seseorang bisa terjebak dalam hubungan yang beracun?

Biasanya ia tumbuh mengamati orang tua atau anggota keluarga yang berperilaku dengan pola beracun kronis dalam hubungan mereka. Ketika dewasa, ia menganggap pola destruktif ini ‘normal’ karena tidak punya referensi hubungan yang sehat itu seperti apa. Akhirnya waktu dewasa ia jadi beracun untuk orang lain, atau ia menerima saja diperlakukan dengan sangat buruk/beracun. 

Lantas, hubungan yang sehat itu seperti apa?

Menurut sejumlah psikolog, suatu hubungan sehat ketika orang-orang dalam hubungan itu punya nilai-nilai dasar atau tujuan hidup yang mirip/sama; saling menghormati; saling percaya; mendorong satu sama lain untuk berkembang menjadi versi terbaik bagi masing-masing. Semua tanpa paksaan.  

Suatu hubungan sehat ketika orang-orang di dalamnya punya harapan yang realistis terhadap satu sama lain dan punya kontribusi yang seimbang dalam hubungan ini. Mereka bisa menikmati waktu ketika bersama dan ketika sendiri. Meski berpasangan, masing-masing masih memegang identitasnya sendiri.  

Menurut filsuf modern Alain de Botton, ada tiga elemen penting dalam hubungan yang memuaskan: kindness (kebaikan hati), vulnerability (kejujuran dan keterbukaan meski berpotensi mengundang kritikan) and understanding (pengertian).

Pasangan dalam hubungan yang sehat akan saling berlaku lembut menghadapi ketidaksempurnaan yang kadang muncul dari masing-masing; saling terbuka dan jujur atas kecemasan atau kekhawatiran masing-masing; saling ingin memahami satu sama lain dengan antusias -- apa yang disuka, cara melihat dunia, atau apa yang membuat ia merasa hidup.

Saya pribadi punya prinsip: semua masalah bisa dibicarakan baik-baik. Apa pun tantangan dalam suatu hubungan, bisa dibicarakan dan dicarikan jalan terbaiknya. Hubungan adalah kerja keras. Pertengkaran itu normal dan jalan yang tidak selalu mulus adalah bagian dari perjalanan hidup.

Hubungan adalah kerja keras. Pertengkaran itu normal dan jalan yang tidak selalu mulus adalah bagian dari perjalanan hidup.

Tapi perlu kita ingat, dalam suatu hubungan, jika lebih banyak situasi negatif daripada positif, jika komunikasi yang manusiawi dan terbuka sudah ditempuh namun tidak ada kemajuan apapun, mungkin sudah saatnya untuk keluar dari hubungan itu. Pilihan ada di tangan Anda.

***

Referensi:

Glass, L. (1995). Toxic People. Simon & Schuster. 

Ducharme, J. (2018, June 5). How To Tell If You're in a Toxic Relationship And What to Do About It. Time.  https://time.com/5274206/toxic-relationship-signs-help/

Gillihan, S. (2019, June 13). 5 Signs That a Relationship Has Turned Toxic. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/think-act-be/201906/5-signs-relationship-has-turned-toxic

Bonior, A. (2018, December 28). What Does a Healthy Relationship Look Like?. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/friendship-20/201812/what-does-healthy-relationship-look

Kim, J. (2020, January 19). 5 Signs of a Toxic Relationship. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-angry-therapist/202001/5-signs-toxic-relationship

The School of Life. (2021, January 13). The Three Requirements of a Good Relationship. [Video] Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=UOn9HVQdOGc&ab_channel=TheSchoolofLife

Fuller, Kristen. (2017, August 1). How to Recognize Toxic Individuals and Toxic Relationship. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/happiness-is-state-mind/201708/how-recognize-toxic-individuals-and-toxic-relationships

Related Articles

Card image
Circle
Pirrou's Talk: Mengendalikan Obsesi

Menurut Dr. Perpetua Neo, obsesi berawal saat kita merasa vulnerable–rentan. Obsesi berkembang ketika orang yang mencoba untuk “live in their heads” daripada “living their life”. Untuk yang sering dipanggil wibu, tidak perlu merasa beda, inferior atau tidak pede. Obsesi tidak hanya berlaku untuk wibu, loh. Selain kultur Jepang, di dunia ini banyak kok orang-orang yang terobsesi dengan hal lain. 

By Pirrou Sophie
05 November 2022
Card image
Circle
Optimalisasi Kesehatan Diri dan Lingkungan

Tumbuh besar sebagai seorang anak dari orang tua yang bekerja di bidang kesehatan secara tidak langsung menumbuhkan rasa ingin tahu saya mengenai sektor kesehatan. Ibu saya adalah seorang apoteker dan ayah saya bekerja di sebuah rumah sakit. Beberapa tahun kemudian, ayah saya juga membuat klinik kecil di rumah.

By Gigih Septianto
08 October 2022
Card image
Circle
Menikmati Waktu

Saat mendengar kata “timeline ideal” sebagai individu sebenarnya hanya sebuah cara untuk membuat hidup kita lebih tertata. Punya lini masa dalam hidup menurutku di satu sisi bisa membantu kita untuk menentukan apa yang ingin kita jalani agar tidak kewalahan akan banyak hal.

By Satine Zaneta
01 October 2022