Circle Love & Relationship

On Marissa's Mind: Memilih Pasangan

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Dalam memilih pasangan, Anda sudah punya gambaran kira-kira tertarik dengan tipe yang seperti apa -- apakah itu tipe karakter, kepribadian, penampilan fisik, atau sejumlah kategori lainnya. 

Di zaman modern, kebanyakan dari kita tidak lagi dijodohkan, punya kebebasan cari pasangan sendiri. Zaman sekarang, kebanyakan dari kita mempercayai naluri, harus merasakan ketertarikan luar biasa kuat demi mencari dia yang tepat. Sang soulmate

Tapi tahukah Anda, dalam memilih pasangan, ternyata mendengarkan naluri sepenuhnya tidak selalu menjamin bahwa ia orang yang tepat untuk kebahagiaan Anda. Mengapa? 

Ketertarikan magnetik kita terhadap seseorang bukan karena ada sesuatu yang magis yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan ini bisa dijelaskan. 

Menurut ilmu psikoterapi, kita cenderung tertarik pada seseorang yang terasa akrab; ia yang perilakunya mengingatkan kita pada bentuk "kasih sayang" yang kita rasakan dari figur pengasuh ketika kita kecil. 

Jika Anda beruntung, Anda dibesarkan figur pengasuh yang bajik, seimbang, dan memberikan kasih sayang penuh kelembutan. Namun tidak semua seberuntung itu sehingga kasih sayang hadir dalam bentuk yang lebih kompleks. Seorang ibu yang penyayang, bisa jadi seseorang yang penuh kecemasan, dengan perasaan mudah terluka, rapuh. Seorang ayah yang bertanggungjawab secara finansial bisa jadi juga seorang pemarah, penuh kritik pedas, kasar. Sehingga sebagai anak, Anda terbiasa harus "mindik-mindik" demi menjaga perasaan atau menghindari murka mereka. Anda cinta dengan orang tua, namun di saat yang sama ada sifat atau karakter mereka yang membuat mereka menantang untuk dicintai. Perasaan cinta yang kompleks ini jadi terasa akrab dalam hidup Anda. Ketika Anda dewasa, Anda akan cenderung tertarik pada calon pasangan yang menciptakan perasaan akrab ini, meski perasaan ini negatif. 

Misal, orang tua dulu sering suka marah-marah, Anda takut sehingga menuruti apa saja yang ia minta. Anda sebetulnya tidak suka dengan sifat dan perasaan negatif ini, namun terbiasa. Ketika dewasa, Anda akan cenderung tertarik pada calon pasangan yang suka marah-marah dan harus dituruti -- orang yang sebetulnya belum tentu tepat bagi kesehatan jiwa Anda. 

Tidak heran pula ketika dewasa Anda malah jadi menolak seseorang bukan karena ia orang yang salah untuk Anda, melainkan karena ia terlalu benar untuk Anda. Hanya karena Anda tidak terbiasa, seseorang yang seimbang, pengertian, dewasa dan bisa diandalkan jadi terasa aneh dan asing. 

Lantas bagaimana memilih pasangan yang baik untuk kebahagiaan Anda?

Menurut psikolog Lisa Firestone, cari tahu, kenali, serta pikirkan kembali pola ketertarikan Anda terhadap seseorang. Ingat, pola lama kita bisa jadi menarik kita ke orang yang salah. 

Kita bisa lakukan ini dengan cara menuliskan sifat atau karakter seperti apa yang menarik dan tidak menarik bagi kita. Kemudian telusuri apakah mengacu ke sifat dan karakter figur pengasuh. Tanya diri, apakah sifat dan karakter ini selaras dengan kebahagiaan kita atau tidak.  

Cara ini juga mengizinkan kita untuk memberi kesempatan pada calon pasangan yang mungkin di awal terkesan membosankan atau nggak pas dengan selera Anda, namun ketika Anda kenal lebih jauh, sebetulnya menarik dan baik untuk kebahagiaan Anda. 

Ada beberapa prinsip sederhana yang bisa kita pegang juga dalam memilih pasangan. Tips dari psikoterapis Dr Barton Goldsmith, di antaranya: (1) carilah seseorang yang bajik, penyayang, dan penuh welas asih. Ia yang bisa diajak bicara seterbuka dan sejujur mungkin, di saat senang dan susah (2) punya kesamaan visi dalam hidup terkait hal-hal mendasar namun juga punya cukup perbedaan agar bisa saling mengisi dan belajar dari satu sama lain (3) hiduplah bersama ia yang bisa membuat Anda tertawa  karena ketika menjalani tantangan hidup, sedikit tawa akan meringankan beban di dada (4) ambil waktu untuk mengenal orang itu, setidaknya enam bulan, sehingga ketika menikah Anda siap dan mantap menjalani hidup dan tantangannya bersamanya.  

Memang, kita tidak bisa 100 persen merasa pasti tentang seseorang. Namun memilih pasangan hidup dengan alasan yang benar di saat yang tepat bisa semakin mendekatkan Anda pada kehidupan berpasangan yang melestarikan kesehatan mental Anda. Dan ini penting. 

 

--

 

Referensi:

Firestone, L. (2018, January 2). 4 Ways to Choose a Better Partner. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/compassion-matters/201801/4-ways-choose-better-partner

Goldsmith, B. (2011, October 21). 10 Tips to Help You Pick a Good Partner. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/emotional-fitness/201110/10-tips-help-you-pick-good-partner

The School of Life. (2018, January 30). Why We Pick Difficult Partners. [Video]. YouTube. https://youtu.be/Hvysy11716g

The School of Life. (2017, March 24). How to Choose a Partner Wisely. [Video]. YouTube. https://youtu.be/Hvysy11716g

The School of Life. (n.d.). Why We're Compelled to Love Difficult People. Retrieved September 14, 2021, from https://www.theschooloflife.com/thebookoflife/why-were-compelled-to-love-difficult-people/

 

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021