Self Lifehacks

Monster Dalam Diri

Evan Aditya

@evanaditya

Ilustrator

Ilustrasi Oleh: Show The Monster

Aku terlahir tanpa pilihan dan hidup terkurung di dalam kotak-kotak stigma sosial yang sudah diciptakan bertahun-tahun lamanya. Hal tersebut mengaburkan bayanganku tentang jati diri dan siapa diriku sebenarnya. Aku bahkan tumbuh dengan ajaran untuk menjadi pribadi yang lebih mementingkan pendapat orang lain dibandingkan dengan diriku sendiri. Hal tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di kepalaku, apakah dengan demikian aku dapat bahagia? Apakah aku lebih bisa diterima di masyarakat jika aku bersembunyi di balik topeng? Berusaha keras menjadi layak agar diterima oleh yang lain sebagai seorang manusia. Pada dasarnya, apabila tembok-tembok tersebut runtuh, esensi yang tersisa pada diriku adalah sesosok monster yang selama ini dengan susah payah aku sembunyikan.

Apakah aku lebih bisa diterima di masyarakat jika aku bersembunyi di balik topeng? Berusaha keras menjadi layak agar diterima oleh yang lain sebagai seorang manusia.

Sejak kecil aku merasakan berbagai kesulitan untuk mengekspresikan diri. Terlahir sebagai anak bungsu, aku merasa sulit sekali untuk mengemukakan ekspresi di rumah, karena rentang usiaku yang cukup jauh dengan kedua kakakku. Lalu, kesulitan tersebut berlanjut hingga aku beranjak dewasa. Aku tidak nyaman dengan diriku selama ini, hal itu membuatku mencari kenyamanan di tempat lain – menjadi pribadi yang selalu berpindah-pindah grup pertemanan, berusaha menyesuaikan diri dengan banyak orang, mencari topeng mana yang cocok denganku dari hari ke hari, namun tidak berusaha untuk mencari diriku sendiri dan membiarkan monster yang selama ini kusembunyikan untuk keluar.

Seiring dengan semakin dewasanya pribadi dan pemikiranku, akhirnya aku menemukan titik terang, dan menyadari bahwa segala macam kekosongan dan rasa tidak bahagia yang kerap aku rasakan selama ini bukan berasal dari teman-temanku yang keren dan terkenal, bukan dari barang barang mewah yang kubeli, bukan dari beragam Likes dari orang yang tidak kukenal, melainkan dari dalam diriku yang tidak bisa menerima diri sendiri.

Segala macam kekosongan dan rasa tidak bahagia yang kerap kurasakan berasal  dari dalam diriku yang tidak bisa menerima diri sendiri.

Pada akhirnya, aku berusaha untuk mulai membuka diri dan lebih percaya terhadap diri sendiri secara perlahan. Meskipun terasa ragu dan takut pada awalnya, kini aku merasa lebih bahagia dan terbuka terhadap kesempatan-kesempatan baru yang ada. Dengan menerima apa yang tadinya kusembunyikan – apa yang menurutku membuat orang lain merasa risih tentang keberadaanku memberikan aku kekuatan daripada sekedar cacian dari orang lain. Menerima monster dalam diriku, dan berteman dengannya membuat aku seutuhnya diriku sendiri tanpa bantuan orang lain atau variabel eksternal yang selama ini kucari. Karena, ketika aku bebas menyampaikan ekspresiku, di situ aku berani untuk memberikan suara, berani untuk tampil, berani untuk terlihat berbeda, dan percaya bahwa, pada dasarnya, “You can be full of yourself and it’s okay.”

Menerima monster dalam diriku, dan berteman dengannya membuat aku seutuhnya diriku sendiri tanpa bantuan orang lain

Show The Monster adalah langkah terbesar yang aku capai selama ini. Pencarianku akan variabel eksternal, pergelutanku dengan diri sendiri, dan passion yang kuat merupakan satu rangkaian proses yang membuat Show The Monster terbentuk. Show The Monster adalah konsolasi dan jati diriku.

Ketika aku bebas menyampaikan ekspresiku, di situ aku berani memberikan suara, berani tampil, berani terlihat berbeda, dan percaya bahwa, pada dasarnya, 'You can be full of yourself and it’s okay.'

Related Articles

Card image
Self
Hidup Tanpa Penyesalan

Setiap orang tentu pernah mengambil keputusan yang salah, entah itu berdampak pada hidup kita sendiri atau bahkan juga berpengaruh pada hidup orang-orang di sekitar kita. Meski begitu kesalahan tidak selalu berujung pada penyesalan.

By Greatmind
24 February 2024
Card image
Self
Janji Untuk Menyayangi Sepenuh Hati

Terkadang kita melihat kata janji, apalagi yang diucapkan oleh pasangan sebagai kata-kata manis tanpa arti. Padahal, sebenarnya janji adalah bentuk dari komitmen yang harus dijaga.

By Alvares
24 February 2024
Card image
Self
Kesadaran: Pemotong Ilusi Waktu

1 hari = 24 jam. Rasanya semua orang tahu "fakta" ini. Dengan estimasi 15 derajat garis bujur per jam, seluruh dunia ini terbagi menjadi zona-zona waktu. Tetapi apakah seseorang yang tinggal di zona WIT (Waktu Indonesia Timur) hidup di masa depan dan yang tinggal di zona WIB (Waktu Indonesia Barat) hidup di masa lalu?

By Sugiarto
17 February 2024