Self Lifehacks

Meyakini Proses

Sejak kecil aku selalu membayangkan bahwa suatu hari akan bertemu pasangan, menikah dan punya anak. Tidak pernah terbayangkan bagaimana kalau seandainya tidak memiliki anak. Meski sebenarnya aku tidak menjadikannya sebuah keharusan tapi aku selalu berpikir pasti akan punya anak suatu saat. Namun bayangan masa kecil itu tidak semudah kenyataan. Ketika bertahun-tahun pernikahan belum diwarnai kehadiran anak, aku seperti harus menulis ulang cerita hidupku dan kembali meneliti diri yang diikuti dengan berbagai pertanyaan dalam kepala.

Bagaimana kalau perjalananku dalam hidup ini memang bukan untuk memiliki anak? Bagaimana kalau aku menjadi salah satu wanita yang diberikan berkat melimpah di aspek lain dalam hidup kecuali anak? Apakah aku akan baik-baik saja? Apakah aku akan tetap bahagia? Apakah jika aku dan suami tidak memiliki anak, kami akan tetap bahagia, tetap baik-baik saja?

Di awal menikah aku dan suami (Cassanova Alfonso —red) memang tidak langsung merencanakan punya anak. Bukan sengaja menunda, tapi kami cenderung menjalani pernikahan dengan santai. Untungnya juga, kami tidak pernah dapat tuntutan dari siapapun. Tidak ada yang mendorong untuk cepat-cepat punya anak. Namun di usia pernikahan yang kelima, kami mulai bertanya-tanya mengapa belum juga punya anak. Padahal di antara teman-teman kamilah yang lebih dulu menikah tapi mereka cukup cepat punya anak setelah menikah. Pernah kami berpikir apakah perlu atau tidak cek ke dokter. Tapi kembali ke prinsip kami yang cukup santai, akhirnya kami menjalani saja. Go with the flow

Bertahun-tahun berikutnya, kami masih belum dikaruniai anak. Di saat itulah kami merasa sepertinya ada yang salah. Tanpa pikir panjang, kami langsung menentukan untuk mengikuti program IVF (In Vitro Fertilization) karena tidak ingin membuang waktu mengingat umur kami yang sudah kepala tiga. Kebetulan kami juga sudah pernah mendengar tentang IVF dari teman yang berhasil hamil dengan cara ini sehingga pilihan tersebut seperti sudah ada dalam pertimbangan kami. Sayangnya, aku saat itu sudah tanda tangan kontrak untuk sinetron sampai akhirnya kami sepakat untuk menunda program selama setahun. Entah bagaimana selama satu tahun itu dibukakan banyak informasi bermanfaat tentang IVF. Mulai dari rekomendasi dokter hingga segelintir orang yang berbagi pengalamannya tentang menjalani program IVF.

Akhirnya setelah satu tahun menunda, aku membuat keputusan untuk berhenti kerja. Sama sekali tidak mengambil pekerjaan apapun. Tentu saja bukan keputusan mudah. Selama 16 tahun aku sudah bekerja tanpa jeda. Aku begitu mencintai pekerjaan yang membuatku merasa produktif dan berguna. Walaupun sulit, aku memantapkan pilihan karena tahu setelah ini akan hamil dan punya anak. Tahapan pertama adalah operasi OPU (Ovum Pick Up) untuk mengambil sel telur yang akan difertilisasi (dikawinkan dengan sperma). Kami memiliki tiga embrio untuk nantinya ditransfer ke dalam rahim. Percobaan pertama, kami optimis sekali semua akan berjalan sesuai harapan. Aku sampai sudah bilang ke keluarga dan teman-teman. Akan tetapi, Tuhan berkata lain. Percobaan pertama tidak berhasil.

Aku tahu tingkat keberhasilan IVF hanya berkisar antara 30-50% saja. Tetap saja, aku sedih sekali karena sudah banyak berharap dan tidak terjadi. Meski setelah mendengar cerita-cerita pasangan lain yang harus menempuh percobaan berkali-kali, aku dan suami berusaha kuat menerima keadaan. Di percobaan pertama tersebut, kami juga langsung memasukan dua embrio sekaligus. Sehingga kami hanya punya satu kesempatan lagi. Ketika ditanya apakah ingin langsung diproses kembali, kami merasa belum siap karena masih merasa cukup patah hati. Kami memutuskan untuk menunda sejenak.

Di kala jeda, banyak yang menyarankan untuk melakukan upaya-upaya agar bisa berhasil di kesempatan kedua. Mulai dari akupuntur hingga naturopathy aku lakukan selama tiga bulan sebelum akhirnya memulai proses transfer embrio yang terakhir. Sampai waktunya tiba, rasa optimis dalam diri sudah berangsur-angsur berkurang. Di percobaan pertama sepertinya harapanku terlalu tinggi hingga aku kecewa saat gagal sehingga kali kedua itu aku tidak bilang siapa-siapa dan berpasrah pada apapun yang akan terjadi. Beruntungnya, kesempatan kedua membuahkan hasil. Aku positif hamil. 

Dari perjalanan kehamilan tersebut aku banyak belajar tentang menerima keadaan dan berpasrah. Aku belajar menerima kekuranganku tanpa perlu merasa nilaiku sebagai wanita, istri, dan individu berkurang karena tidak bisa memiliki anak. Belajar bahwa kita manusia sebaiknya tidak didefinisikan oleh pekerjaan, harta, jabatan, atau fisik. Termasuk dengan punya anak atau tidak. Our values are just who we are. Dan kala aku sudah bisa menerima itu, menerima bahwa di samping kesulitan yang dihadapi aku memiliki berkat yang luar biasa yaitu hubungan yang baik dengan suami, aku merasa cukup. Setelah mengalami pergulatan batin hingga akhirnya selesai dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang ada di awal, aku bisa menerima dan merasa bahagia, tiba-tiba Tuhan memberikan hadiah untuk hidup kami. 

Aku belajar menerima kekuranganku tanpa perlu merasa nilaiku sebagai wanita, istri dan individu berkurang karena tidak bisa memiliki anak

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga untuk aku tidak terlalu melekatkan diri dengan perasaan, kesuksesan, atau kegagalan sebab kita bisa terlena dengan itu. Saat sukses janganlah terlena berpikir semua berkat kerja keras kita sendiri saja. Saat gagal janganlah terlena menyalahkan diri sendiri. Hidup ini sudah berat dan terlalu berat untuk dipikul sendiri. Jadi ada waktu di mana kita harus menyerahkannya pada Tuhan karena Dia satu-satunya yang memegang andil besar dalam hidup kita. Kita hanya bisa berupaya, melakukan yang terbaik, berdoa, dan berpasrah dengan hasilnya. It’s the only way to live and stay sane.

Kita hanya bisa berupaya, melakukan yang terbaik, berdoa, dan berpasrah dengan hasilnya. It’s the only way to live and stay sane.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020