Self Planet & People

Menyikapi Konsumerisme Dengan Bijaksana

Andien

@andienaisyah

Musisi

Fotografi Oleh: Priscilla Du Preez (Unsplash)

Sadar atau tidak kita memang hidup di dunia yang selalu mengarah pada pengembangan dan peningkatan. Di dalamnya pun tak luput dari hal baik dan buruk yang bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang. Seperti juga industri fesyen yang memiliki dua sisi mata uang ini. Di satu sisi, industri fesyen memang bisa membantu negara dari segi ekonomi. Kampanye para produk-produk dari industri ini bisa meningkatkan kemampuan sebuah negara untuk bersaing bahkan untuk membuka banyak lapangan kerja.

Akan tetapi sisi buruknya tetap mengikuti. Banyak yang sudah membuktikan bahwa industri ini berkontribusi besar pada pencemaran lingkungan serta isu konsumerisme. Lama-kelamaan pun konsumerisme yang melekat pada kita menjadi sebuah budaya. Kita seringkali membeli barang bukan karena butuh tapi karena terbiasa membeli. Apalagi dengan majunya arus teknologi, media sosial misalnya. Produk fashion dan produk online lainnya semakin terpapar dan menggoda kita untuk menyentuh tombol “beli”. 

Belum lagi dengan daya beli yang melampaui kemampuan kita sebelumnya. Selain pemasukan secara umum sudah lebih besar ketimbang dulu, akses untuk jual-beli pun jauh lebih mudah. Kemunculan fenomena belanja online dan marketplace pun seakan menjadi pendukung kita untuk terus tergerus arus konsumerisme. Meski banyak dari kita sering mencari siapa yang salah akan tragedi ini menurutku sebenarnya konsumerisme erat kaitannya dengan pribadi kita sendiri.

Jika kita terus-menerus menyalahkan sebuah produk atau merek atas masalah konsumerisme sepertinya polemik ini tidak akan usai sampai kapanpun. Memang, tidak mungkin juga kita tutup mata dengan kodrat sebagai makhluk sosial yang masih punya tuntutan untuk mengkonsumsi suatu barang demi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Namun penting adanya kita membangun kesadaran diri untuk memahami bagaimana diri kita bisa berkontribusi di lingkungan untuk membuat sebuah perubahan. Mau mempelajari akar permasalahan budaya konsumerisme serta kaitannya dengan kerusakan lingkungan baru mencari solusi sebijak mungkin. 

Kalau kita bergeraknya bersama untuk memerangi konsumerisme aku pun yakin masalah ini lama-kelamaan akan berkurang. Produksi massal akan berkurang. Dari observasiku selama ini sebenarnya isu lingkungan sudah banyak diangkat akhir-akhir ini. Apalagi di luar negeri di mana para figur publik sudah banyak menyadari akan isu konsumerisme yang berujung ke kerusakan alam tersebut. Sarah Jessica Parker, misalnya. Dia sudah berkomitmen untuk tidak lagi membeli pakaian baru bahkan untuk anaknya yang masih bayi. Dia hanya membeli barang-barang bekas. Di Amerika pun sudah sangat banyak toko-toko yang menjual barang bekas. Masyarakat bisa menaruh barang-barang yang sudah tak diinginkan kemudian dijual kembali. Begitu juga di Jepang. Aku sering sekali menemukan toko yang menjual pakaian bekas untuk anak-anak yang kualitasnya masih amat bagus.

Perlu diakui di negara kita masyarakatnya masih terlambat menyadari isu ini karena kita belum mengetahui pentingnya menggunakan barang dengan bijak. Masih banyak orang yang masih mementingkan gengsi untuk membeli barang bermerek. Itulah mengapa perlu diadakan gerakan-gerakan tertentu yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu dan solusi konsumerisme itu sendiri. Melihat contoh-contoh yang sudah ada itu pula yang menjadi salah satu alasanku memulai gerakan jual-beli barang preloved atau barang bekas.

Aku percaya gerakan ini bisa mengurangi konsumerisme. Aku adalah salah satu bukti nyata. Dulu aku sangat konsumtif. Tapi sekarang ketika sudah dapat lebih sadar dan bijak dalam membeli barang seperti pakaian aku bisa memiliki kepuasan sendiri. Selain bangga bisa membeli barang dengan harga yang cenderung murah, aku merasa telah membantu orang yang tidak lagi menginginkan barangnya dan sekaligus membantu mengurangi limbah fashion dengan membeli pakaian second. Kesenanganku yang tadinya hanya sekadar karena menemukan barang-barang vintage yang one of a kind bahkan terbilang unik, menjelma menjadi sebuah kebaikan untuk orang lain dan lingkungan sekitar.

Bertajuk Salur.id, aku mencoba untuk menyebarkan kesadaran tentang berbelanja secara bijak. Pengalamanku dari semenjak kuliah yang suka membuat garage sale serta kegemaranku pergi ke toko-toko vintage mendukung akan adanya gerakan sosial ini. Beberapa tahun terakhir -bahkan sebelum nama Salur mencuat di masyarakat, aku sudah melakukan studi kasus terlebih dahulu. Bekerja sama dengan Kitabisa, sebuah situs crowdfunding ternama di Indonesia, aku menggalang dana untuk menyalurkan hasil dari penjualan barang-barang bekas ke yayasan sosial untuk kepentingan pendidikan dan lain-lain. Kemudian aku juga mengadakan beberapa kali garage sale yang hasilnya menuai perhatian masyarakat luar biasa.

Sekarang dengan adanya Salur aku berharap untuk dapat memperbesar cakupan gerakan jual-beli barang preloved ini supaya tidak hanya orang Jakarta saja yang bisa berpartisipasi tapi dari luar Jakarta juga bisa. Kini pun kami punya beberapa format untuk meneruskan pesan yang ingin kami sampaikan yaitu secara online di mana tiap hari orang bisa akses dan melakukan transaksi jual beli baju bekas. Acara offline seperti buat bazaar dan masuk ke acara-acara yang berkaitan dengan gerakan kami. Serta membuat garage sale di gudang kami di mana orang-orang sekitar bisa taruh barang mereka dan beli baju bekas yang kami distribusikan.

Tidak semata-mata hanya berjualan, payung Salur pun mencoba untuk memberikan edukasi tentang berbelanja dan menggunakan barang secara bijak. Kami berusaha untuk memberikan informasi tentang bagaimana cara mengalihfungsikan barang sehingga tidak asal dibuang saja. Misalnya pakaian dalam bekas. Tentu saja sulit untuk menemukan tempat yang dapat menyalurkan pakaian dalam bekas untuk dijual kembali. Tapi mereka bisa membagikannya pada tempat penampungan hewan untuk digunakan kembali di sana. Di samping itu kami juga berusaha membagikan kiat-kiat agar dapat mempertahankan barang tetap berada di dalam kondisi baik sehingga bisa bertahan lama.

Penyebaran isu decluttering yang kini sedang marak pun berada dalam agenda. Aku melihat banyak orang yang merasa lemarinya sudah sesak dengan pakaian dan membutuhkan aktivitas decluttering (memilah barang yang sudah tidak dibutuhkan atau dipakai). Jadi sebenarnya Salur pun terbilang dapat menjadi penampungan pakaian mereka yang sudah kesulitan mengatur lemari tapi tidak tahu harus ditempatkan di mana atau diberikan ke siapa. Walaupun begitu, aku dan tim Salur tetap melakukan kurasi pada pakaian-pakaian yang dikirimkan. Tidak semua bisa lolos seleksi karena aku tahu benar banyak orang tetap akan memilih barang bekas yang berkualitas. Untungnya, barang-barang yang tidak lolos kurasi biasanya akan dimanfaatkan juga untuk menjadi produk baru. Aku mempekerjakan tukang jahit keliling untuk membuat kembali potongan-potongan baju yang tidak lolos kurasi untuk jadi barang baru. Tidak ada yang terbuang, tidak ada yang sia-sia. Semua pasti ada solusi bijaknya.

Related Articles

Card image
Self
Tetap Berada Di Lingkaran

Terkadang kita lupa kalau bumi itu bulat. Terkadang kita lupa akan konsep alfa dan omega di mana keduanya berpusat pada satu titik. Terkadang kita lupa bahwa hidup itu polanya adalah sirkular (melingkar) bukan linear (garis lurus). Berawal dan berakhir di sebuah titik yang sama.

By Era Soekamto
14 September 2019
Card image
Self
Titik Keseimbangan Hidup

Dunia olahraga pun mengajarkanku banyak hal termasuk keseimbangan hidup. Kala aku harus melatih seseorang sebenarnya aku pun terbantu memahami diriku sendiri. Tidak hanya mereka yang terbantu untuk mencapai gol kebugaran mereka, proses berlatih dan melatih pun mengajarkanku untuk memahami gol kebugaranku sendiri. Hingga aku mengerti bahwa hidup itu harus berada tengah, seimbang.

By Dinda Utami
14 September 2019
Card image
Self
Membangkitkan Energi Dalam Diri

Percaya tidak bahwa setiap orang itu pasti punya masa di mana kita merasa berada pada titik paling bawah hidup dan hampir merasa tidak lagi kuat menghadapi tantangan? Sebagian dari kita pasti pernah berada dalam masa-masa “kegelapan” yang mencampurkan segala emosi, dan pikiran sampai menghasilkan sebuah energi negatif lalu berperilaku negatif.

By Mutia Nandika
14 September 2019