Self Lifehacks

Menyambut Dekade Ketiga di Hidup

Usia 20-an saya bisa dibilang penuh dengan dinamika. Ada banyak fase yang saya lalui di usia kepala dua. Bisa dikatakan, awalnya saya adalah orang yang sangat ambisius, selalu merasa bahwa saya bisa memikul dan mengerjakan semuanya. Itu sebenarnya sangat wajar, rasanya usia itu adalah masa dimana kita baru melihat dunia luas. Lalu fase kedua adalah masa saya baru tersadarkan oleh realita bahwa ternyata ada banyak rintangan hidup yang harus dilalui. Setelahnya, di fase ketiga saya merasa semua abisi saya yang tadinya berapi-api akhirnya tereduksi hingga menjadi sebuah bagian paling sederhana, menjadi sebuah tujuan paling murni dari apa yang sebenarnya ingin saya wujudkan.

Bisa dikatakan, apa yang sudah saya lalui di usia 20-an merupakan fase persiapan saya untuk hidup sekian tahun ke depan. Tiga tahun terakhir, saya juga merasa mendapat banyak sekali pelajaran. Waktu dimana circle pertemanan kita sudah semakin kecil, saat kita sudah mulai menyadari kapabilitas, dan posisi diri sendiri. Sering kali penyadaran akan situasi kita saat ini tidak datang dengan ramah, kadang ia datang dengan sangat kejam. Di kesempatan lain mungkin kita juga sering ditampar oleh kenyataan, tapi hidup memang begitu, kita harus belajar menerima kenyataan dengan lapang dada.

Sering kali penyadaran akan situasi kita saat ini tidak datang dengan ramah, kadang ia datang dengan sangat kejam. Di kesempatan lain mungkin kita juga sering ditampar oleh kenyataan, tapi hidup memang begitu, kita harus belajar menerima kenyataan dengan lapang dada.

Pelajaran pertama yang saya ambil adalah, kita akan berjalan dengan timeline kita sendiri. Klise, tapi pada akhirnya saya menyadari bahwa ini sangat benar. Tidak semua orang diciptakan untuk blooming  di awal usia 20-an. Mungkin di pertengahan usia kepala dua, mungkin juga masih harus menunggu 5 atau 10 tahun lagi. Pada akhirnya hidup tetap harus dijalani, dan kita nantinya juga akan memahami apa yang baik dan buruk untuk diri sendiri.

Kedua, satu-satunya yang konstan dalam hidup adalah perubahan. Ya, ini juga klise, tapi kita akan mengalami perubahan puluhan sampai ratusan kali dalam hidup. Bahkan, apapun yang menurutmu stabil dalam hidup, bisa saja berubah esok. Di satu sisi, saya juga merasa ini adalah kenyataan yang melegakan. Tau bahwa hidup pasti berubah, saya merasa bahwa apapun hal buruk yang sekarang sedang dialami, nanti akan berubah. Kata orang, kalau kita mau sembuh, kita harus menelan pil pahit dulu, ini semacam satu paket yang tidak bisa dilepaskan. Begitu juga dengan hidup.

Kata orang, kalau kita mau sembuh, kita harus menelan pil pahit dulu, ini semacam satu paket yang tidak bisa dilepaskan. Begitu juga dengan hidup.

Kini, saat memasuki dekade ketiga di hidup, kekhawatiran itu pasti ada, tapi ternyata saya malah lebih bersemangat menyambut kemungkinan-kemungkinan yang akan hadir. Dulu, sekitar dua atau tiga tahun lalu, saya merasa takut menyambut usia ini, karena merasa hampir sampai ke garis akhir. Takut, karena belum mencapai apa-apa menjelang tiga puluh ini. Sekarang saya menyambut usia tiga puluh dengan tangan terbuka. Saya menantikan apa yang mungkin terjadi di masa mendatang dan bertemu dengan hal-hal baru yang membuka pikiran. Kalau dipikir-pikir, ini serunya hidup, menantikan segala kemungkinan yang ada.

Sekarang saya menyambut usia tiga puluh dengan tangan terbuka. Saya menantikan apa yang mungkin terjadi di masa mendatang dan bertemu dengan hal-hal baru yang membuka pikiran.

Hal yang saya syukuri selama perjalanan di usia 20-an adalah kesempatan untuk merasakan dinamika dalam hidup. Saya merasa, saya adalah orang yang cukup beruntung karena bisa memproses segala naik turun dalam hidup dengan baik. Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan melalui hal ini, karena kita juga tidak bisa menyamaratakan pengalaman hidup dan kondisi mental setiap orang. Maka, saya bersyukur karena bisa melalui proses pendewasaan ini dengan baik.

Seluruh cerita dan pembelajaran yang saya temui selama menjalani usia 20-an kemarin akhirnya saya rangkum dalam sebuah album bertajuk “Menjelang Tiga Puluh”. Saya hanyalah satu dari jutaan orang yang mengalami beragam dinamika kehidupan di usia 20-an menuju usia 30. Melalui album ini saya hanya ingin berbagi pandangan bahwa hidup memang selalu berubah. Saya harap album ini bisa hadir dan membantu teman-teman untuk selalu berpikir, bertahan, dan akhirnya mampui melampaui segala kesulitan dalam hidup.

Seperti bagian dari lirik lagu “Sudah Berbeda” yang ada dalam album terbaru saya kali ini, di usia 30-an mungkin banyak hal yang berbeda, dilihat dari berbagai sudut pandang. Lingkungan pertemanan kita mungkin berbeda, cara kita memaknai sebuah hubungan, dan karir juga sudah berbeda. Suka ataupun tidak, hidup akan terus berjalan, dan kita sebagai manusia hanya bisa beradaptasi dengan hal itu. Kadang hidup bisa terasa sangat buruk, di waktu lainnya bisa jadi terasa sangat baik, tapi yang perlu kita lakukan adalah bertahan dan melalui segala momen yang ada. Saya berharap sebagaimana album ini membantu saya bertahan hingga saat ini, semoga manfaatnya akan selalu ada sampai kapanpun album ini masih bisa didengarkan di luar sana.

Kadang hidup bisa terasa sangat buruk, di waktu lainnya bisa jadi terasa sangat baik, tapi yang perlu kita lakukan adalah bertahan dan melalui segala momen yang ada.

 

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024