Self Lifehacks

Menyalurkan Emosi Lewat Nada Dan Tulisan

Kemala Putri

@cicimala

Direktur Kreatif & Guru Piano

Ilustrasi Oleh: Robby Garsia (Atreyu Moniaga Project)

Terinspirasi dari pengalaman pribadi di mana pernah ada turbulensi hidup, aku mencari beberapa cara untuk menghadapi kondisi tersebut. Emosi yang aku keluarkan seringkali jadi negatif, meski maksud awalnya baik. Aku mencoba meditasi dan beberapa terapi lainnya namun nampak tidak terlalu efektif untuk aku secara personal. Hingga akhirnya aku sadar bahwa emosi yang ada di dalam diriku lebih baik disalurkan melalui hal yang lebih berfaedah seperti menulis atau bermusik. Aku perlahan paham bahwa emosi itu tidak pernah salah tapi terkadang waktu untuk meluapkannya yang tidak tepat. Aku menyadari bahwa kita sebaiknya mengungkapkan emosi tersebut dan salah satunya lewat journaling.

Emosi itu tidak pernah salah, tapi terkadang waktu untuk meluapkannya yang tidak tepat.

Di zaman modern ini banyak orang yang sering mengemukakan emosinya lewat tulisan. Sayangnya terkadang tertuang di media yang kurang tepat di mana tidak ada filterisasi bahasa, salah satunya media sosial. Tidak jarang journaling di media sosial dapat memercik masalah lain terlebih jika yang dipublikasikan itu berhubungan dengan pihak lain. Contohnya saja pemilu kemarin. Banyak orang mengeluarkan kekesalannya di media sosial kemudian malah menciptakan drama dengan orang-orang yang berbeda kubu dengan kita. Itulah mengapa sebenarnya mengungkapkan emosi bisa dilakukan tanpa harus dipublikasi. Jika ingin diungkapkan di media sosial, baiknya ditinjau ulang tutur bahasanya agar tidak terkesan menggurui apalagi menyerang.

Ingat tidak saat kecil kita sering menulis buku harian? Inilah cara sederhana untuk mencurahkan emosi kita. Perlu diingat bahwa emosi ada yang negatif seperti marah, sedih atau takut dan ada juga yang positif yaitu bahagia, excited, dan tenang. Ketika kita menuliskan di secarik kertas kita bisa meninjau kembali emosi yang sebenarnya dirasakan. Apakah itu emosi negatif atau positif. Dari situ kita bisa mengerti lebih dalam setelah dibaca ulang dengan kepala dingin sehingga kita bisa fokus ke solusinya dan tidak terjebak dalam pemicu emosi-emosi tersebut.

Menulis buku harian merupakan cara sederhana untuk dapat mencurahkan emosi kita karena saat menulisnya kita bisa meninjau kembali emosi yang sebenarnya dirasakan.

Dari pengalaman yang ada, aku mengembangkan hal tersebut lewat musik. Saat kuliah dulu, aku mendapatkan mata kuliah bahasa visual di mana aku belajar untuk memvisualisasikan emosi dari sebuah lagu lewat gambar di secarik kertas. Sebagai guru musik, aku mencoba menerapkan teknik visualisasi musik ini lewat tulisan (journaling). Aku melihat beberapa teman nampak membutuhkan kegiatan seperti ini karena penatnya hidup di kota besar yang memunculkan stres hingga depresi. Itulah akhirnya aku mengadakan workshiop Musical Journaling di Jakarta beberapa waktu lalu. Karena aku ingin berbagi pengalaman aku dalam mengatasi emosi yang dirasakan.

Dalam workshop Musical Journaling ini, para peserta bisa curhat, menulis puisi atau ber narasi. Boleh pengalaman pribadi maupun cerita fiksi. Tidak ada batasan apa yang ingin diungkapkan dalam tulisan tersebut. Aku merangkai prosesnya dari awal hingga akhir senyaman mungkin selama kurang lebih 1,5 jam. Di awal sesi, pikiran dan hati di tenangkan dulu lewat meditasi dan latihan pernapasan. Setelah itu baru memasuki eksplorasi emosi lewat lima lagu yang memicu kesedihan, kemarahan, kekhawatiran, relaksasi dan kebahagiaan. Dengan memutarkan lima lagu tersebut secara berkesinambungan, peserta akan dibimbing untuk menuliskan proses perubahan mood-nya.

Di setiap lagu, aku akan menuntun proses menulis para peserta. Mengajak mereka membayangkan musik tersebut bagaikan soundtrack sebuah film. Lalu aku mengajak peserta untuk eksplorasi lebih jauh lagi, dimulai dari seperti apa karakter tokohnya, pria atau wanita, umurnya berapa, perasaannya bagaimana. Dilanjutkan dengan berimajinasi dengan lokasi, latar tempat dan sebagainya. Dengan cara ini mereka pun akan lebih mudah menuangkan pikiran dan perasaan saat itu secara sistematis dan dan terstruktur. Musiknya pun disesuaikan dengan tempo menulis peserta. Kalau memang belum selesai bercerita, musiknya bisa diulang lagi. Yang terpenting adalah saat sesi music journaling tersebut peserta mencurahkan emosi yang mereka rasakan sedetail mungkin.

Aku sangat berhati-hati dalam pemilihan lagu. Saat musik yang memunculkan kesedihan dan kekhawatiran diputar, peserta bisa overwhelmed mengikuti curahan tulisannya. Jadi saat memasuki lagu yang riang aku mengajak peserta untuk “joget” dulu, agar seluruh tubuh bergerak dan semua energi tersalurkan maksimal sehingga tidak terjebak dalam energi dari lagu sebelumnya.

Sesi workshop dilanjutkan dengan sharing session, peserta dibolehkan untuk membagikan “karangan”-nya secara sukarela. Ada beberapa yang menangis pada tahap ini karena ternyata mereka menceritakan pengalaman personalnya. Tujuan dari workshop ini adalah belajar mengolah emosi lewat tulisan dan musik sehingga tidak dipendam dan berujung negatif.

Ada seorang peserta yang pernah memendam emosinya cukup lama. Pada saat itu beliau sedang mengandung. Setelah menuliskan ceritanya hingga akhir, dia menyadari bahwa ada beban tanggung jawab ketika mengurus rumah tangga. Suatu saat beliau tidak sadar menumpahkan rasa lelah ini pada anaknya. Hal-hal seperti ini lah yang bisa memperkeruh situasi. di mana kita mengungkapkan emosi di media yang tidak tepat.

Sederhananya, sedih itu emosi dan bukan hal yang salah. Justru harus dikeluarkan. Bisa lewat menangis, menulis surat atau kegiatan berfaedah lainnya. Kalau hanya dipendam, suatu saat bisa meledak dan berdampak buruk untuk diri sendiri bahkan orang lain. Merasakan kesedihan itu tidak salah, terlebih sembari mendengarkan lagu yang sesuai perasaan, berulang-ulang. Nikmati prosesnya apapun itu asal tidak berlarut dan membiarkan diri tenggelam dalam satu emosi saja. Kita harus ingat untuk kembali pada realita cepat atau lambat. Ketika kita bisa menelaah pemicu emosi kita dengan kepala dingin, solusi akan lebih mudah didapat

Sedih itu emosi dan bukan hal yang salah. Justru harus dikeluarkan.

Related Articles

Card image
Self
Memulai Kembali

Semoga kalian akan mengingat perasaan saat berpikir tidak ada cahaya yang menyambut di ujung terowongan yang kalian lalui. Semoga kalian akan mengingat masa-masa di mana kalian pikir tidak akan dapat melaluinya. Semoga kalian mengingat masa-masa itu hanya sebagai pengingat bahwa segala sesuatunya ternyata bisa menjadi lebih baik.

By Cath Halim
18 January 2020
Card image
Self
Keluar Dari Zona Nyaman

Mendengar kata ‘pindah rumah’, mungkin yang terbayang di benak banyak orang adalah sebuah babak hidup baru dan segala kerepotan hal teknis yang mengikuti. Namun, terlepas dari apapun faktor di baliknya, apakah karena keinginan sendiri atau bukan, pindah rumah mendorong kita untuk menemukan sisi terbaik diri dengan memaksa kita keluar dari zona nyaman.

By Nike Prima
18 January 2020
Card image
Self
Tahun Baru, Pekerjaan Baru

Tahun yang baru biasanya memberikan kita semangat baru untuk memulai sesuatu yang baru. Di penghujung tahun banyak dari kita merefleksikan kembali apa yang sudah dan belum dicapai dalam hidup. Termasuk dalam pekerjaan. Tidak jarang di saat yang sama terlintas pemikiran untuk memperbaiki perjalanan karier.

By Janis Katindig
11 January 2020