Self Planet & People

Menumbuhkan Kebaikan

Tantri Namirah

@tantrinamirah

Pengusaha Kreatif & Petani Kota

Presiden Soekarno dulu pernah menyatakan bahwa beliau bangga menjadi anak petani. Kini aku bisa merasakan kebanggaan itu semenjak memiliki kebun sayur sendiri. Bertani itu bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh tenaga, waktu dan dedikasi yang tinggi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Tanaman bagaikan seorang anak, perlu diurus, disayang, diajak bicara. Aku pernah beberapa hari tidak ke kebun lalu ternyata banyak tanaman yang mati, banyak rumput liar, seolah jiwa mereka hilang. Agar mendapat hasil maksimal, setiap hari aku harus bangun pagi untuk memeriksa kondisi benih-benih yang ditanam, membersihkan rumput-rumput liar, menyirami, hingga mengajak bicara agar mereka bisa tumbuh dengan baik. 

Mamaku pernah mengingatkan bahwa tanaman juga makhluk hidup yang bernapas dan bertumbuh. Mereka hanya tidak bisa bicara. Jadi sebenarnya mereka sama dengan manusia yang juga suka mendengarkan pernyataan positif. Mereka bisa tumbuh dengan baik kalau diperlakukan dengan baik. Percaya tidak percaya, aku membuktikannya. Ketika tanaman diberikan afirmasi positif mereka tumbuh lebih lebat dan rasanya lebih enak saat dimasak. Lagi pula, menghabiskan waktu di kebun pagi-pagi sambil menikmati embun dan suara burung seolah seperti me-time. Sungguh situasi yang sangat meditatif dan seakan membayar semua kerja keras, rasa lelah dan keringat yang dikeluarkan selama menanam dan merawat. Kala sudah bisa dipetik hatiku rasanya senang dan puas sekali.

Dari bercocok tanam aku juga belajar tentang menghargai seluruh makhluk hidup yang ada di dunia, sekecil apapun mereka. Mereka butuh disayang, dihargai dan diajak kompromi. Sampai kalau melihat cacing, aku sekarang cuma memerhatikan saja dan dalam hati berpikir dia pasti butuh makan juga. Aku belajar untuk bisa meningkatkan rasa toleransi pada semua makhluk, mencoba memahami kehidupan mereka. Seperti juga saat hendak panen sayur, aku harus pastikan dulu apakah ia sudah kuat atau belum untuk dicabut. Kalau batangnya belum kokoh tapi sudah dicabut, nantinya sayuran rasanya akan kurang enak dan cepat layu.

Dari bercocok tanam aku juga belajar tentang menghargai seluruh makhluk hidup yang ada di dunia, sekecil apapun mereka.

Selain itu, kesabaran juga pelajaran berharga yang aku dapatkan dari bercocok tanam. Dulu aku orang yang ingin serba cepat. Saat mulai rajin menanam, aku belajar untuk bisa menghargai proses. Lebih bersabar. Segala upaya yang dilakukan untuk menumbuhkan sayur hingga bisa dipanen membutuhkan proses yang cukup panjang. Belum lagi jika tanaman terserang hama. Aku sendiri pernah mengalami gagal panen. Satu blok bayam yang sudah susah payah aku tanam dimakan hama. Aku jadi mengerti bagaimana rasa sedihnya tidak bisa panen. Ini mengajarkanku bahwa dalam hidup banyak hal yang mungkin hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, kita tetap harus menghargai setiap detik perjalanan untuk mencapainya. Saat mengalami kegagalan, mungkin belum saatnya aku mendapatkan. Yang terpenting adalah aku sudah mencoba dan menjalani prosesnya. Menurutku, selama kita hanya melihat hasilnya saja dan tidak menghargai proses, nantinya kita justru sulit menghargai hasil dan tidak pernah puas.

Dalam hidup banyak hal yang mungkin hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, kita tetap harus menghargai setiap detik perjalanan untuk mencapainya.

Selama menjalani proses bertani mulai dari menyebar bibit hingga panen, aku pun meningkatkan rasa bangga pada para petani. Kita harus berterima kasih sekali pada para petani yang setiap hari berdedikasi menanam sayur mayur dan buah-buahan. Aku tahu betapa sulitnya merawat tanaman dengan segala jerih payah dan tantangan musim. Kalau tidak ada mereka, kita tidak bisa makan. Sehingga aku juga jadi lebih menghargai makanan yang disantap. Begitu pula suamiku yang tadinya tidak suka sayur jadi suka karena tahu aku yang merawat dan panen selain karena rasa sayur yang ditanam sendiri lebih enak. Ini salah satu alasan mengapa aku merasa senang dan puas sekali mengolah lahan kecil dengan berbagai sayur yang kutanam. Sampai aku membuat gerakan sosial bernama @ku.tanami agar sayur-sayuran ini bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang. 

Saat sudah panen, aku membagikan pada tetangga, teman-teman atau saudara. Aku juga memberitahu warga sekitar rumahku bahwa mereka dipersilahkan mengambil hasil panen. Tapi di waktu yang sama aku mendorong mereka untuk sama-sama merawat agar bisa terus bermanfaat bagi banyak orang. Tanggapan mereka positif sekali. Ada yang mengatakan dia jadi suka sayur sejak aku memberikan hasil panenku. Bahkan ada yang mau datang ke rumahku untuk merasakan pengalaman panen. Ini menambah semangatku untuk terus bertani karena ternyata manfaat sayur juga bisa menjaga silahturahmi.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020