Circle Love & Relationship

Menjauhkan Yang Dekat

Greatmind x Wealth Wisdom 2019

@permatabank

Advertorial

Fotografi Oleh: Casper Nichols (Unsplash)

Coba ingat kembali, kapan terakhir kali Anda benar-benar menatap wajah saat berinteraksi dengan anak, pasangan, atau sahabat – tanpa sekalipun melirik layar ponsel? Mungkin butuh waktu lama untuk mengingatnya karena hampir setiap hari hidup kita berkutat pada alat canggih tersebut hingga seakan-akan kita telah kecanduan padanya.

Ketergantungan kita terhadap teknologi umumnya disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ia bawa dalam hidup. Teknologi bisa menghadirkan apa pun yang kita butuhkan dalam menjalani hari. Mulai dari berita dunia terbaru, kesempatan untuk berbincang dengan teman yang terpisahkan jarak, bahkan hingga mencarikan jodoh. Semuanya dapat dilakukan semudah menekan jari pada layar ponsel.

Ketergantungan kita terhadap teknologi umumnya disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ia bawa dalam hidup.

Begitu candunya manusia modern dengan ponsel sampai-sampai berdasarkan riset terkini yang dirilis oleh Deloitte, rata-rata orang di dunia mengecek ponselnya sebanyak 47 kali dalam satu hari. Atau hingga 82 kali bagi mereka yang berusia di antara 18 hingga 24 tahun!

Menarik saat mengetahui bahwa dengan semakin canggihnya teknologi, manusia semakin mudah terkoneksi dengan satu sama lain. Dengan mudahnya kita dapat berkomunikasi dengan orang lain di belahan lain bumi dalam waktu singkat. Mediumnya pun beragam, mulai dari teks, suara, video, bahkan hingga ikon-ikon emoji. Namun ironisnya secara bersamaan, era ini pun merupakan waktu di mana manusia pun menjadi lebih ‘terputus’ dengan sekitarnya.

Kecanduan kita pada teknologi terkadang justru mengalahkan perasaan kita terhadap manusia lainnya. Dalam situasi-situasi seperti saat bersama pasangan, orangtua, anak, atau sahabat – yang semestinya merupakan momen intim – terkadang dirusak oleh keinginan kita untuk terus membuka ponsel yang tak jarang bukan karena memang ada urusan penting namun hanya karena sekadar iseng. Hingga pada akhirnya kita lebih mengacuhkan ponsel dibandingkan orang-orang di sekitar. Bayangkan perasaan orang yang tengah berada bersama kita tersebut – bahwa orang yang mereka cintai ternyata lebih merasa benda mati bernama ponsel itu jauh lebih menarik dibandingkan mereka. Menyedihkan, bukan?

Kecanduan kita pada teknologi terkadang justru mengalahkan perasaan kita terhadap manusia lainnya.

Manusia modern seperti kita sepertinya telah banyak melupakan bahwa kunci hubungan yang baik adalah menjaga koneksi personal. Koneksi semacam ini hanya dapat tumbuh dari komunikasi dan juga sentuhan secara langsung. Sementara kebiasaan kita untuk larut dalam dunia maya malah kebalikan dari koneksi personal tersebut – kita seakan menarik diri dari dunia nyata dan menghilangkan koneksi dengan manusia lainnya.

Terkadang, kita sering menjustifikasi kebiasaan kita mengecek ponsel dan mengacuhkan pasangan sebagai bagian dari pekerjaan. Ya, di era digital seperti ini teknologi memang memberi kemudahan bagi kita semua untuk dapat melakukan pekerjaan di mana pun dan kapan pun. Bahkan tak jarang sumber penghasilan kita seluruhnya bergantung padanya. Meski argumen itu bisa terkesan valid sebagai ‘pembenaran’ namun nyatanya dalam hidup masih ada hal yang jauh lebih bermakna dari itu semua: hubungan dengan orang sekitar.

Kunci hubungan yang baik adalah menjaga koneksi personal yang hanya dapat tumbuh dari komunikasi dan sentuhan secara langsung.

Sesungguhnya hubungan kita dengan pasangan, orangtua, anak, dan sahabat jauh lebih bernilai tinggi dibandingkan dengan harta kekayaan. Hanya saja karena mereka selalu ada di sekitar, kita terkadang menjadi take them for granted – menyia-nyiakannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, jika kita sakit siapa yang akan merawat kita nantinya? Ribuan follower di Instagram? Tentu tidak. Sudah barang pasti, orang terdekat lah yang akan menjadi individu pertama yang akan mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya untuk kita. Jadi, untuk apa kita melupakan mereka hanya demi dunia maya? Atur prioritas antara kebutuhan kita untuk tetap terhubung dengan sisi lain dunia lewat bantuan teknologi dan sisihkan waktu yang cukup untuk mereka yang benar-benar ada di samping kita.

Related Articles

Card image
Circle
Memimpin Diri Sendiri Sebelum Orang Lain

Seiring berjalannya waktu, dunia selalu berubah termasuk dunia pekerjaan. Banyaknya “distraksi” yang disebabkan oleh perubahan budaya bekerja mendorong kita untuk bergerak dalam ritme yang lebih cepat dengan pemikiran yang lebih cepat pula untuk mengambil keputusan karena paparan informasi yang cenderung lebih banyak dikonsumsi.

By Vitayanti Wardoyo
12 October 2019
Card image
Circle
Membangun Rumah Bahagia

Berbicara mengenai rumah, selalu tidak ada habisnya. Saya sendiri selalu merasakan emosi yang bercampur aduk setiap kali mendapat kesempatan untuk bercerita tentang tempat yang bagi saya merupakan awal dari segala-galanya ini. Bahkan, saya percaya bila nasib seseorang bisa ditentukan dari rumahnya, karena rumah adalah tempat awal kita menata kehidupan. Bila kita tidak bisa menata rumah, maka belum tentu kita bisa menata kehidupan.

By Kania Annisa
28 September 2019
Card image
Circle
Mengantar Buah Hati Menuju Dewasa

Baik menjadi wanita karier dan seorang ibu keduanya memiliki kesamaan pada saat menjalani perannya masing-masing. Dalam memimpin sebuah tim, saya harus menutrisi anggota tim untuk berkembang maksimal. Sama seperti ibu dalam membesarkan anak, saya harus mengenali masing-masing anak dan menyadari bahwa potensi serta karakter setiap anak berbeda.

By Nonita Respati
28 September 2019