Self Lifehacks

Menjadi Idealis

Lucky Kuswandi

@luckykuswandi

Sineas

Fotografi Oleh: Ibrahim Rifath

Jika dipikir-pikir mengapa kita harus bersikap idealis? Mempertahankan apa yang kita percaya meski berbeda dengan orang lain? Mungkin bagi sebagian dari kita bersikap idealis hanya akan menuai kontroversi. Tapi menurut saya dengan bersikap idealis, kita memiliki kepercayaan pada diri untuk menjadi seseorang, melakukan sesuatu, dan berkontribusi di tengah-tengah masyarakat.

Apalagi dengan kondisi pemerintahan dan dunia yang sekarang ini semakin membutuhkan suara-suara lantang yang keluar dari idealisme seseorang. Suara kita sangatlah penting meski tidak berarti kita menerapkannya dengan memaksa orang lain untuk turut percaya. Sebaliknya, justru dengan berusaha memahami suara orang lain kita dapat belajar bagaimana mengeluarkan suara kita secara tepat dan sesuai. Karena terkadang pesan yang baik bisa salah ditangkap orang lain karena kita hanya “berteriak” saja tanpa mengerti bagaimana menjelaskan pesan tersebut.

Terkadang pesan yang baik bisa salah ditangkap orang lain karena kita hanya “berteriak” saja tanpa mengerti bagaimana menjelaskannya.

Begitu pula di setiap film yang saya buat. Terdapat pemikiran serta kepercayaan diri yang tidak hanya berasal dari saya tapi juga dari mereka yang terlibat di dalamnya. Kalau dilihat secara seksama, setiap film saya membicarakan identitas. Tentang bagaimana setiap orang seharusnya bisa bertanggung jawab dengan identitasnya sendiri. Beberapa karakter dari film-film terdahulu dibuat seakan menjadi orang asing di tempat tinggalnya sendiri. Contohnya saja film pertama saya yang berjudul Madame X. Bercerita tentang seseorang yang berasal dari kaum marjinal yang mendapat penolakan dari masyarakat, film ini membicarakan tentang keberagaman, eksklusivisme, dan negara yang semakin konservatif. Walaupun latarnya fiksi —berlokasi di antah berantah tapi sebenarnya isi ceritanya sangat relevan dengan apa yang terjadi di negara kita. Karya pertama tersebut memiliki keistimewaan sendiri untuk saya pribadi. Pengalaman saya saat itu masih sedikit tapi saya bangga karena ternyata pesan dari film di tahun 2010 itu berhubungan dengan apa yang kita alami saat ini dan dapat menjadi bahan refleksi.

Beberapa film juga berbicara tentang seksualitas. Seperti kita tahu, kita hidup di negara yang amat sensitif ketika membicarakan mengenai orientasi seksual. Kita hidup di negara yang pusing dengan urusan pribadi orang lain dan membatasi kebebasan seseorang dengan tubuh mereka sendiri. Saya sangat terganggu dengan hal ini. Kita punya hak untuk memiliki tubuh kita sendiri. Terlebih mereka perempuan yang banyak dirugikan soal ini. Menurut saya seksualitas bukan hal yang harus ditabukan tapi harus bisa dibicarakan dengan pemikiran yang dewasa dan bijaksana bukan dikaitkan dengan skandal atau apalagi politik. Jujur, ruang gerak kami sebagai seniman dan kreator saat ini semakin sempit dengan rancangan undang-undang yang membatasi kreativitas. Apalagi kemarin sempat terdengar kabar tentang rancangan undang-undang yang masuk ke ranah personal. Secara iklim tentu saja kita akan semakin sulit untuk membicarakan ini. Padahal saya percaya masyarakat kita sebenarnya terdiri dari individu dengan pemikiran terbuka dan bisa dewasa untuk diajak berdialog.

Kita hidup di negara yang pusing dengan urusan pribadi orang lain dan membatasi kebebasan seseorang dengan tubuh mereka sendiri.

Sayangnya isu ini memang sangat mudah dipolitisasi karena berhubungan dengan agama dan moral sehingga efektif sekali untuk bisa dijadikan alat politisasi oleh mereka yang berkepentingan. Meskipun begitu, saya tidak semata-mata berhenti mengangkat fenomena sosial ini. Saya tahu konsekuensinya seperti pada pekerjaan pada umumnya, semua pasti ada konsekuensi. Ada rasa takut ketika beberapa film yang membawa isu tersebut rilis. Akan tetapi saya bertanggung jawab dengan pilihan saya untuk berani menyuarakan apa yang saya percaya. Tujuannya toh bukan untuk berusaha mencuci otak masyarakat, mengikuti apa yang saya percaya atau setuju dengan pesan di dalam tersebut. Melainkan berusaha untuk menyuarakan pesan positif yang berdampak.

Itulah mengapa kita harus bisa menerima identitas diri sendiri dan memberikan apresiasi pada diri apapun itu, baik kelebihan maupun kekurangan. Sangat manusiawi jika terkadang kita merasa minder. Ketika melihat ada orang lain membuat film bagus sekali sampai masuk festival, tentu saja saya ada sedikit rasa minder. Tapi saya berusaha untuk tidak fokus pada orang lain. Saya fokus pada diri sendiri saja, mengubah rasa minder tersebut jadi motivasi. Tidak menghabiskan waktu dengan apa yang telah atau sedang dilakukan orang lain tapi apa yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri. Buatlah rasa rendah diri itu untuk kita merasa: saya bukan siapa-siapa. Sehingga terdorong untuk berkarya lagi, jadi orang yang lebih baik lagi. Jadikan orang lain itu inspirasi. Terlebih sebagai semangat bukan ancaman.

Sekarang ini banyak sekali generasi muda yang sangat berbakat. Mereka terbilang sudah bisa menghasilkan karya-karya yang impresif. Contohnya saja para mahasiswa di universitas saya mengajar. Saya justru banyak belajar dari mereka. Sangatlah menarik untuk bisa mengetahui perspektif generasi z. Melihat apa yang sedang mereka hadapi. Seakan seperti riset kecil-kecilan untuk proses berkesenian saya. Kalau saya merasa terancam dengan kehadiran mereka yang berkemampuan lebih di kala masih berusia muda, berarti saya tidak percaya diri dengan kemampuan dan karya saya sendiri. Lalu, apakah ya ini bisa membuat saya berkembang? Sepertinya tidak.

Sangat manusiawi jika terkadang kita merasa minder.

Related Articles

Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021
Card image
Self
Bahasa Cinta dari Ayah

Sosok bapak di mataku adalah pemegang hierarki tertinggi di keluarga. Bapak biasanya akan tetap hadir untuk keluarga di akhir pekan atau saat libur panjang. Setiap akhir pekan, ia sering mengajak kita sekeluarga untuk pergi bersama ke Six Flag atau pergi ke tempat rekreasi lainnya. Bapak punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

By Adrian Khalif
27 November 2021
Card image
Self
Merancang Hari Baru

Pada titik tertentu dalam hidup mungkin kita merasa sering bingung akan pilihan kita sendiri. Berpikir kenapa, ya, kok kita bisa memiliki perspektif yang mungkin berbeda. Tidak bisa memahami diri sendiri. Sebenarnya ini bisa saja berarti kita belum benar-benar bangun dalam versi organik diri kita. Buatku penting untuk bisa mengenali diri sendiri. Kita orang yang seperti apa, butuhnya apa, inti utama dari diri kita itu apa, hal ini terasa natural tapi juga tidak senatural itu.

By Lala Bohang
20 November 2021