Self Art & Culture

Menikmati Waktu Berplesir

Setiap orang pasti punya cara traveling yang berbeda-beda. Ada yang memang memiliki target seberapa banyak destinasi yang harus dikunjungi. Ada pula yang lebih suka ke tempat-tempat wisata dengan banyaknya pusat perbelanjaan. Ada yang lebih suka pergi sendiri, namun banyak juga yang masih memercayakan perjalanan wisatanya pada agen-agen tur karena banyaknya pertimbangan. Sebagian dari mereka berpikir jika bepergian tanpa agen perjalanan akan jauh lebih mahal. Belum lagi ketakutan akan kerumitan mengurus visa, keterbatasan bahasa, dan takut tersesat pergi sendiri. Padahal mungkin semua itu hanya karena tidak mau repot saja melakukan banyak riset tentang destinasi yang ingin dikunjungi. Buktinya saya bisa melewati sejumlah imigrasi di berbagai negara dengan paspor Indonesia dan berbekal uang dengan nominal yang tidak “wah”.

Ya, banyak orang memang lebih memilih untuk tahu beres, tinggal berangkat. Semua sudah diurusi oleh sang agen perjalanan. Alhasil sederetan jadwal kegiatan yang sudah diatur sedemikian rupa justru membuat mereka tidak bisa pergi sebebas-bebasnya. Begitu pun dengan pemilihan spot yang dikunjungi menjadi amat terbatas. Lalu bukannya menikmati perjalanan, relaks, malah stres yang didapat saking harus berkejaran dengan waktu yang telah ditentukan. Apa memang itu yang dicari saat liburan? Bukannya liburan itu harusnya jadi waktu kita senang-senang tanpa tekanan, leyeh-leyeh menikmati waktu di luar rutinitas?

Untuk dapat menikmati perjalanan berplesir menurut saya seseorang harus memahami konsep slow traveling terlebih dahulu. Sebuah konsep jalan-jalan dengan pace yang lambat namun penuh dengan pelajaran berharga. Slow traveling sebenarnya erat sekali kaitannya dengan living like a local. Di suatu destinasi kita tidak lagi bepergian ke tempat-tempat wisata namun justru hidup layaknya mereka yang tinggal di sana. Merasakan betul bagaimana kehidupan orang-orang lokal berkeseharian. Sebagai seorang travel writer konsep perjalanan seperti ini memang lebih banyak saya terapkan sebab pengalamanlah yang saya cari bukan seberapa banyak jumlah tempat wisata yang dikunjungi. Sehingga saya bisa banyak melakukan observasi dan kembali membagikan kisah-kisah yang didapatkan selama perjalanan dalam tulisan.

Bukti nyata slow traveling yang saya lakukan telah tertuang dalam dua buku saya The Naked Traveling: 1 Year Round-The-World Trip. Selama satu tahun saya pergi ke 22 negara di Eropa dan Amerika Selatan. Tidak bergegas dari satu negara ke negara lainnya, saya sengaja membiarkan diri saya melakukan eksplorasi on the spot. Tidak terlalu direncanakan. Akhirnya yang saya bawa pulang tidak hanya sekadar cerita-cerita unik dan seru tetapi juga pelajaran hidup yang berharga. Nyatanya slow traveling mengajarkan saya menjadi seseorang yang open mind. Selama perjalanan dengan pace yang lambat itu saya bisa lebih banyak berinteraksi dengan diri sendiri, memahami diri lebih baik. Secara tidak langsung slow traveling dapat menjadi praktik mindfulness. Perjalanan yang menyenangkan tanpa tekanan tentu saja bisa membantu kita menjernihkan pikiran. Perjalanan panjang itu juga membuat saya menyadari banyak hal termasuk kerinduan terhadap kampung halaman. Bukannya merasa ingin terus berada di negara orang lain saya justru rindu dengan rumah, dengan masakan khas Indonesia. 

Meskipun begitu cara saya berplesir tidak juga dijadikan patokan slow traveling. Tidak harus berwisata sepanjang tahun ke berbagai negara untuk mendapatkan pengalaman slow traveling. Kembali pada kehendak masing-masing orang, cara berlibur setiap pribadi pasti berbeda. Yang terpenting dari konsep slow traveling adalah menikmati suasana dan waktu yang ada dengan pace yang lambat. Tidak ada tekanan untuk mencapai satu tempat di pukul berapa. Berlibur seminggu ke Bali tanpa banyak rencana, menghabiskan waktu di tepi pantai sambil menyelesaikan buku bacaan bisa terbilang slow traveling. Saya pun sering sengaja memperpanjang perjalanan bekerja untuk menikmati waktu sendiri. Benar-benar menikmati apa yang ada di sekitar saya. Menurut saya hanya dengan begitu kita bisa lebih menghargai perjalanan berwisata. Paling tidak sekali seumur hidup harus dicoba. Lepaskan segala ekspektasi atas apa yang mungkin terjadi.

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021