Self Lifehacks

Menikmati Hidup Melambat

Sebelum pandemi, waktu terasa begitu cepat. Sebelum pandemi, kami selalu bekerja kejar tayang. Produktivitas, mobilitas dan disiplin tinggi membuat kami terbiasa merespon cepat, mengeksekusi kilat. Rasanya sebuah kesenangan tersendiri untuk kami dapat menyelesaikan banyak tugas dan tantangan. Lalu sekarang saat pandemi kami seakan dipaksa merasakan liburan. Disuguhkan kenikmatan baru dari hidup melambat. Diberikan kesempatan untuk melihat segalanya dengan cara yang berbeda. Kini — meskipun sebenarnya aktivitas menciptakan musik tidak terlalu jauh berbeda dengan dulu, pergerakan kami saja yang dibatasi. Kini, kami menghabiskan waktu di rumah hampir setiap saat. Kini, kami seakan merasa punya waktu lebih panjang untuk melakukan sesuatu tanpa perlu merasa dikejar-kejar sebuah kewajiban. Lebih santai menjalani hari-hari tanpa banyak distraksi.

Saat pandemi kami seakan dipaksa merasakan liburan. Disuguhkan kenikmatan baru dari hidup melambat. Diberikan kesempatan untuk melihat segalanya dengan cara yang berbeda.

Memang kondisi yang seolah dipaksa melambat ini memberikan suka duka tersendiri. Butuh waktu untuk bisa beradaptasi dan menerima keadaan. Awalnya, di satu setengah bulan pertama aku (Endah Widiastuti) sering gusar karena harus menyesuaikan dengan cara kerja baru: berjarak dan menggunakan teknologi. Aku adalah seseorang yang terbiasa mengendalikan dan mengatur banyak hal yang berhubungan dengan bisnis. Terbiasa melakukan koordinasi dengan cepat. Ketika kemudian semua komunikasi dibatasi dan hanya bisa lewat gadget, rasanya gemas sekali tidak lagi bisa fast response. Mempersiapkan presentasi secara daring merupakan tantangan tersendiri. Begitu juga mencari celah agar bisa video conference secara efektif. Tapi kemudian memang harus menunda berbagai hal. Melambatkan pergerakan. Akhirnya slow motion dengan sendirinya. Dan harus bilang, “Oke, aku harus menerima keadaan ini.” Belajar meditasi, yoga, sampai menjaga fokus pikiran yang tadinya gencar sekali berinteraksi sosial. Sekarang aku sudah bisa menikmati fase ini karena sudah mendapatkan polanya. 

Waktu yang melambat ini menurut kami baik sekali menjadi momen untuk meningkatkan waktu berkualitas bersama pasangan dan keluarga. Meski kami memang pasangan yang amat beruntung sebab bisa selalu bersama dalam pekerjaan dan keseharian. Bahkan sebelum pandemi dan mengharuskan kami banyak di dalam rumah. Kami sudah terbiasa seharian bersama. Hampir 24 jam sehari selalu ke mana-mana bersama. Sekarang di rumah saja hanya menambah kegiatan yang tidak kami lakukan sebelumnya. Mencari kegiatan lain bersama yang bisa melepaskan kebosanan. Entah main game, nonton serial TV atau bahkan membacakan buku ke satu sama lain. Saling dukung satu sama lain untuk saling mengisi waktu hingga kami tetap bisa selalu bersenang-senang bersama.

Menjalani hari-hari yang seolah melambat membantu kami berpikir lebih jernih. Juga melakukan banyak perenungan yang sebelumnya tidak terpikirkan karena menjalani waktu yang cepat. Seperti perenungan bahwa ternyata semua orang di dalam rumah ini sayang sama kita semua.” - Rhesa Aditya

Ternyata hidup melambat juga tetap membuat kami baik-baik saja. Ternyata tinggal kami saja yang harus pintar-pintar memanfaatkan waktu. Dan ternyata dari pergerakan yang melambat ini kami malah bisa menghasilkan karya yang begitu cepat prosesnya. Mungkin karena banyak waktu lowong dan sedikit gangguan, pikiran yang lebih santai membuat kami mendapat ide dengan cepat. Hingga terciptalah lagu “Ssslow” untuk mengabadikan momen ini. Lagu yang menawarkan sudut pandang yang berbeda dari kami berdua yang mungkin memiliki karakter berbeda. Sebuah lagu yang juga menjadi medium untuk kami bersenang-senang sekaligus menawarkan semangat optimisme bagi yang mendengar. 

Ternyata hidup melambat juga tetap membuat kami baik-baik saja. Ternyata tinggal kami saja yang harus pintar-pintar memanfaatkan waktu. Dan ternyata dari pergerakan yang melambat ini kami malah bisa menghasilkan karya yang begitu cepat prosesnya.

Ya, musik memang bisa merekam emosi dan kisah. Sehingga apa yang kami ingin hadirkan dalam berkesenian saat itu sudah pasti berasal dari emosi, kisah atau karakter dan identitas kami berdua. Lagu “Ssslow” dengan konsep warna-warni, nada yang ceria, lirik yang berasal dari lagu-lagu favorit kami, seperti sebuah cara untuk merayakan waktu yang melambat. Bahwa kita tetap bisa semangat dan optimis dalam keadaan ini. Kami merasa inilah yang dibutuhkan banyak orang. Termasuk kami. Lagu ini secara tidak langsung menjadi harapan untuk mengobati kami juga. Kami yang bisa dibilang sedih dan kecewa dengan kondisi sekarang namun tetap ingin berupaya untuk terus bergerak, berkarya. Agar kami juga bisa menyembuhkan diri kami sendiri. 

Related Articles

Card image
Self
Ketenangan Dalam Kesulitan

Ketenangan dan kedamaian itu bagaikan matahari. Ia selalu ada, tapi terkadang tidak nampak. Saat malam, bumi menutupinya hingga ia tidak terlihat. Begitu juga kala siang hari, ia sering tertutup awan. Akan tetapi ia tetap ada di sana, sama halnya seperti ketenangan.

By Reza Gunawan
26 September 2020
Card image
Self
On Marissa's Mind: Mindfulness

Saya pernah depresi. Lima tahun lalu, pada 2015, ada hari-hari dimana saya menangis tanpa mengerti apa alasannya. Saya juga pernah putus asa dan berpikir untuk mengakhiri semuanya. Akar derita? Trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Sekarang, saya masih di sini, merasa lebih baik. Untuk sampai di sini, saya melewati proses, salah satunya dengan mindfulness.

By Marissa Anita
26 September 2020
Card image
Self
Menghargai Pangan Seutuhnya

Pada dasarnya, kita harus berupaya untuk menghargai bahan pangan dan makanan karena kehidupan adalah sebuah berkah. Bumi ini memberikan kita pangan yang berkecukupan dan lengkap. Kita bisa tanam dan tumbuhkan sendiri. Bukankah ini sebuah berkah?

By Ivana Atmojo
26 September 2020