Self Lifehacks

Menikmati Hari Tua

Kian hari kian banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari masa lalu. Setiap hari rasanya kita berevolusi menjadi pribadi yang berbeda. Jika kita kembali menengok ke belakang sekadar untuk refleksi diri apa yang bisa kita syukuri? Bagi saya, saya bersyukur telah menjadi pribadi yang berbeda dari dua puluh tahun lalu. Seandainya saya bisa memberikan nasehat pada diri di usia 20 tahun lalu saya ingin bilang supaya tidak membuang waktu dengan memendam emosi yang tak ada gunanya. Saya menyadari betapa dulu bisa menjadi seseorang yang amat menyebalkan karena mudah temperamen. Sekarang saat mengingat masa itu seringkali saya berkata pada diri sendiri, “Mengapa dulu saya begitu, ya? Tidak ada gunanya.” 

Belum lagi dengan kebiasaan saya melakukan sesuatu untuk dipandang orang lain. Contohnya saja belanja berlebihan. Entah apa yang dicari dulu seperti haus akan pengakuan jika bisa membeli barang yang keren. Memang belanja bisa membuat senang. Tapi hanya sementara. Di usia yang sudah tidak muda lagi akhirnya saya sadar bahwa belanja tidak memenuhi perasaan bahagia seutuhnya. Kala itu saya selalu merasa ada yang hilang. Berbelanja secara impulsif tidak memuaskan saya. Hingga kini saya sudah sangat mengurangi kebiasaan itu dan berupaya untuk mengetahui benar-benar mana yang memang dibutuhkan dan diinginkan. Dulu mungkin saya lebih rapuh sehingga tidak berpikir panjang. Namun sekarang semuanya terlihat lebih jelas. Saya ingin memperbaiki yang salah dan mencari apa yang membuat diri ini benar-benar bahagia.

Saya ingin memperbaiki yang salah dan mencari apa yang membuat diri ini benar-benar bahagia.

Saya akui mungkin masa muda saya tidak dilalui dengan sepenuhnya. Tidak lama setelah lulus kuliah saya sudah menikah. Bisa dibilang saya cukup terlambat memulai karier. Di saat teman-teman sudah bekerja di perusahaan bonafit atau sudah punya investasi jangka panjang. Bisa dibilang di awal umur 30 saya justru selayaknya anak baru mendapatkan mainan. Baru senang-senangnya mengejar apa yang ingin dilakukan. Mungkin karena saya adalah seseorang yang tidak pernah merencanakan. Menjalani waktu dengan apa adanya. Tak pernah berencana sukses dan pensiun di umur 40. Sampai-sampai suka lupa dengan umur saat ini yang menginjak ke kepala lima. Baru setahun belakangan saya benar-benar memikirkan usia yang sudah menua. Sebelumnya tak pernah terlalu dipikirkan. Walaupun saya menyadari memang sudah ada yang mulai melambat. 

Hanya saja menurut saya tua adalah sekadar pola pikir. Ada rasa khawatir dalam diri tapi tidak berlebihan. Saya menyiasati kekhawatiran dan ketakutan akan waktu — terlebih akan kematian, dengan melakukan segalanya sebaik-baiknya. Biasanya ketika khawatir datang saya mulai menjabarkan apa yang membuat khawatir. Semakin bertambah usia pasti kesehatan menjadi kekhawatiran utama. Tubuh tidak lagi sebugar dulu. Memahami ini saya pun menyiasatinya dengan olahraga yang benar. Toh, ketakutan hanya ada di pikiran saja. Kita harus bisa memeranginya. Jangan sampai terbuai dengan ketakutan. Misalnya dengan ketakutan akan kematian. Teman-teman saya sudah banyak yang tiada. Tapi bukan berarti saya tidak lagi melakukan apa-apa karena takut meninggal. Justru sebaliknya, selama masih masih sehat, masih punya banyak tenaga melakukan berbagai hal dan masih diberikan waktu oleh Tuhan saya mau membuatnya berarti. Mengisi kekosongan yang saya rasakan waktu muda. Jadi saya menjalani keseharian untuk mengisi harapan itu. Butuh proses memang untuk menggali apa yang bisa mengisi ruang kosong itu. Perlahan hingga kini setelah banyak pelajaran berharga yang didapatkan dalam hidup, saya tahu bahwa dengan bermanfaat untuk orang lain bisa membuat saya merasa bahagia secara penuh.

Dengan bermanfaat untuk orang lain bisa membuat saya merasa bahagia secara penuh.

Belakangan alam juga sangat membantu memenuhi ruang kosong itu. Di kala punya waktu berdua saja dengan alam saya bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Bukan secara agama tapi secara spiritual. Menyaksikan sendiri ternyata memang ada kekuatan besar di luar kemampuan kita. Kalau tidak, tak mungkin ada matahari terbit dan terbenam. Mengalami kedekatan dengan alam membuat saya bisa lebih mudah mensyukuri apa yang telah dimiliki hingga saat ini. Merasa cukup dengan apa yang sudah dijalani. Meredam keinginan untuk membeli sesuatu yang lebih mahal, keren, atau membuka bisnis yang lebih sukses lagi. Membuat saya mengerti apa yang benar-benar membuat diri ini bahagia. Melihat anak-anak saya bertumbuh dewasa, menikah, lebih memerhatikan sekitar saya, orang-orang yang kurang beruntung. Bukan semata-mata uang, melainkan membagikan kepedulian. Ini adalah gol hidup saya agar tak hidup sia-sia hanya untuk sebuah pengakuan.

Mengalami kedekatan dengan alam membuat saya bisa lebih mudah mensyukuri apa yang telah dimiliki hingga saat ini.

Related Articles

Card image
Self
Makna Kepercayaan

Terkadang kita mungkin tidak sadar ketika fokus pada ritual keagamaan seringnya kita malah punya keinginan untuk lebih religius dari orang lain. Kemudian kita malah melupakan sisi spiritual dari ritual keagamaan itu sendiri. Bahkan kita bisa sampai lupa pada hubungan personal kita dengan Tuhan.

By Daniel Mananta
30 May 2020
Card image
Self
Menghadirkan Sisi Spiritual

Terkadang tanpa sadar kita seringkali memikirkan sesuatu setengah gelas kosong atau setengah gelas isi saja. Maksudnya adalah kita seringkali tidak melihat sesuatu secara keseluruhan tetapi hanya sebagian saja. Sama seperti kita melihat agama. Tanpa sadar banyak dari kita take it for granted.

By Rama Dauhan
30 May 2020
Card image
Self
Seni Meminta dan Menerima

Kita pasti seringkali atau pernah mendengar ungkapan “Ucapan adalah doa” atau “The Power of Your Mind.” Apakah benar apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa menjadi doa dan terjadi dalam kehidupan kita? Memahami salah satu hukum alam yaitu The Law of Attraction (hukum tarik menarik) dan sekaligus melatihnya dapat membuktikan apakah memang apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa benar-benar terjadi.

By Dea Soelistyo
30 May 2020