Self Work & Money

Menikmati Hari Ini

Diaz Parzada

@diazparzada

Praktisi Pengembangan Bisnis

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Ketimbang berusaha menyediakan payung sebelum hujan, saya lebih memilih menikmati cerianya hari.

Saya kini tidak lagi merasa bersalah untuk mengakui bila saya mencintai benda-benda yang menurut saya penuh keindahan. Bila saya ingin menyalahkan seseorang akan tabiat saya ini, mungkin ayah-ibu saya bisa menjadi sasarannya. Masih banyak teman SD saya yang ingat bila tas sekolah saya dan adik adalah Louis Vuitton Monogram Serviette Conseiller Business Bag. Saya kini malah bersyukur, tabiat ini juga pernah mengantarkan saya berkarir lebih dari satu dekade di media gaya hidup, yang membawa saya melanglang buana menikmati peragaan busana, peluncuran produk, dan bahkan acara perkenalan jasa dari brand-brand ternama dunia.

Namun saya juga sangat berterimakasih pada orangtua yang secara tidak langsung mengajarkan ilmu perencanaan keuangan sejak kelas 5 SD, dengan membiarkan saya mengatur sendiri uang jajan yang mereka berikan tiap bulannya. Bahkan saat saya kuliah, mereka memberikan saya seluruh dana-nya di muka, untuk kemudian saya atur sendiri. Latar ini pula lah yang membuat saya tak berpikir panjang untuk memakai jasa perencana keuangan profesional saat karir saya mulai menanjak. Salah satu anjuran yang senantiasa saya dengar dari mereka dan orangtua adalah pentingnya menabung. "Sedia payung sebelum hujan," kata mereka.

Namun bagi saya yang tidak berencana untuk berkeluarga, saya merasa anjuran itu tidak terlalu relevan. Sebagai seorang lajang yang hidup sendiri, biaya keseharian saya tidak terlalu besar. Begitu pula dengan biaya tak terduga yang mungkin timbul. Asuransi yang murni hanya menjamin pelayanan kesehatan dengan biaya yang relatif kecil, cukup efisien dalam menghadapi kemungkinan ini. Karena saya pun sepertinya takkan memiliki ahli waris, menghabiskan penghasilan untuk membahagiakan diri sendiri adalah pilihan yang lebih baik ketimbang menimbunnya dalam tabungan.

Dengan mengabaikan prinsip menabung, saya tak pernah lagi berpikir dua kali mendapatkan jam, perhiasan, perangkat berbusana dan karya seni yang saya cintai dan berpergian ke berbagai destinasi yang saya inginkan. Meski terdengar kurang bertanggung jawab, saya merasa pengalaman ini malah mengajarkan saya lebih lihai berstrategi menghindari pengeluaran yang menurut saya sia-sia. Meski kebahagiaan dan kepuasan menjadi penentu utama, saya juga kini juga bisa lebih memastikan, barang-barang yang saya beli tidak akan terlalu ‘jatuh’ nilainya di saat saya memutuskan untuk berpisah dengan mereka. Bila ada waktunya, artikel berikut ini layak untuk dibaca: "Why The Hermès Birkin Bag is a Better Investment Than Gold" yang tersedia situs majalah TIME.

Saya kini ternyata mendapati bila saya merasa lebih nyaman berbelanja bukan dari gerai utamanya, tetapi malah dari toko-toko spesialis barang-barang bekas pakai. Bila boleh saya bebagi pengalaman, berbagai kota di Jepang menjadi destinasi terbaik untuk mendapatkan tas dan aksesori mode lainnya. Apabila sedang mengincar jam dan perhiasan, toko spesialis jam dan perhiasan di destinasi wisata perjudian, layak menjadi pertimbangan. Sementara, Paris adalah kota terbaik untuk menjual kembali tas dan perangkat berbusana yang sudah saya tak lagi ingin miliki dan London adalah pilihan terbaik untuk ‘berpisah’ dengan jam tangan dan perhiasan secara instan. Meski harga taksirannya tidak sebaik di dua kota tersebut, di Jakarta pun kini sudah banyak sekali profesional yang bisa membantu kita mendistribusikan barang-barang tersebut melalui media sosial. Atau untuk koleksi seni dan barang-barang yang lebih bernilai lagi, menitipkan mereka ke balai lelang juga sangat efektif sebagai pilihan.

Seiring berjalannya waktu, saya ternyata juga mendapati bila saya kurang melihat manfaatnya membayar layanan jasa premium. Saya lebih baik tidur nyenyak di kelas ekonomi ketimbang membayar layanan kelas bisnis saat terbang. Karena funginya lebih untuk tidur, mandi, dan menyimpan barang, kamar hotel sempit pun pas menjawab kebutuhan saya. Kecuali sedang bersama relasi bisnis atau memenuhi keinginan kerabat tercinta, saya paling pantang makan di resto berbintang. Jajajan lokal adalah pemuas selera saya di Jakarta dan di seluruh dunia.

Perangkat elektronik yang saya miliki pun bukanlah yang terkini dan hanya dilengkapi teknologi yang berimbang dengan kebutuhan saya yang minim. Sementara hal yang cukup rela saya bayarkan adalah keanggotaan di institusi-institusi seni yang saya gemari. Hal ini pun karena biaya tersebut menjadi masuk akal bila saya memfaktorkan seringnya saya mengunjungi tempat-tempat tersebut, potongan harga untuk suvenir dan makanan, dan gratis memasuki area pameran khusus yang sering mereka adakan.

Saya tentunya tidak akan menganjurkan kebijakan finansial yang saya lakukan kepada orang lain. Keputusan keuangan yang kini saya terapkan adalah karena kebetulan sejalan dan berimbang dengan kebutuhan saya saat ini. Apabila ada yang kemudian terarik untuk mencoba apa yang saya sedang jalankan, pesan saya adalah untuk setidaknya memastikan properti yang sedang ditinggali saat ini adalah milik diri sendiri.

Dan meski saya kurang setuju dengan prinsip menabung, saya sangat percaya dengan pentingnya berinvestasi. Terutama dalam bentuk yang sesuai dengan profil resiko dan kebutuhan pribadi. Terakhir, bagi saya juga masih penting untuk menyisihkan sebagian pendapatan demi berfilantropi. Saya masih percaya, bahwa berbagi sesuai kerelaan hati adalah pengeluaran yang tak akan pernah sia-sia karena hal ini bisa mendatangkan manfaat bagi sesama.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024