Self Lifehacks

Mengubah Pola Pikir

Seperti kebanyakan orang, pertama kali mendengar informasi tentang pandemi aku cukup terkejut, khawatir, dan merasa kebingungan. Tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi waktu itu aku sedang gencar melakukan promosi film dan berinteraksi dengan banyak orang. Meski banyak orang yang mengalami hal serupa sehingga aku cukup mewajarkan kekhawatiran yang timbul dalam diri, tapi tetap saja begitu banyak pertanyaan muncul dalam benak. Di awal pandemi aku memiliki banyak pikiran tentang hidup di tengah ketidakpastian, tentang pekerjaan, dan tentang kesehatan mental. Kita seringkali dihimbau untuk menjaga kesehatan fisik namun sering melupakan bahwa menjaga kesehatan mental adalah sama pentingnya.

Setiap hari berada di dalam ruang dengan dinding yang sama, terus melakukan hal yang sama, tentu menciptakan kebosanan dalam diri. Tapi tanpa aku duga ternyata dari kebosanan tersebut, lahir ide-ide baru. Ternyata yang harus aku lakukan adalah mengubah pola pikir ketimbang mengeluh atau berpikir berlebihan. Akhirnya aku mencoba mencari tahu potensi apa lagi yang dimiliki. Aku merasa pandemi menjadi waktu yang tepat untuk menuangkan ide, kreativitas, serta mengasah kemampuan yang belum sempat terwujud. Di tengah menjalani keseharian di rumah saja, aku mulai belajar menulis skenario. 

Ternyata yang harus aku lakukan adalah mengubah pola pikir ketimbang mengeluh atau berpikir berlebihan.

Sebelum masa pandemi, aku biasanya tenggelam dalam kesibukan sampai tidak lagi terpikir untuk menulis skenario. Jadi pandemi memberikanku kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang tertunda dan ini membuatku amat bersyukur karena masih bisa tetap produktif. Aku juga mendapat kesempatan untuk membaca buku-buku yang sudah dibeli namun belum tersentuh karena pekerjaan. Menariknya, dari buku-buku yang banyak membahas seputar filosofi dan spiritual tersebut aku seperti menemukan sisi lain dari diriku sendiri. Seperti yang aku katakan sebelumnya, di awal pandemi muncul berbagai perasaan tidak tenang. Akan tetap setelah banyak membaca buku-buku tersebut, lambat laun aku belajar mengendalikan perasaan. Terutama setelah aku memutuskan untuk mengikuti kursus daring singkat yang berhubungan dengan psikologi.

Pertimbanganku memelajari psikologi adalah untuk mendalami sifat-sifat manusia yang berguna untuk pendalaman karakter dalam film. Setelah menyelesaikan kursus tersebut, aku merasa lebih yakin dan paham tentang dunia perfilman. Selain itu, aku juga belajar banyak tentang diriku sendiri. Beberapa subjek di kursus tersebut mengajarkanku untuk memiliki self-awareness. Jika kita belajar untuk meningkatkan kesadaran dalam diri, kita bisa tahu sumber permasalahan yang ada dalam benak. Salah satunya adalah anxiety attack yang bisa berasal dari pikiran berlebih atau overthinking. Secara psikologis, adalah wajar jika manusia bisa merasakan banyak emosi yang berbeda-beda. Jadi aku mencoba untuk mengakui adanya emosi-emosi tersebut kemudian belajar beradaptasi dengan situasi yang berubah. 

Menurutku, pandemi ini sebenarnya bisa dikatakan sebagai blessing in disguise. Artinya adalah seburuk apapun situasi yang sedang dialami, masih terdapat berkat terselubung di dalamnya. Maka, kita bisa menggunakan waktu yang ada ini untuk melihat kembali ke dalam diri dan mensyukuri apa yang masih dimiliki dan masih bisa dilakukan. Selama pandemi, aku banyak menemukan hobi baru dan menghabiskan banyak waktu dengan Mama. Entah meditasi atau yoga bersama, sesuatu yang sebelumnya tidak bisa dilakukan karena kesibukanku dalam pekerjaan. 

Menurutku, pandemi ini sebenarnya bisa dikatakan sebagai blessing in disguise. Artinya adalah seburuk apapun situasi yang sedang dialami, masih terdapat berkat terselubung di dalamnya.

Tidak bisa dipungkiri, menjalani situasi pandemi memang tak mudah. Stres bisa menghampiri kapan saja. Dalam kasusku, aku bisa lebih mudah terserang stres karena pikiran berlebih. Mungkin kalau tidak berpikir berlebihan, aku tidak akan mudah stres. Hanya saja, aku juga meyakini bahwa masalah pikiran bisa pudar selama kita mau mengubah pola pikir. Contohnya ketika shooting hari pertama, aku pasti merasa stres karena berpikir berlebihan. Entah itu karena aku harus menyesuaikan diri dengan karakter dalam film atau dengan orang-orang baru yang bekerja di dalam pengerjaan film tersebut. Lambat laun setelah beradaptasi dan mulai merasa nyaman, barulah aku tidak lagi berpikir berlebihan dan bisa menjauhkan energi negatif. 

Jadi sesungguhnya energi negatif bisa datang dari diri sendiri. Terkadang kitalah yang membuat energi itu datang melingkupi benak. Hingga akhirnya semua kembali ke pola pikir apakah kita mau menenangkan diri atau tidak. Tentunya tidak bisa mengubahnya secara instan. Namun memang harus dibuat menjadi sebuah kebiasaan agar dapat lebih mudah beradaptasi. Hanya kita yang bisa mengubahnya, tidak ada orang lain yang bisa. Begitu pula jika kita mau tetap termotivasi untuk maju. Kita harus mencoba untuk kembali menelaah diri dan mengetahui apa yang benar-benar kita sukai. Dari sana baru kita bisa menggali passion baru. Sekarang ini sudah banyak sekali inovasi yang dilahirkan oleh anak-anak muda. Mulai dari bisnis kuliner hingga keterampilan tangan. Aku meyakini jika kita melakukan apa yang kita cintai, itulah kunci untuk maju. 

Sekalipun kita harus di rumah saja, banyak hal yang bisa dikerjakan. Hal-hal simpel saja sudah bisa membuat kita semangat. Kalau sudah merasa jenuh berada di depan layar komputer atau handphone, mungkin di akhir pekan kita bisa sejenak meninggalkannya dan fokus ke sekeliling. Faktanya, di tengah keterbatasan aku sendiri menemukan passion baru. Begitu banyak hal-hal kecil yang membuat bahagia. Salah satunya adalah bisa berkumpul lagi bersama keluarga, mendekat pada diri sendiri sehingga dapat belajar berdamai dengan diri sendiri. Inilah yang paling penting di saat seperti ini.

Begitu banyak hal-hal kecil yang membuat bahagia. Salah satunya adalah bisa berkumpul lagi bersama keluarga, mendekat pada diri sendiri sehingga dapat belajar berdamai dengan diri sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021