Self Lifehacks

Menghalau Kebisingan

Terkadang sebagai manusia, kita tidak menyadari bahwa setiap hari kita menciptakan kebisingan dari pikiran dan perilaku. Ketidaksadaran ini memang tidak bisa dihindari karena pada hakekatnya, kita diciptakan untuk berisik. Seringnya, suasana hati dan lingkungan memengaruhi pikiran dan perilaku berisik kita itu. Sayangnya, tanpa disadari, perilaku berisik yang kita pikir tidak berdampak sebenarnya sangat berdampak pada diri sendiri, orang lain, bahkan pada alam. Pada dasarnya, kita semua hidup bersama saling memberikan pengaruh. 

Media sosial juga menjadi salah satu medium untuk menuangkan kebisingan kita di era modern ini. Aku sendiri merasa kurang nyaman berlama-lama ada di sana karena aku merasa diriku sendiri saja sudah berisik. Berisik akan segala keluhan diriku sendiri, berisik atas segala pertanyaan yang aku miliki. Ketika diriku sendiri sebenarnya sudah dipenuhi dengan kebisingan, tentu saja kebisingan itu akan bertambah saat membuka media sosial. Aku melihat berbagai macam hal yang memberikan pikiran baru. Secara tidak sadar, aku menyerap kebisingan orang lain. Kalau terlalu banyak mengonsumsi media sosial dan tidak pintar-pintar mengolahnya, media sosial bisa jadi sangat melelahkan. 

Di satu sisi, media sosial memang menjadi tempat untuk mengekspresikan diri. Ia menjadi tempat untuk seseorang didengar lewat unggahan dan kata-kata para pengguna. Dan sebenarnya bagus jika kita bisa mengekspresikan diri di sana. Tapi kenyataannya, tidak sedikit yang menggunakan media sosial untuk menyedot energi mereka sendiri dan membuat kebisingan untuk orang lain. Seringnya, mereka sekadar membuat kebisingan yang membuang-buang waktu, tanpa tujuan yang jelas. Bahkan secara tidak sadar, kata-kata yang disampaikan bisa menyakiti orang lain. Banyak orang yang bisa bicara seenaknya, mudah sekali mengomentari sesuatu dan menganggap semua itu enteng. Padahal apa yang mereka lakukan bisa amat berdampak bagi orang lain. Menurutku, media sosial seharusnya bisa jadi mangkuk yang lebih jelas. Bukan jadi tempat untuk membandingkan. Sayangnya, yang aku rasakan adalah media sosial seringkali menjadi mangkuk untuk kita saling membandingkan. Inilah yang akhirnya membuatku kelelahan untuk diriku sendiri. 

Lewat lagu “Berisik” sebenarnya aku ingin menyampaikan bahwa kita manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berisik. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk kita berbicara dan bertindak hati-hati dan secukupnya. Tentunya ini juga tidak hanya ditujukan kepada orang-orang di luar sana, tapi pada diriku sendiri. Aku ingin bilang bahwa aku juga berisik dan bagian dari kita semua. Aku juga termasuk individu yang sering tidak sadar dengan apa yang dilakukan atau dibicarakan hingga bisa menyakiti orang lain. Itulah mengapa, aku berharap lagu ini bisa menjadi pengingat untuk aku sendiri dan teman-teman yang mendengar. Pengingat untuk kita bahwa apapun yang kita lakukan bisa amat berdampak pada sekitar kita, ke alam, manusia lainnya, dan diri sendiri. Kita perlu berhati-hati atas apa yang dipikirkan dan yang diucapkan. 

Refleksi atas lagu ini pun sebenarnya berdasarkan pengalaman pribadi. Satu waktu, aku pernah berada dalam suasana hati yang buruk. Saat bertemu orang lain, aku menampilkan raut wajah yang tidak menyenangkan serta aura yang tidak enak. Akhirnya, orang yang bertemu aku merasa tidak enak, tidak nyaman. Kemudian di tengah-tengah aku bergulat dengan suasana hati yang buruk, munculah kebisingan dalam diri yang menyampaikan berbagai keluhan seperti mempertanyakan, “Kenapa sih aku tidak bisa jadi seperti itu?”. Salahnya, aku justru berupaya menenangkan diri dengan melihat media sosial dengan harapan dapat melihat konten yang menghibur. Bukan terhibur, aku justru merasa menambah kebisingan dalam diri karena menyerap kebisingan orang lain. 

Di satu titik hari itu, aku merasa menyerap begitu banyak hal-hal buruk hingga berkata pada diri sendiri, “kok aku berisik banget ya?”. Hingga akhirnya, aku menyadari dari awal hari sampai titik itu aku merasa amat berisik tapi kemudian aku merasa orang lain juga berisik. Tiba-tiba aku merasa ditegur oleh perilaku diri sendiri di hari itu. Ternyata di kala aku berisik, atas pikiranku sendiri, aku bisa memengaruhi orang lain. Memberikan energi buruk yang bisa diserap orang lain sehingga mereka terganggu bahkan tersakiti dengan raut wajahku yang galak. Dampak dari kebisingan yang aku ciptakan tidaklah kecil untuk orang lain. Apapun yang aku lakukan bisa berdampak ke banyak hal.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024