Self Lifehacks

Mengenal Lagi Diri Sendiri

Setiap manusia pasti memiliki ketakutannya masing-masing. Seringkali, ketakutan itu berasal dari kejadian di masa lampau yang secara tidak sadar menjadi pengalaman traumatik. Jika tidak dilawan, lambat laun ia akan terus dalam ketakutan yang bisa menghambat kemajuannya. Aku pun bukanlah orang yang jauh dari berbagai ketakutan. Akibat kejadian tidak menyenangkan di masa sekolah dulu, aku jadi pribadi yang kurang percaya diri dan terlalu banyak berpikir. Bahkan sampai sekarang aku masih sering tidak percaya diri. Tidak percaya diri dalam bermusik, merasa selalu kurang hingga enggan terbuka pada orang lain.

Seringkali, ketakutan itu berasal dari kejadian di masa lampau yang secara tidak sadar menjadi pengalaman traumatik. Jika tidak dilawan, lambat laun ia akan terus dalam ketakutan yang bisa menghambat kemajuannya

Di masa SMA aku pernah menjadi korban bullying. Jika banyak orang sering menceritakan masa SMA yang indah, aku sama sekali tidak merasakannya. Waktu itu bisa dibilang waktu tersulit dalam hidupku. Dalam pertemanan, ekonomi, keluarga, hampir semua aspek hidupku kurang baik ketika itu. Sejak pengalaman tersebut, aku membatasi diriku sendiri bergaul dengan banyak orang. Aku terlalu banyak berpikir ketika dihadapkan dengan orang-orang asing. Seakan aku tidak bisa memulai topik pembicaraan, sulit berbaur dengan sekumpulan orang, dan bisa menunjukkan perasaan tidak suka jika berada dalam situasi kurang nyaman. Kalau orang yang diajak bicara terlihat tidak memperlihatkan ketertarikan dengan topik yang kami diskusikan, aku biasanya akan langsung tidak bicara sama sekali. Aku merasa seperti takut mengganggunya dengan ocehanku meski mungkin saja dia tidak berpikir begitu. Betapa takut orang lain jadi tidak mau dekat karena aku salah bicara. Tidak jarang aku jadi memaksakan senyum dan seolah memakai topeng di depan orang. 

Akan tetapi seiring berjalannya waktu pada satu titik aku berpikir, “Bagaimana orang lain bisa mengenalku jika aku saja susah membuka diri pada orang lain? Sedangkan sebagai musisi aku ingin lagu-laguku bisa didengar lebih banyak orang, memberikan inspirasi bagi banyak orang.” Orang-orang terdekatku juga membuatku ingin melawan ketakutan itu. Mereka yang selalu ada di saat aku senang dan sedih menjadi motivasiku untuk berani membuka diri. Aku jadi sadar bahwa ketakutan yang membuat tidak percaya diri sebenarnya ada di pikiranku sendiri saja. Kalau aku tidak mencoba menyelesaikannya, pikiran negatif akan terus berdiam di benak. Sehingga aku harus bisa berdamai dengan diri sendiri, berteman dan merangkulnya agar dapat merasa nyaman dengan diri sendiri. Tidak mudah memang melawan ketakutan yang sering datang dari masa lalu itu. Tapi sekarang aku merasa sudah cukup berubah ketimbang dulu. Sekarang aku sudah bisa membuka diri pada orang baru, orang asing sekalipun. Bahkan sebelum pandemi aku seperti punya hobi baru untuk bertemu orang asing, berkenalan dan mengajak mereka berbincang. 

Aku jadi sadar bahwa ketakutan yang membuat tidak percaya diri sebenarnya ada di pikiranku sendiri saja. Kalau aku tidak mencoba menyelesaikannya, pikiran negatif akan terus berdiam di benak.

Pengalaman tersebut membuatku menyadari bahwa sebagai manusia kita akan terus dihadapi berbagai tantangan melawan diri sendiri. Sehingga kita bisa berkali-kali harus mengulang lagi berbagai tahapan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri. Setiap kali punya keraguan, ketakutan dalam diri, kita perlu terhubung kembali, perlu bicara dan berteman kembali dengan diri sendiri. Seperti pada film Avenger Infinity War dan End Game. Di Avenger Infinity War, sang peran antagonis, Thanos, menang melawan para superhero. Sedangkan di End Game, ia mati tapi kemudian hadir kembali dari masa lalu. Sama seperti hidup kita. Terkadang ketakutan dari masa lalu bisa saja muncul kembali walaupun kita sudah berupaya keras menyelesaikannya. Jadi dari waktu ke waktu kita harus bangkit lagi, mengingatkan diri untuk melawannya. Caranya adalah banyak melakukan introspeksi diri agar kita bisa tahu apa yang dirasakan, apa yang perlu dilakukan. 

Itulah yang aku tuangkan dalam album terbaruku, “Samsara”. Aku ingin orang-orang bisa mengenalku lebih dekat dengan mengetahui berbagai cerita hidup, perasaan dan pemikiranku. Seperti dalam salah satu lagu yang berjudul “Bonfire” yang berisikan refleksiku terhadap diri sendiri. Lewat lagu ini, aku ingin mengajak para pendengar untuk melakukan introspeksi, memulai dialog dengan diri sendiri dan menanyakan, "Apa yang sedang dirasakan?", "Ada apa dengan diri saat ini?", "Sudah kenal diri sendiri belum?". Hingga akhirnya kita bisa menjalin keterhubungan yang lebih dalam dan dekat dengan diri sendiri. 

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Digital Minimalism

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari. Maka itu saya jadi digital minimalist. Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

By Marissa Anita
20 February 2021
Card image
Self
Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

By Dewi Lestari
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021