Self Lifehacks

Mengenakan Keceriaan

Ketika sudah jatuh cinta akan suatu hal biasanya kita tidak akan merasa terbebani jika harus berupaya untuk tetap memiliki hal tersebut. Bagi beberapa orang mandi mungkin jadi sangat menyebalkan atau skincare bagi kebanyakan pria adalah suatu kerepotan karena tahapannya yang banyak. Tapi bagi banyak wanita yang sudah merasakan efek skincare tidak akan keberatan untuk melakukan setiap tahapannya setiap hari. Seperti pun aku dengan gaya berpakaianku. Sebagian orang sering komentar, “Bisa ya komitmen segitunya setiap hari pakai atribut, makeup dan hairdo ala 50an”. Dan ya aku bisa. Bahkan bukan sekadar untuk kepentingan pekerjaan tapi karena gaya berpakaian ini seolah seperti hal kedua setelah agama dalam hidup. Aku berkomitmen setiap hari di keseharian untuk menampilkan apa yang aku cintai. 

Tidak semudah dan sekilat itu memang untuk menjelaskan pada orang-orang terdekat dengan gaya berpakaianku. Setiap ada pertemuan keluarga ada saja sepupu yang masih mengomentari kaos kaki renda yang hampir setiap hari aku gunakan. Tapi beruntungnya aku berada dalam keluarga yang cukup membebaskanku berekspresi. Tidak pernah ada yang sampai berusaha mengubahku. Sedangkan di luar keluarga, orang-orang yang sering menatapku penuh tanya di luar sana, tidak pernah mengganggu pikiranku. Paling aku hanya suka sebal kalau dikira mau ada sesi foto setiap ke Kota Tua atau ke museum. Sedangkan kalau dilihat banyak orang di mal aku tidak terlalu terganggu. Justru menurutku di saat mereka melihat itulah kesempatan untuk membalas tatapan mata dan tersenyum. Aku tidak buru-buru berprasangka buruk atau merasa seperti dilecehkan. Aku pikir dengan memberikan aura positif, membalas tersenyum ramah atau menanyakan baik-baik, “Kenapa melihat saya seperti itu?” bisa membangun sebuah interaksi yang positif di masyarakat. Sempat ada seorang laki-laki yang melihatku dari atas sampai bawah. Lalu saya bertanya, “Mas kenapa ngeliatin saya?” Lalu dia bilang, “Mbak kayak boneka.” Dan kami tiba-tiba tertawa bersamaan. Dari kejadian itu aku menyadari mungkin secara tidak langsung dengan penampilanku yang berbeda dengan orang kebanyakan bisa memberikan cerita untuk orang lain. Syukur kalau bisa membuatnya tertawa atau tersenyum juga. 

Aku pikir dengan memberikan aura positif, membalas tersenyum ramah atau menanyakan baik-baik bisa membangun sebuah interaksi yang positif di masyarakat.

Lambat-laun itu seakan jadi misi dari caraku berpakaian. Warna-warni ceria pakaian ala 50an dan model potongan yang tidak kaku seperti representasi dari karakter yang aku sampaikan. Selain memang ada sedikit perasaan untuk memberikan kesadaran pada orang lain tentang era 50an. Setelah melakukan banyak riset, tidak hanya jatuh cinta pada tren fashion-nya, aku juga terkesima dengan sejarah yang terjadi di era tersebut. Bayangkan satu dekade itu adalah fase perpindahan dari zaman perang ke hidup normal. Yang tadinya perempuan tidak bisa jadi ibu rumah tangga secara normal bahkan ada mereka yang harus ikut kemiliteran di era ini mereka bisa kembali menjalani hidup semestinya. Belum lagi dengan banyaknya penemuan baru yang sampai sekarang kita gunakan. Sedangkan di Indonesia, tahun 50an seperti ada jarak dan sesuatu yang disembunyikan. Terutama hal-hal yang berbau budaya pop. Banyak rumor yang bilang era itu di negara kita sedang ada isu yang ditutup rapat-rapat. Bahkan tidak banyak bukti yang menunjukkan seperti apa dunia fashion di Indonesia kala itu. Sehingga dengan aku tetap mempertahankan dan mengembangkan budaya 50an dalam cara berpakaian, aku berharap bisa membuka diskusi dengan orang lain tentang era ini.

Keceriaan dalam warna-warni pakaianku ini juga sebenarnya seperti ingin menyiratkan bahwa kehidupan -sepahit apapun, jangan selalu dibawa sedih. Kita harus tetap berusaha melihat warna di sebuah titik kelabu. Sedih tidak ada salahnya asal jangan terus menerus. Bagaimanapun kita harus belajar untuk bahagia agar bisa lebih bersyukur dengan hidup yang dimiliki. Dengan bersyukur kita bisa menghargai cinta yang diberikan untuk diri sendiri dan cinta yang diberikan orang lain. Ketika kita merasa gembira kita baru bisa sadar bahwa ada orang-orang yang mencintai kita dan itu sangatlah berharga.

Keceriaan dalam warna-warni pakaianku ini juga sebenarnya seperti ingin menyiratkan bahwa kehidupan -sepahit apapun, jangan selalu dibawa sedih.

Belakangan aku mendapat banyak refleksi dari mereka yang sudah lanjut usia. Mereka menyadarkanku betapa penting merasa bahagia. Ada yang bahkan bisa hidup hampir 100 tahun. Masih bisa berjalan, bicara lancar dan masih punya daya ingat yang baik. Lihat saja Ratu Elizabeth yang masih terlihat bugar di umurnya yang sudah lanjut. Dan ternyata kiatnya adalah hidup bahagia dan bersyukur akan merasa cukup dengan segala hal yang sudah dimiliki. Bicara begini mungkin terlihat mudah. Aku juga masih berupaya keras menerapkan pada diri sendiri. Apalagi di zaman media sosial yang mudah sekali membuat kita membandingkan dengan orang lain. Hanya sekarang aku selalu ingat-ingat percakapanku dengan mereka yang sudah berumur lanjut itu agar terus berusaha melihat sisi baik, merasa bersyukur dan hidup dalam keceriaan.

Hanya sekarang aku selalu ingat-ingat percakapanku dengan mereka yang sudah berumur lanjut itu agar terus berusaha melihat sisi baik, merasa bersyukur dan hidup dalam keceriaan.

Related Articles

Card image
Self
Ekspresi Diri dan Gaya Hidup

Saya juga setuju dengan ungkapan bahwa fashion adalah cara mengekspresikan diri. Kalau saya bertemu dengan orang, kita bisa melihat karakternya dari apa yang ia kenakan. Baju adalah salah satu medium kita bisa melihat dan “menilai” orang. Jadi bisa dikatakan bahwa baju yang kita kenakan sebenarnya bisa menjadi ungkapan bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas tertentu. Mungkin komunitas skateboard, band, atau komunitas-komunitas lainnya. Urban Sneaker Society juga berusaha menggabungkan banyak komunitas agar bisa bertemu satu-sama lain.

By Jeffry Jouw
04 December 2021
Card image
Self
Berjalan Untuk Berubah

Masing-masing manusia punya perjalanan yang berbeda-beda. Katanya, dalam perjalanan itu yang paling penting bukan destinasinya, melainkan proses dan cerita yang terjadi sepanjang perjalanan. Katanya juga, cerita dalam perjalanan lah yang menjadikan siapa kita sekarang ini. Tapi yang pasti, melalui perjalanan kita berubah dan bertumbuh.

By Greatmind x Festival Film 100% Manusia
04 December 2021
Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021