Self Lifehacks

Mengarungi Naik Turun Kehidupan

Dunia terus berputar layaknya roda kehidupan kita. Terkadang ketika kita sedang berada di atas bisa saja tiba-tiba harus berada di bawah karena kondisi yang tidak bisa dihindari. Wajar jika berbagai emosi hinggap dan memicu pertempuran batin. Namun pada akhirnya apapun keputusan yang diambil kita harus belajar menerima dan mensyukuri prosesnya. Sebab bisa saja di situasi tersulit yang dihadapi kita justru menemukan misi hidup yang sebenarnya. 

Seusai menamatkan SMA, saya pergi merantau ke Jakarta untuk mencari peruntungan karier. Bekerja di perusahaan otomotif saat itu bisa dibilang cukup memberikan banyak keuntungan dalam hidup. Bahkan sempat mau disekolahkan ke Jepang. Akan tetapi satu hari terjadi sesuatu dalam hidup saya. Bapak sakit keras dan meminta saya —anak satu-satunya, untuk pulang ke kampung halaman, Purworejo, Jawa Tengah. Permintaan Bapak membuat saya jadi harus memilih antara karier atau orang tua. Kala itu sebenarnya adalah momentum saya meningkatkan karier. Namun di saat yang sama waktu itu juga menjadi titik saya harus berbakti pada orang tua. Hati dan pikiran saya berkecamuk. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang untuk merawat Bapak dengan segala risikonya.

Selama merawat Bapak, beliau seperti merasa bertanggung jawab atas situasi saya yang tidak bekerja. Dia berkata, “Kamu kan biasa bekerja, punya kesibukan, biasa menemui hal hal baru setiap hari. Sekarang kamu di desa sudah tidak seperti bekerja di kota. Bagaimana kalau kamu mencoba menjadi guru?”. Saya sempat marah dan menolak dorongannya, “Aku ndak mau. Itu bukan duniaku”, jawab saya. Tidak patah arang, beliau terus menyuruh saya menjadi guru agar bisa punya pemasukan meski tinggal di desa. Beliau berpikir akan sangat baik kalau saya bisa masuk ke dalam dunia pendidikan dan anak-anak. 

Akhirnya setelah berbagai perseteruan dalam diri sendiri saya membuka hati dan mau mencoba. Saya mendaftarkan diri bekerja menjadi guru honorer di SD tempat saya dulu sekolah juga. Hari pertama, kedua, saya tidak nyaman. Masih terus merasa bukan keputusan yang tepat berada di sana. Sampai akhirnya suatu hari saya tergugah karena satu orang anak yang secara tidak langsung menunjukkan pada saya dunia anak-anak yang begitu menyenangkan. Dia mengajak saya bermain, tertawa hingga akhirnya bisa menyukai suasana di sekolah itu. Sesuatu yang tidak pernah saya temukan di perantauan sebelumnya. Senyum, keceriaan serta tingkah polah mereka yang lugu meluluhkan hati saya. Seakan saya menemukan kebahagiaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Akhirnya sampai sekarang itu adalah hal yang membuat saya terus bertahan. Meskipun di satu tahun pertama jujur saja merupakan waktu tersulit bagi saya.

Senyum, keceriaan serta tingkah polah mereka yang lugu meluluhkan hati saya. Seakan saya menemukan kebahagiaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Setelah kepergian Bapak banyak pertanyaan dalam diri yang terkadang membuat saya ragu pada pilihan untuk tetap menjadi guru di kampung halaman. Sebelumnya memiliki penghasilan jauh lebih besar dari bekerja menjadi guru honorer. Bahkan ketika pulang kampung saya sempat tidak punya penghasilan sama sekali. Munculah suara yang bilang,  “Waktu di Jakarta tidak perlu sesusah sekarang. Apakah aku salah ambil keputusan? Kenapa saya harus memilih orang tua?”. Tapi lalu hati saya yang lain bilang, “Sudah, inilah jalanmu. Kamu akan menemukan hal itu lagi kalau kamu bersungguh sungguh dan ikhlas.” Akhirnya setelah berdamai dengan diri sendiri dan mencoba menikmati pertempuran kedua suara itu hilang. Dan muncul suara baru “Kamu harus tetap di sini bagaimanapun keadaanmu kamu harus bisa membangun desa ini dari hal terkecil yaitu dari dunia pendidikan.” Saya pun perlahan menyadari betapa pentingnya kehadiran seorang guru di dunia pendidikan sebab Indonesia membutuhkan tenaga dan karya bakti pengajar.

Saya pun perlahan menyadari betapa pentingnya kehadiran seorang guru di dunia pendidikan sebab Indonesia membutuhkan tenaga dan karya bakti pengajar.

Setahun pertama itu saya belajar banyak tentang merasa cukup dan bersyukur. Saya menyadari bahwa ternyata dengan pengendalian diri yang baik semuanya akan terasa cukup. Seperti yang saya unggah dalam media sosial tentang perincian biaya sehari-hari, tiga tahun lalu pemasukan saya menjadi guru honorer memang hanya sebesar 200 ribu saja. Ada sedikit tambahan sesekali dari iuran guru tapi tidak signifikan nominalnya dan tidak selalu dapat. Sehingga saya harus pintar-pintar menentukan prioritas. Saya pun membuat sebuah pola yang saya jalani sampai sekarang agar bisa terus bertahan hidup dan juga membiasakan diri untuk merasa cukup. Ternyata dari pola pengeluaran yang seperti itu saya pun bisa lebih merasa bersyukur karena ternyata setelah bersyukur kebutuhan kita akan diatur oleh Allah. Mungkin secara hitung-hitungan rasional penghasilan sebesar itu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sebulan. Namun setelah berpikir, “Ini rezekiku dan harus aku pergunakan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang positif” Insyaallah akan berkah. Saya sudah mengamini ini dan mengalami keberkahan yang diterima.

Ternyata dari pola pengeluaran yang seperti itu saya pun bisa lebih merasa bersyukur karena ternyata setelah bersyukur kebutuhan kita akan diatur oleh Allah.

Tujuan saya menyebarkan ini di media sosial adalah untuk membagikan kisah saya. Bahwa punya uang 200 ribu atau satu juta kalau pengelolaannya tidak baik akan percuma. Bahkan uang satu juta bisa saja membuat kita terus kekurangan. Sehingga nantinya seberapapun uang kita jadi tidak berharga lagi. Sedangkan uang yang hanya 200 ribu jika dipolakan bisa jauh lebih berharga. Banyak orang bertanya, “Kita bisa apa sih dengan uang segini?”. Pertanyaan seperti inilah yang menurut saya selalu mereka hanya akan mementingkan uang saja tanpa mementingkan hal positif apa yang bisa dilakukan dengan uang tersebut. Dan saya telah membuktikan dengan 200 ribu itu cukup memenuhi kebutuhan saya. Kuncinya hanya satu yaitu menahan diri bagaimana pun caranya. Sebab sesuatu akan lebih terasa manfaatnya saat kita bisa menahan diri. Perilaku ini lambat laun mendatangkan berbagai keuntungan bagi hidup saya. Mempertemukan saya pada sesuatu yang lebih berharga dari pada uang yaitu misi hidup berada di dunia pendidikan serta membangun tempat kelahiran.

Saya telah membuktikan dengan 200 ribu itu cukup memenuhi kebutuhan saya. Kuncinya hanya satu yaitu menahan diri bagaimana pun caranya. Sebab sesuatu akan lebih terasa manfaatnya saat kita bisa menahan diri.

Kembali tinggal di kampung halaman membuat saya sadar atas tanggung jawab untuk membangun tanah kelahiran. Apalagi arus urbanisasi semakin tinggi. Banyak pemuda yang lebih memilih merantau dan tinggal di kota besar. Membuat desa tidak lagi dihuni oleh usia-usia produktif. Padahal kalau mau disadari betul-betul kearifan lokal di desa seperti di Purworejo bisa mendukung kemajuan nasional. Kalau saja kita mau berkarya di sini dengan potensi yang ada soal keuangan pun nantinya akan cukup. Pasti bisa bertahan hidup di sini. Generasi muda adalah tunas bangsa untuk melanjutkan perjuangan orang tua serta kakek-neneknya. Jangan sampai perjuangan mereka membangun daerahnya disia-siakan. Kalau ketimpangan antara kota dan desa terus terjadi pasti akan muncul kekacauan di ekosistem kita. Oleh sebab itu, saya bertekad untuk membangun desa ini lewat dunia pendidikan agar peran kota dan desa bisa jadi imbang.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020