Self Love & Relationship

Menerima Pelajaran Untuk Melanjutkan Perjalanan

Sudah lebih dari satu dekade saya berbagi tentang relationship. Dimulai dari lingkungan terdekat, saat itu saya dan istri saya saat ini sedang mempersiapkan pernikahan, namun kemudian muncul kekhawatiran dari lingkungan keluarga dan kerabat lantaran kakak perempuan saya masih belum menikah, karena selama ini kakak memang lebih memprioritaskan karir dan pendidikan. Terlebih dengan tanggung jawab yang ia emban sebagai tulang punggung keluarga saat ayah saya berpulang. Kakak tidak pernah berusaha menghalangi saya untuk menikah lebih dulu, tapi memahami kekhawatiran yang ada di sekitar, akhirnya saya memutuskan untuk membantu kakak untuk menemukan cinta sejatinya terlebih dahulu.

Biasanya, bentuk bantuan yang ditawarkan adalah dengan mengenalkan dengan teman atau sahabat, sayangnya saya juga bukan orang yang memiliki banyak teman untuk dikenalkan. Akhirnya berbekal pengalaman pribadi ditambah dengan ilmu marketing, hipnoterapi, dan pengembangan diri yang saat itu sedang saya pelajari, saya berusaha membantu kakak untuk menemukan pasangan hidupnya dari sisi saran dan keilmuan. Perlu diakui sebenarnya jika dilihat kembali ada beberapa saran yang bisa jauh lebih baik, tetapi selama enam bulan kakak saya bersedia menjalani semua saran yang diberikan dan akhirnya berhasil bertemu dengan jodohnya di usia 31 tahun tanpa pengalaman menjalani hubungan romantis dengan laki-laki sama sekali sebelumnya.

Saya tumbuh di kelilingi oleh perempuan di rumah. Ibu dan kakak mengajarkan saya bagaimana cara memahami sudut pandang perempuan. Dari situ saya memahami bahwa ketika perempuan memiliki kesehatan emosional yang baik, hal ini akan berdampak positif bagi dirinya dan juga lingkungan di sekelilingnya. Saya percaya bahwa wanita yang bahagia bisa membuat dunia lebih indah. Ketika mereka berbahagia, mereka akan membagikan energi positif tersebut pada orang-orang di sekitarnya.

Saya percaya bahwa wanita yang bahagia bisa membuat dunia lebih indah. Ketika mereka berbahagia, mereka akan membagikan energi positif tersebut pada orang-orang di sekitarnya.

Upaya untuk berbahagia tentu ada banyak, salah satu yang sering dibahas adalah move on. Sebenarnya, move on bukan tentang melupakan, bukan tentang pindah ke hubungan berikutnya, melainkan tentang mengambil pelajaran. Karena secara logika, ketika kita ingin move on, ini karena kita menilai ada kesalahan yang kita lakukan di masa lalu, entah apapun bentuknya. Maka langkah selanjutnya adalah mengambil pelajaran, agar kesalahan yang sama tidak terjadi di masa mendatang. Baru kemudian implikasi dari move on adalah penerimaan, meredanya emosi, dan lain sebagainya.

Satu hal yang rasanya penting untuk ditekankan, tidak ada yang bilang kamu harus move on. Kata-kata “harus” ini justru kontraproduktif dengan niat seseorang untuk move on. Esensi move on adalah pembelajaran, maka sebaiknya dilakukan secara sadar, bukan karena keterpaksaan. Sedangkan kata harus artinya tidak ada pilihan, secara tidak langsung dapat dimaknai sebagai terpaksa. Mengharuskan membuat kita sulit menerima pembelajaran baik yang ada di hubungan sebelumnya. Jadi move on jangan diharuskan, terima saja.

Esensi move on adalah pembelajaran, maka sebaiknya dilakukan secara sadar, bukan karena keterpaksaan.

Lantas, kenapa sebagian orang merasa sulit sekali untuk move on?

Ada banyak sekali alasan. Salah satunya, bisa jadi tanpa sadar ia masih mengharuskan dirinya untuk move on. Seakan kalau belum move on, artinya ia bukan manusia yang baik-baik saja, seolah dirinya tidak berprogress dalam hidup, padahal tidak begitu. Hidup tidak sehitam-putih itu. Jangan jadikan kata-kata orang sebagai standar hidup kita. Karena yang membuat sakit itu bukan move on yang gagal tapi ekspektasi kita yang tidak terjadi.

Alasan kedua kenapa move on terasa sulit adalah penentuan fokus yang salah. Jangan fokus untuk menghilangkan atau menahan rasanya. Karena secara psikologis, saat emosi semakin ditahan atau dilawan justru akan menjadi lebih besar. Cara terbaik untuk menangani emosi adalah dengan menerima emosi yang terjadi di dalam diri. Tidak nyaman? Ya, mungkin memang itu yang sedang kita rasakan.

Pada akhirnya untuk bisa move on, kita harus bisa membereskan perasaan kita terlebih dahulu. Alaminya manusia tentu akan menghindari ketidaknyamanan dan penderitaan, kemudian berusaha mencari distraksi. Mencoba mencari “pelarian” dengan berbagai bentuk, mungkin menonton film, mencari pekerjaan yang lebih menantang, atau mencari orang yang baru. Padahal saat kita sibuk dengan pelarian, justru malah membuang-buang waktu. Saya tidak menyarankan hal ini karena tidak akan sehat untuk dirimu di masa depan.

Saran saya, selesaikan dulu persoalan dari hubungan sebelumnya dengan menata pikiran, coba untuk menerima dan mencari titik pembelajaran. Saya paham, menerima memang tidak semudah itu. Ada beberapa syarat yang umumnya perlu dipenuhi agar bisa menerima.

Pertama, perlu ada pergeseran persepsi. Kalau selamanya kamu merasa sebagai orang yang tersakiti dari hubungan sebelumnya, tentu menerima akan sangat sulit terjadi. Tanpa mendiskreditkan teman-teman yang memang mungkin menjadi korban dari sebuah hubungan, tapi coba geser cara pandang kita dan lihat diri sendiri dari helicopter view. Pada dasarnya setiap tindakan manusia pasti ada maksud baiknya, entah itu untuk dirinya sendiri atau untuk orang banyak.

Kedua, diperlukan komitmen. Komitmen dalam arti menyadari bahwa hidup kita bukan hanya tentang ekspektasi yang tidak terwujud. Bahwa hidup adalah tentang misi hidup. Maka, bentuk komitmen yang kuat pada misi hidupmu sendiri. Setiap orang punya misi hidupnya masing-masing, maka daripada menghabiskan waktu untuk melarikan diri, lebih baik fokus pada komitmen untuk mewujudkan misi hidup kita.

Ketiga, sebelum menerima biasanya butuh ada progress. Baik itu progress di luar ataupun di dalam diri. Saya menyarankan untuk memprioritaskan progress di dalam diri, diantaranya dengan mencoba mengendalikan atau bahkan membebasartikan makna. Dalam proses menerima dan move on, mungkin kita menganggap kenapa orang bisa begitu jahat atau kenapa dia begitu tega. Ketika makna dari sebuah kejadian kita ubah, maka perasaan yang muncul akan cenderung lebih netral.

Move on itu tidak punya tenggat waktu dan juga standar. Cepat atau lama waktu yang kita butuhkan untuk move on akan sangat subjektif. Move on adalah tentang menerima, bertanggung jawab akan diri sendiri, dan progress. Ingatan akan kejadian di hubungan sebelumnya bisa tetap ada tetapi perasaan yang muncul akan berbeda karena kita sudah berhasil mengambil pelajaran dari masa lalu.

Move on itu tidak punya tenggat waktu dan juga standar. Cepat atau lama waktu yang kita butuhkan untuk move on akan sangat subjektif. Move on adalah tentang menerima, bertanggung jawab akan diri sendiri, dan progress.

Related Articles

Card image
Self
Hidup Tanpa Penyesalan

Setiap orang tentu pernah mengambil keputusan yang salah, entah itu berdampak pada hidup kita sendiri atau bahkan juga berpengaruh pada hidup orang-orang di sekitar kita. Meski begitu kesalahan tidak selalu berujung pada penyesalan.

By Greatmind
24 February 2024
Card image
Self
Pertemanan Orang Dewasa

Perjalanan menuju dewasa, bagi sebagian orang sering kali identik dengan kesepian. Ketika beranjak dewasa, kita seolah dituntut untuk mulai mengambil kendali dan bertanggung jawab akan banyak hal, termasuk diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita. Lantas seiring berjalannya waktu perasaan sepi perlahan menjadi kawan yang terasa lebih familiar dibandingkan sebelumnya.

By Greatmind
24 February 2024
Card image
Self
Janji Untuk Menyayangi Sepenuh Hati

Terkadang kita melihat kata janji, apalagi yang diucapkan oleh pasangan sebagai kata-kata manis tanpa arti. Padahal, sebenarnya janji adalah bentuk dari komitmen yang harus dijaga.

By Alvares
24 February 2024