Self Lifehacks

Menemukan Keyakinan

Mungkin kalau orang yang tahu saya memiliki proyek ibadah Quran Indonesia Project di saat usia yang masih muda mengira saya adalah seseorang yang amat religius. Padahal sebenarnya ketimbang dibilang religius saya lebih memilih untuk diingat sebagai seseorang yang toleran. Mengapa? Sebab saya besar dengan beragam pengalaman yang menuntun saya untuk menaruh nilai toleransi setinggi-tingginya. Sejak kecil hingga tamat SD saya bersekolah di salah satu sekolah swasta Islam. Biasanya mereka yang sudah memulai sekolah di sana terus lanjut belajar di sekolah Islam sampai lulus SMA. Berbeda dengan saya. Ketika SMP saya justru dipindahkan ke sekolah dengan beragam suku, budaya, dan agama. 

Saya besar dengan beragam pengalaman yang menuntun saya untuk menaruh nilai toleransi setinggi-tingginya.

Awalnya tentu saja saya bertanya-tanya mengapa ibu masukin saya ke sekolah ini? Ada penolakan dari dalam diri. Hanya saja lambat laun saya berupaya untuk mencerna pendidikan di tengah perbedaan tersebut. Dan saya justru belajar toleransi umat beragama di sana. Kami bisa tetap harmonis belajar bersama meski berbeda. Tidak berhenti di sana, ibu saya sepertinya kurang puas menantang sikap toleransi saya. Karena dia tahu saya suka musik, beliau pernah memasukkan saya ke dalam paduan suara Katolik. Itu kali pertama saya masuk gereja dan bahkan sampai menyanyikan "Ave Maria". Lalu pernah juga ibu mengantar saya ke “pesantren” umat Buddha. Selama tiga hari saya menginap di sana dengan tanpa ada teman Muslim satu pun. Bingung? Pastinya! Tapi justru setelah itu saya sangat bersyukur memiliki pengalaman tersebut. 

Kemudian sampailah saya di penghujung masa kuliah. Mungkin orang pada umumnya memiliki tahap hidup: lahir, sekolah, kerja, menikah, dan punya anak. Sayangnya saya tidak begitu. Tahap saya mulai dari lahir, sekolah, kuliah, lulus, lalu mempertanyakan apa yang harus saya lakukan di dunia ini, ketika meninggal nanti apa dampak yang saya berikan pada sekitar? Pertanyaan ini timbul mungkin karena di usia yang tergolong muda saya sudah mencapai apa yang diinginkan. Sehingga merasa settled. Impian menjadi seorang penyiar sudah didapatkan ketika lulus kuliah. Jadilah berbagai pertanyaan tersebut berterbangan di pikiran. Sampai saya mengiyakan ajakan salah satu teman yang mencetuskan ide membuat proyek ibadah tersebut. Tanpa berpikir panjang saya langsung bilang iya. Sebab saya berpikir inilah yang bisa saya tinggalkan setelah saya tutup usia nanti: karya. Karya yang berupa rekaman audio berisikan ayat-ayat dari Al-Quran.

Dari momen itu juga saya menyadari bahwa dari segala kebebasan yang diberikan oleh orangtua untuk berpikir dan bersikap terbuka pada agama lain ternyata membuat saya tidak pernah mempertanyakan agama sendiri. Mereka mengenalkan saya tentang Islam dari apa yang mereka lakukan sehari-hari. Mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya satu dan agama adalah pilihan manusia tapi konsepnya tetap sama yaitu satu Tuhan. Bahasa kebaikannya saja yang mungkin disampaikan berbeda. Misalnya kebersamaan yang diajarkan dalam Islam diterapkan dari shalat berjamaahnya. Lalu ketika saya mendapat kesempatan bernyanyi di paduan suara Katolik saya belajar tentang pemahaman kasih yang dititikberatkan dalam ajarannya. Dari Hindu saya belajar berkata jujur. Sedangkan dari Buddha lewat buku-buku Thich Nhat Hanh saya belajar tentang mindfulness. Sehingga saya tetap memercayai dan menjalankan ajaran Islam sendiri menjadi bentuk penghargaan dan terima kasih terhadap orang tua yang telah menjadi role model dari kecil atas segala percontohan yang diperlihatkan pada saya.

Dari momen itu juga saya menyadari bahwa dari segala kebebasan yang diberikan oleh orang tua untuk berpikir dan bersikap terbuka pada agama lain ternyata membuat saya tidak pernah mempertanyakan agama sendiri.

Kepercayaan saya pada agama Islam juga semakin kuat ketika waktu SMP diajak naik haji. Di sana aku bisa mempelajari arti kesabaran dan kedisiplinan. Di Madinah, contohnya, selama satu minggu saya benar-benar harus disiplin shalat lima waktu dan beribadah di masjid. Rasanya momen-momen naik haji tersebut menjadi titik balik hidup saya. Betapa bersyukurnya saya di usia yang masih muda diberikan kesempatan untuk mendalami ajaran Islam. Terdapat satu surat favorit saya, Al-Ashr yang mengajarkan bahwa kita sebagai manusia rugi kalau tidak mengingatkan sesama belajar tentang kesabaran. Momen naik haji saya itu seakan membunyikan ajaran kesabaran lebih kencang di kepala. Dialog internal yang sudah bergejolak dari kecil tentang kesabaran akhirnya terjawab di sana. Kala itu pula saya bilang pada diri sendiri, “Oh, ini jawabannya. Ini jalan hidup saya untuk tetap percaya pada agama ini.”

Pelajaran tentang kesabaran itu juga yang seakan menjadi pengingat di berbagai waktu. Seperti pada masa pandemi ini. Setiap kali Ramadhan saya selalu bersemangat menjalaninya sebab merasa akhirnya ada masa kita bisa melambat. Sekarang justru Ramadhan ditambahkan dengan pandemi sehingga kita harus jauh lebih melambat berkali lipat. Di masa pandemi ini juga sebenarnya sekaligus meningkatkan sisi spiritual saya dalam menjalankan ibadah. Sebelum pandemi karena sibuk bekerja terkadang melewatkan shalat. Tapi sekarang karena di rumah saja jadi lebih bisa shalat. Bahkan sampai ada momen saya merasa harus shalat dulu baru lanjut kerja. Shalat seolah menjadi check point untuk mengatur ulang diri berada dalam mode penuh kesadaran atau mindful. Sehingga satu hal yang bisa disyukuri adalah di momen ini banyak kesulitan yang harus diterima kita pada akhirnya diajarkan dan diingatkan kembali untuk dapat ikhlas tawakal.

Setiap kali Ramadhan saya selalu bersemangat menjalaninya sebab merasa akhirnya ada masa kita bisa melambat. Sekarang justru Ramadhan ditambahkan dengan pandemi sehingga kita harus jauh lebih melambat berkali lipat.

Related Articles

Card image
Self
Makna Kepercayaan

Terkadang kita mungkin tidak sadar ketika fokus pada ritual keagamaan seringnya kita malah punya keinginan untuk lebih religius dari orang lain. Kemudian kita malah melupakan sisi spiritual dari ritual keagamaan itu sendiri. Bahkan kita bisa sampai lupa pada hubungan personal kita dengan Tuhan.

By Daniel Mananta
30 May 2020
Card image
Self
Menghadirkan Sisi Spiritual

Terkadang tanpa sadar kita seringkali memikirkan sesuatu setengah gelas kosong atau setengah gelas isi saja. Maksudnya adalah kita seringkali tidak melihat sesuatu secara keseluruhan tetapi hanya sebagian saja. Sama seperti kita melihat agama. Tanpa sadar banyak dari kita take it for granted.

By Rama Dauhan
30 May 2020
Card image
Self
Seni Meminta dan Menerima

Kita pasti seringkali atau pernah mendengar ungkapan “Ucapan adalah doa” atau “The Power of Your Mind.” Apakah benar apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa menjadi doa dan terjadi dalam kehidupan kita? Memahami salah satu hukum alam yaitu The Law of Attraction (hukum tarik menarik) dan sekaligus melatihnya dapat membuktikan apakah memang apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa benar-benar terjadi.

By Dea Soelistyo
30 May 2020