Self Lifehacks

Menekuni Minat

Dari satu hal yang disukai atau ditekuni, kita bisa belajar banyak hal selama mau menyadari dan tak pernah berhenti untuk belajar. Nantinya, berbagai peluang yang mengarahkan pada perubahan diri pun akan terbuka. Seperti ketika aku menekuni olahraga pencak silat sedari kecil. Ketekunan dan kesabaran adalah nilai-nilai yang aku dapatkan dari pencak silat. 

Dari satu hal yang disukai atau ditekuni, kita bisa belajar banyak hal selama mau menyadari dan tak pernah berhenti untuk belajar.

Sebagai seorang atlet ada tekanan untuk kami selalu tampil prima dan maksimal. Di balik tekanan itu kalau diresapi ternyata sangat baik untuk diriku. Misalnya, ketika aku menjadi juara. Tentu saja ini menjadi kebanggaan untuk diri sendiri. Sebaliknya, jika aku tidak sabar menjalani program yang diberikan, tidak tekun latihan, aku tidak mungkin mencapai gol yang diharapkan. 

Namun lebih dari itu, menekuni pencak silat ternyata membuat hubunganku dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia lebih baik. Hubunganku dengan Tuhan semakin erat selama aku berada di cabang olahraga ini sebab setiap kali akan bertanding atau memulai gerakan, aku pasti akan berdoa untuk diberikan yang terbaik dan mendapat perlindungan. Sementara hubunganku dengan alam dipengaruhi oleh latar belakang pencak silat. Aku pernah membaca satu artikel yang menyampaikan sejarah pencak silat. Zaman dulu, nenek moyang kita ternyata membuat gerakan pencak silat yang terinspirasi dari alam. Contohnya melihat gerakan macan, ular atau monyet. Gerakan-gerakan hewan dan makhluk hidup lainnya dikembangkan sedemikian rupa untuk jadi gerakan bela diri. Selain itu, unsur budaya dan suku di Indonesia yang begitu beragam juga menjadi inspirasi membentuk gerakan jurus dalam pencak silat. Jadi secara tidak langsung, belajar pencak silat juga berarti belajar budaya Indonesia lebih banyak lagi. 

Dalam pencak silat kami juga diajarkan bersilaturahmi. Perguruan pencak silat dengan aliran-alirannya masing-masing boleh berbeda, tapi kami adalah satu. Bersatu dalam arti untuk mencapai visi yang sama yaitu menyampaikan pesan dari pencak silat sebagai olahraga bela diri yang unik. Kami tidak boleh melukai lawan jika ia menyerang dan hanya boleh melakukan jurus menghindar, tidak untuk menyakitinya. Ini pun berlaku tidak hanya dalam konteks fisik. Jika misalnya ada yang menyerangku lewat perkataan atau pikiran, aku terbiasa untuk tidak membalas melukainya tapi cukup menghindar layaknya melakukan jurus menghindar. Jadi sebenarnya, pencak silat mengajarkanku untuk berdamai dengan semua hal yang ada di dunia ini. Tentunya karena hal tersebut terus-menerus aku terapkan, pencak silat secara tidak langsung juga mengajarkanku menjadi seorang wanita mandiri. Aku dapat melindungi diri sendiri tanpa perlu menyakiti orang lain. 

Pencak silat mengajarkanku untuk berdamai dengan semua hal yang ada di dunia ini.

Ya, pencak silat memang telah mengubah hidupku. Karenanya, aku memiliki kesempatan berkarier di dunia hiburan. Seperti ketika aku dipilih untuk berada dalam produksi film “Wiro Sableng” yang membutuhkan aktris dengan kemampuan bela diri. Menelisik lebih jauh ke masa-masa bersekolah, pencak silat juga mengiringi perjalanan akademisku. Dari SD aku sudah sering mengikuti lomba yang kemudian memudahkanku masuk ke SMP yang diinginkan karena melalui jalur prestasi. Kemudian berlanjut ke SMA di mana aku berkesempatan untuk menjadi atlet yang mewakili Kota Bandung. Meski kini aku tidak lagi menjadi atlet pencak silat, tapi aku merasa takdirku akan terus terlibat dalam pencak silat. Sekalipun tidak berada dalam kompetisi atau semacamnya. Tapi aku tahu pencak silat tidak akan terlepas dari hidupku. Pencak silat adalah diriku yang membuatku bisa terus berkembang. 

Aku bisa meyakini itu karena pernah ada satu pengalaman yang membuatku percaya bahwa ucapan adalah doa. Sewaktu SMA, aku pernah bertanding di pembukaan kompetisi para atlet Kota Bandung. Lalu dari tepian arena, aku melihat para atlet memakai jaket atlet Kota Bandung yang menurutku keren sekali. Dalam hati aku pun bilang, “Keren ya mereka pakai jaket atlet Kota Bandung”, diiringi dengan harapan untuk juga bisa mengenakannya suatu hari. Entah bagaimana semesta bekerja, sesuai meraih medali juara tiga dari pertandingan tersebut aku diajak oleh salah satu pelatih untuk ikut latihan atlet. Keesokan harinya, rupaya latihan tersebut merupakan tes yang menuntunku menjadi seorang atlet yang mewakili Kota Bandung. Akhirnya impianku memakai jaket atlet Kota Bandung pun tercapai. 

Motivasiku saat itu mungkin terdengar sederhana. Aku hanya ingin menjadi seorang atlet karena ingin mengenakan jaket atlet. Tapi ketika aku menginginkan itu, pasti akan dikejar hingga dapat. Di sanalah aku semakin percaya bahwa ketekunan adalah kunci kesuksesan.

Ketekunan adalah kunci kesuksesan.

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021