Self Planet & People

Mendalami Penjelajahan

Febrian

@_febrian

Penulis Blog Travel

Sedari kecil aku sering sekali merasa paling berbeda dengan yang lain. Tidak heran, aku lahir dan besar di kota kecil di daerah Kuningan, Jawa Barat, sebagai kaum minoritas. Menjadi segelintir orang yang beragama Kristen dan bersuku peranakan Tionghoa membuatku merasa enggan untuk bergaul dengan banyak orang. Seringnya hanya memilih untuk berkumpul atau berteman dengan mereka yang berlatar belakang sama. Mungkin karena dulu aku sering di-bully oleh anak-anak di sekitar lingkungan rumah karena terlihat paling berbeda. Makanya aku pun sempat menjadi seseorang yang tertutup karena takut terlihat berebda. Sampai-sampai aku kurang punya pikiran terbuka karena belum menjangkau dunia lebih luas.

Semua berubah ketika aku memutuskan untuk menjadi seorang travel blogger. Kepergianku dari satu tempat ke tempat lain membukakan mata dan pikiranku akan keberagaman. Ternyata sedari kecil aku hidup dalam kotak yang membuat pikiranku salah. Ternyata tidak semua orang membeda-bedakan manusia lain yang tidak memiliki latar belakang sama. Aku pernah pergi ke daerah Singkawang dengan mayoritas masyarakatnya keturunan Tionghoa. Di sana, umat Muslim justru menjadi minoritas. Berbeda sekali dengan situasiku sewaktu kecil. Keterbukaanku pun semakin meluas saat aku mulai menjelajah negara luar. Aku pernah ke India yang mempertemukanku dengan pengalaman serta budaya yang amat berbeda. Hingga lambat laun akhirnya aku menyimpulkan bahwa semakin sering aku menjelajah tempat baru, semakin aku mengenal diri dan keberagaman di sekitarku. 

Lambat laun akhirnya aku menyimpulkan bahwa semakin sering aku menjelajah tempat baru, semakin aku mengenal diri dan keberagaman di sekitarku. 

Apalagi setelah aku bekerja dan bertemu dengan banyak orang yang berbeda serta berinteraksi dengan masyarakat di daerah terpencil di Indonesia. Aku melihat banyak orang yang tidak satu agama atau satu suku tetap bisa menghargai satu sama lain. Bahkan banyak orang yang tinggal di daerah memiliki pemikiran yang lebih terbuka dari kita yang tinggal dan hidup di kota besar. Aku merasa dianggap seperti keluarga sendiri ketika tinggal di rumah penduduk di daerah-daerah terpencil itu. Meski aku berbeda dengan mereka.

Namun dari segala pengalaman yang pernah aku alami, ada satu kisah yang mengubah hidupku. Suatu kali aku pergi ke Pulau Moyo di Nusa Tenggara Barat. Satu sore aku pergi ke dermaga untuk berenang dan bertemu dengan anak-anak penduduk lokal. Sambil melihat matahari terbenam, aku mengajak mereka berbincang. Aku bertanya pada mereka, “Kalau sudah besar cita-citanya mau jadi apa?”. Ada yang menjawab ingin jadi nelayan, jadi petani dan ada salah satu dari mereka yang jawabannya cukup menggelitikku. Ia menjawab ingin menjadi pegawai minimarket. Usut punya usut di seberang Pulau Moyo, tepatnya di daerah Sumbawa kala itu baru mendirikan sebuah minimarket. Ketika aku bertanya alasannya, ia menjawab karena seragamnya keren. 

Jawabannya menggelitik bukan karena keinginannya salah tapi anak ini mengingatkan pada diriku di masa kecil. Aku tahu benar bagaimana ketika kecil aku kurang menyerap informasi. Sehingga aku hanya mendasari keinginanku dari apa yang aku lihat di sekitar saja. Di Pulau Moyo tidak ada televisi. Apalagi koneksi internet. Tidak heran mereka punya ccita-cita yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Begitu pula aku ketika masih kecil. Dulu aku ingin jadi pendeta karena dekat sekali dengan kehidupan menggereja. Utamanya karena pergaulanku hanya berada di sana alih-alih takut bergaul dengan mereka yang berbeda. Pengalaman bertemu anak-anak ini membuatku menyadari betapa banyak anak-anak di seluruh Indonesia dengan situasi yang sama. Tidak memiliki akses untuk mengenyam informasi tentang dunia di luar daerahnya. Mereka punya cita-cita sejauh batas daerah mereka saja. Berangkat dari pengalaman tersebut, aku mulai membuat gerakan yang dapat membantu masyarakat di daerah-daerah terpencil sesederhana gerakan membagikan buku-buku untuk mereka. 

Aku pun menyadari bahwa ternyata dengan menjelajah, kita bisa memiliki kebahagiaan ganda. Tidak hanya bahagia karena melihat tempat baru untuk relaksasi tapi juga karena bisa berkontribusi untuk orang lain di tempat tersebut. Seperti ada hormon endorfin yang mengalir dalam diriku ketika aku bisa membuat mereka tersenyum. Ini membuatku mendapatkan kebahagiaan yang berlapis. Menurutku kebahagiaan berasal dari dalam diri dan sekitar kita. Di saat aku bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, itu sudah sangat cukup. Apalagi ternyata kebiasaanku berpelesir bisa menjadi mata bagi kedua orang tuaku yang tidak memiliki kesempatan yang sama sepertiku. Aku mungkin tidak bisa jadi orang yang kaya raya tapi aku cukup bahagia dengan menjadi orang yang kaya akan pengalaman. 

Aku pun menyadari bahwa ternyata dengan menjelajah, kita bisa memiliki kebahagiaan ganda. Tidak hanya bahagia karena melihat tempat baru untuk relaksasi tapi juga karena bisa berkontribusi untuk orang lain di tempat tersebut.

Lewat setiap perjalanan yang kutempuh, aku belajar banyak tentang menghargai perbedaan. Aku bertemu dengan orang yang sangat kaya, juga yang sangat miskin. Aku pergi ke tempat yang subur dan gersang dengan segala keunikannya. Sehingga aku menyadari bahwa setiap orang sebenarnya tetap bisa bahagia dengan caranya sendiri-sendiri. Baik mereka punya banyak uang atau tidak. Hany satu yang perlu kita lakukan yaitu berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain. Sebaliknya, kita harus berusaha untuk bisa menikmati dan fokus pada apa yang ada di depan mata. Sekaya apapun kita kalau masih membandingkan diri dengan orang lain, hidup kita tidak akan tenang. Dengan melihat dunia lebih luas, menjelajah tempat-tempat baru, mengenali budaya yang berbeda serta bertemu dengan orang yang beragam, aku berproses untuk terus menanamkan hal tersebut dalam diri.

Aku menyadari bahwa setiap orang sebenarnya tetap bisa bahagia dengan caranya sendiri-sendiri. Baik mereka punya banyak uang atau tidak. Hany satu yang perlu kita lakukan yaitu berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain.

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021