Self Love & Relationship

Membesarkan Anak Perempuan

Setiap ibu di dunia ini pasti ingin melihat anak-anaknya bertumbuh dan memiliki masa depan yang baik. Setiap orang tua pasti ingin membesarkan anak-anaknya agar dapat menghargai diri sendiri tanpa melupakan untuk menghargai orang-orang di sekitar mereka. Inilah yang saya harapkan terhadap anak-anak saya. Saya merasa beruntung memiliki dua anak perempuan yang mandiri, kuat dan hebat dalam menjalani segala tanggung jawabnya. Jika ada yang bilang membesarkan anak perempuan itu menantang, bagi saya justru sebaliknya. 

Saya merasa beruntung memiliki dua anak perempuan yang mandiri, kuat dan hebat dalam menjalani segala tanggung jawabnya.

Saya tahu betul anak-anak perempuan saya adalah anak-anak yang tumbuh dengan kepercayaan diri tinggi dan kemandirian. Anak perempuan saya yang pertama berusia 20 tahun sedangkan yang kedua berusia 18 tahun. Melihat mereka sekarang ini menjalani kehidupannya, saya yakin mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang bisa bertanggung jawab atas diri masing-masing dan berjuang menjalani segala rintangan hidup. Jadi saya tidak merasa kesulitan membesarkan mereka sejauh ini. Hanya satu kekhawatiran saya adalah soal pilihan jodoh mereka suatu hari nanti. Semua hal-hal baik yang ada dalam diri mereka bisa terganggu jika mereka bertemu orang yang salah. Inilah doa saya sebagai seorang ibu yaitu agar mereka dipertemukan dengan orang yang tepat untuk mendampingi mereka. 

Mungkin ini secara tidak langsung memperlihatkan saya sebagai seorang ibu yang protektif. Tapi kalau mau dipikirkan kembali rasanya semua ibu pasti protektif karena ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Meski dalam praktik sehari-hari, saya bisa bilang bahwa saya adalah ibu yang cukup santai. Saya selalu memperlakukan anak-anak seperti sahabat dengan batas-batas tentunya. Walaupun kami bisa seperti teman tapi saya tetap ibu mereka yang memiliki otoritas tertentu dalam keluarga. Jika ada masalah, saya hampir tidak pernah menampilkan kepanikan atau membuat suasana intens. Semuanya kami bicarakan dan pikirkan bersama untuk menemukan jalan keluar terbaik. Dengan tetap tenang merespon masalah, saya percaya semua pasti bisa selesai dengan baik. 

Semuanya kami bicarakan dan pikirkan bersama untuk menemukan jalan keluar terbaik. Dengan tetap tenang merespon masalah, saya percaya semua pasti bisa selesai dengan baik.

Mungkin karena komunikasi yang santai tersebut, akhirnya kami jadi sangat kompak. Hampir jarang berargumen karena semuanya bisa dibicarakan bersama tanpa perlu ada pertengkaran atau pertikaian. Mulai dari hal kecil sampai besar, pasti kami bicarakan karena kami tidak bisa menyimpan sesuatu terlalu lama. Begitu pula ketika mereka akhir-akhir ini memberikan kritik tentang saya kurang fokus saat sedang diajak bicara. Mereka bilang fisik saya ada di hadapan mereka tapi pikiran saya tidak. Tanpa protes, saya memroses kritik dari mereka tersebut dan melakukan evaluasi. Akhirnya saya menyadari bahwa ternyata ketika pandemi dan hidup di masa yang tidak pasti ini membuat saya memikirkan banyak hal sehingga mengurangi fokus. Setelah menyadarinya, barulah saya minta maaf dan jelaskan pada mereka apa yang terjadi pada saya. Lalu kami tidak menyisakan emosi-emosi yang memercik konflik. 

Justru, kepanikan atau sumber konflik biasanya lebih sering terjadi antara anak-anak dan papa mereka. Misalnya suatu saat anak saya yang pertama belum pulang saat sudah cukup larut. Dia pasti sudah menanyakan pada saya ke mana anak kami pergi dan kenapa belum pulang. Kalau saya sendiri sebenarnya tidak terlalu ambil pusing karena tahu anak saya pasti bertanggung jawab. Begitu juga ketika anak-anak masih kecil. ketika banyak orang tua heboh dengan prestasi akademis anak-anak, saya justru tidak terlalu memaksakan anak-anak saya terpaku pada nilai. Yang terpenting bagi saya adalah anak-anak bahagia belajar di sekolah, tidak ada tekanan dan bisa menerapkan ilmu yang diajarkan di sekolah di kehidupan sehari-hari. Menurut saya ada hal-hal lain yang lebih penting dari akademis. Salah satunya adalah emotional intelligence atau kemampuan emosional.

Saya pun mengajarkan anak-anak kemampuan mengasah sisi emosional mereka lewat aksi-aksi sosial. Sebenarnya, ini adalah budaya yang diajarkan oleh Ibu saya. Saya menyebutnya kurikulum hidup. Dulu ketika saya masih remaja, Ibu mengajak ke Majalengka mengantar bantuan untuk korban bencana alam. Beliau adalah seseorang yang sangat sosial. Kalau membantu orang lain seperti tidak pernah perhitungan karena memang itu bagian dari jiwanya. Caranya mengajarkan saya soal ini juga tidak secara teori tapi praktik. Beliau memberikan contoh nyata agar saya bisa lebih peduli dengan isu-isu sosial. Dari sejak itu saya selalu terbayang bahwa jika sudah punya anak nanti saya akan mengajarkan apa yang Ibu ajarkan pada saya. Begitulah akhirnya saya sekarang teruskan pada anak-anak. Ketika kita ingin membuat anak menjadi pribadi yang baik, kita perlu memberikannya contoh yang baik. 

Ketika anak perempuan pertama saya beranjak remaja, saya merasa ia perlu melihat kehidupan lain selain Jakarta. Melihat bahwa ada orang-orang yang hidupnya tidak senyaman kami di ibu kota. Saya membawanya ke NTT untuk mengunjungi desa-desa. Di sana untuk pertama kalinya anak saya masuk ke dalam WC yang tidak ada air sama sekali dan kondisinya membuat dia sangat terkejut dan tidak nyaman. Setelah pengalaman berada di sana, dia jadi sadar ada kehidupan lain selain kehidupannya di ibu kota. Kemudian, beberapa tahun setelahnya dia membuat projek untuk membuat sumur di Sumba. Dan terjadilah siklus kebaikan. Jadi, apa yang diajarkan Ibu sangatlah berharga. Di saat kita memberikan kegembiraan, kita sebenarnya menerima berkat. Saya melihat dengan mereka membuat sesuatu untuk orang-orang yang lebih membutuhkan, kepercayaan diri mereka berkembang.

Seperti juga di awal pandemi kemarin, anak-anak saya bertanya apa yang bisa kami bantu untuk orang lain. Lalu saya mengusulkan agar kita membantu dulu orang-orang yang ada di sekitar kita. Akhirnya, anak-anak dan beberapa temannya pergi ke daerah tempat supir kami tinggal dan membagikan sembako untuk warga yang kesulitan di sana. Inilah yang saya syukuri sekali. Buat saya, prestasi akademis tidak lebih penting dari kemampuan emosional yang terwujud dalam kehidupan sosial sehari-hari. 

Buat saya, prestasi akademis tidak lebih penting dari kemampuan emosional yang terwujud dalam kehidupan sosial sehari-hari. 

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024