Circle Love & Relationship

Membeli Kembali Waktu

Ada kalanya waktu kita masih muda, kadang kita malu saat diantar orangtua ke sekolah. Bahkan terkesan ingin menutupinya dari teman. Kalau diantar jaraknya harus sedikit jauh dari gerbang, meski harus berjalan sedikit. Ya, mungkin karena kita merasa malu dibilang manja. Namun perasaan itu perlahan berubah seiring kita bertumbuh dewasa. Banyak orang kini menunjukkan rasa cinta dengan orangtua di media sosial. Karena semakin dewasanya kita, semakin mengerti keberadaan orang yang kita sayang adalah sebuah anugerah. Kadang hanya waktu yang akan menjadi penentu kapan itu akan berakhir.

Keberadaan orang yang kita sayang adalah sebuah anugerah.

Ibu saya selalu bilang sedari saya kecil, "Kamu harus bisa mandiri, bayangkan kalau mama atau papa sudah tidak ada, siapa yang akan mengurus hidupmu selain kamu? Sama jika malah kamu yang akan mendahului mama, kita harus mempersiapkan itu.”

Hidup dari beragam sejarah keluarga, yang banyak orang kira saya bergelimang kemudahan dalam finansial. Tapi semua itu salah, tidak sedikit yang kaget ketika mendengar saya — dan kemudahan yang kini saya dapatkan berasal dari didikan keras orangtua saya dulu.

Rasanya dulu ada jarak antara saya dan orangtua saya. Ketika berkomunikasi saja sepertinya harus melalui ‘prosedur’ yang tepat supaya tidak dimarahi. Untuk membeli PlayStation saja saya harus menunggu ranking sekolah bagus, atau bahkan menanti belas kasih waktu ulangtahun. Untuk membeli satu buah CD game saja rasanya harus ada belasan alasan yang meyakinkan saya tetap memprioritaskan sekolah ketimbang game. Belum lagi handphone yang baru saya dapatkan waktu SMA – dengan fitur audio poliponik.

Setelah saya kuliah, bekerja, berusaha keras mengukir prestasi, saya mulai melihat komunikasi saya dengan orangtua makin mencair. Saya mulai nyaman ketika bercerita tentang hari berat yang saya hadapi. Saya pun merasakan bahwa kehadiran orangtua kini menjadi hal yang sangat berharga untuk saya. Seberapa pun sedikit waktu yang kita habiskan untuk mereka, itu adalah hal berharga yang tak ternilai. Ada kalanya hal tertentu tidak bisa kita ceritakan pada sahabat, melainkan kepada orang tua.

Seberapa pun sedikit waktu yang kita habiskan untuk mereka, itu adalah hal berharga yang tak ternilai.

Pernah saya tanya pada ibu saya, "Eh, aku cerita terus bikin bosen ya?" Jawaban yang saya dapat justru sebaliknya. “Nggak, mama malah senang kamu cerita. Syukur-syukur kamu bisa plong habis cerita sama mama.” Ketika mereka dilibatkan dalam cerita kita, mereka malah merasa masih memiliki andil untuk melindungi dan membimbing kita —tanpa kita sadari usia kian bertambah, fisik makin menurun.

Tapi kadang, terlalu banyak yang saya ceritakan. Tanpa sadar malah menjadi tong sampah bagi curahan keluhan saya. Di saat saya berharap ada apresiasi atas kerja saya, di situ pula saya belajar sebuah kesetiaan. Di saat semua orang nampak acuh padamu, orangtua adalah suporter terbaikmu yang tidak pernah berhenti mendukungmu dengan caranya.

Orangtua adalah suporter terbaikmu yang tidak pernah berhenti mendukungmu dengan caranya.

Namun kini dengan menjadi teman dengan mereka, niscaya baru saya tahu alasan mereka begitu keras mendidik saya dulu. Segala konflik pekerjaan di kantor mereka,  segala perjulidan tetangga yang kita kira mereka tangguh menghadapinya — ternyata mereka pun sama seperti kita. Mereka berusaha keras untuk memerankan sebagai pemimpin keluarga dan pekerja di saat bersamaan.

Begitu pun kita. Terlalu fokus mengejar mimpi, terkadang kita lupa ada mereka di rumah yang menanti. Semakin sibuk kita, semakin lupa pula bahwa mereka pun bertambah tua. Seandainya kita bisa membeli kembali waktu, mungkin akan kita jalani setiap momen bersama orangtua seintim mungkin. Sebab jangan sampai terlambat menjadi alasan penyesalan kita.

Baik, kalian sudah selesai membaca tulisan ini. Sekarang tutup gawaimu, dan tanyakan kabar orangtua atau orang yang kamu sayang. Jadikan setiap menit kebersamaan mu sebagai hal berharga di hari ini.

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023