Self Lifehacks

Membangun Rutinitas Belajar

Saat ini aku sedang mengisi waktu sebagai persiapan kembali berkuliah dengan berbagai kegiatan, terutama belajar Bahasa Jepang. Dalam memilih bidang yang ingin ditekuni, aku yakin sebenarnya ada banyak orang di luar sana yang juga sama seperti aku, mungkin belum tahu sebenarnya passion kita apa. Apalagi aku adalah tipe orang yang rasanya selalu ingin belajar semua hal. Setelah memutuskan untuk gap year, aku mencoba mencari tahu lebih dalam terkait beberapa bidang yang menarik perhatianku. Kalau sebelumnya aku hanya melihat jurusan kuliah berdasarkan prospek kerja di internet, pada percobaan kedua ini aku mencoba menghubungkan jurusan yang aku pilih dengan bidang-bidang yang selama ini sudah aku jalani. Sehingga aku memiliki pilihan yang lebih mengerucut.

Di samping itu aku juga berdiskusi dengan orang-orang yang bergelut di bidang yang aku minati sehingga aku memiliki gambaran yang jelas akan jurusan yang akan aku pilih untuk perkuliahan. Tetapi pada akhirnya keputusan akhir akan apa yang ingin aku pelajari aku kembalikan sebagai tanggung jawabku terhadap diriku sendiri. Terkadang aku merasa ada beberapa hal yang memang harus kita percayakan pada mata hati atau insting kita semata.

 Terkadang aku merasa ada beberapa hal yang memang harus kita percayakan pada mata hati atau insting kita semata.

Ketika belajar mandiri selama persiapan kuliah selanjutnya yang aku lakukan adalah menentukan tujuan yang jelas dan medan perang yang tepat. Maksudnya, tidak semua hal harus kita lakukan. Aku rasa tidak jarang sebagian dari kita memiliki miskonsepsi akan produktivitas, yaitu mengasosiasikan produktivitas dengan bekerja terus menerus tanpa rehat. Banyak yang merasa bahwa menjadi produktif artinya kita bisa lihat hasil pekerjaan kita dengan jelas, walaupun mungkin secara definisi hal ini bisa dikatakan benar, tapi definisi produktivitas yang lebih aku dukung adalah bekerja secukupnya. Kemudian sisa waktu kita bisa dialokasikan untuk kegiatan yang membuat kita bisa belajar dan “hidup”. 

Banyak yang merasa bahwa menjadi produktif artinya kita bisa lihat hasil pekerjaan kita dengan jelas, walaupun mungkin secara definisi hal ini bisa dikatakan benar, tapi definisi produktivitas yang lebih aku dukung adalah bekerja secukupnya.

Kalau aku pribadi biasanya aku menentukan setiap harinya apa yang harus dilakukan, umumnya satu hal paling penting, paling banyak tiga pekerjaan utama dalam satu hari. Sehingga dengan menyelesaikan pekerjaan prioritas ini aku bisa mengatakan hariku sudah produktif. Untuk mengatur waktu, aku juga menggunakan bantuan tools seperti google calendar dan sebagainya sehingga aku bisa memastikan kegiatanku, entah itu dua bulan lagi ataupun malam ini dengan jelas. Terkadang aku juga merasa ingin menunda hal yang ingin aku kerjakan, tetapi dengan membuat to do list yang tidak berlebihan memudahkanku untuk tetap mengerjakannnya dan beristirahat setelahnya. 

Agar bisa konsisten dalam mempelajari hal baru, cara yang kulakukan adalah menjadikannya sebagai identitas diri kita. Dalam artian kita tidak lagi terasa terbebani dalam melakukan hal tersebut. Aku menjadikan belajar sebagai rutinitas yang tidak perlu dipikirkan dua kali untuk memulai, sama halnya seperti ketika kita menonton drama Korea, mendengarkan musik, atau semacamnya. Tentu saja ini bukan perkara mudah, cara aku untuk menghadapi ini adalah mencari accountability partner. Jadi, entah itu tutor ataupun teman belajar akan sangat-sangat membantu untuk menjadikan belajar sebagai identitas diri kita. Banyak orang yang akhirnya berhenti di tengah jalan ketika berusaha membangun rutinitas karena kegiatan tersebut tidak memberikan return finansial secara langsung. Memiliki rasa tanggung jawab akan rutinitas yang kita bangun dalam belajar juga membantu agar kita tidak merasa bisa berhenti dan menyerah kapan saja karena akan ada konsekuensi yang datang bersamaan dengan keputusan tersebut.

Agar bisa konsisten dalam mempelajari hal baru, cara yang kulakukan adalah menjadikannya sebagai identitas diri kita. Dalam artian kita tidak lagi terasa terbebani dalam melakukan hal tersebut. Aku menjadikan belajar sebagai rutinitas yang tidak perlu dipikirkan dua kali untuk memulai, sama halnya seperti ketika kita menonton drama Korea, mendengarkan musik, atau semacamnya.

Aku pernah merasa bahwa cara belajarku kurang efektif. Di semester-semester awal SD aku selalu mendapat ranking pertama, tentu ini sebenarnya hal yang patut disyukuri, namun di sisi lain aku merasa ini membuatku tinggi hati karena hasil tersebut didapatkan tanpa belajar dengan sungguh-sungguh. Aku merasa dalam menemukan cara belajar yang efektif, kita terlebih dahulu harus mengubah cara pandang kita akan belajar. Bahwa belajar bukan hanya untuk lulus ujian tapi memang sebagai kebutuhan aku sebagai manusia yang didorong oleh rasa ingin tahu. Ini juga yang lantas membulatkan keputusanku untuk pindah jurusan karena aku rasa pendidikan yang aku inginkan bukan sekedar datang ke sekolah dan lulus. Aku ingin sangat-sangat berdedikasi dengan ilmu yang aku pelajari sehingga aku bisa menciptakan sesuatu dari sana. 

Aku merasa dalam menemukan cara belajar yang efektif, kita terlebih dahulu harus mengubah cara pandang kita akan belajar. Bahwa belajar bukan hanya untuk lulus ujian tapi memang sebagai kebutuhan aku sebagai manusia yang didorong oleh rasa ingin tahu.

Related Articles

Card image
Self
Hidup Tanpa Penyesalan

Setiap orang tentu pernah mengambil keputusan yang salah, entah itu berdampak pada hidup kita sendiri atau bahkan juga berpengaruh pada hidup orang-orang di sekitar kita. Meski begitu kesalahan tidak selalu berujung pada penyesalan.

By Greatmind
24 February 2024
Card image
Self
Janji Untuk Menyayangi Sepenuh Hati

Terkadang kita melihat kata janji, apalagi yang diucapkan oleh pasangan sebagai kata-kata manis tanpa arti. Padahal, sebenarnya janji adalah bentuk dari komitmen yang harus dijaga.

By Alvares
24 February 2024
Card image
Self
Kesadaran: Pemotong Ilusi Waktu

1 hari = 24 jam. Rasanya semua orang tahu "fakta" ini. Dengan estimasi 15 derajat garis bujur per jam, seluruh dunia ini terbagi menjadi zona-zona waktu. Tetapi apakah seseorang yang tinggal di zona WIT (Waktu Indonesia Timur) hidup di masa depan dan yang tinggal di zona WIB (Waktu Indonesia Barat) hidup di masa lalu?

By Sugiarto
17 February 2024