Self Health & Wellness

Membangkitkan Energi Dalam Diri

Mutia Nandika

@mumunch

Direktur Perusahaan Media & Pendiri Pusat Kebugaran

Ilustrasi Oleh: Hwang T (Atreyu Moniaga Project)

Percaya tidak bahwa setiap orang itu pasti punya masa di mana kita merasa berada pada titik paling bawah hidup dan hampir merasa tidak lagi kuat menghadapi tantangan? Sebagian dari kita pasti pernah berada dalam masa-masa “kegelapan” yang mencampurkan segala emosi, dan pikiran sampai menghasilkan sebuah energi negatif lalu berperilaku negatif. Ya, tidak ada yang sempurna memang. Termasuk aku sendiri. Dulu aku terbilang seseorang yang kurang bisa berpikir positif. Terutama ketika aku harus melalui krisis hidup (rock bottom) pada satu periode dalam perjalananku. Diawali dengan ayahku yang meninggal disaat sedang awal merintis karier. Aku sangat mengidolakan dan sangat dekat dengan beliau dibandingkan dengan siapapun di dunia ini. Beberapa lama berselang, aku pun harus menjadi orangtua tunggal karena satu dan lain hal. Lebih parahnya lagi aku mengidap sebuah penyakit yang kata dokterku saat itu sulit disembuhkan. Tidak bisa dihilangkan tapi bisa dikurangi rasa sakitnya.

Sebagian dari kita pasti pernah berada dalam masa-masa “kegelapan” yang mencampurkan segala emosi, dan pikiran sampai menghasilkan sebuah energi negatif lalu berperilaku negatif.

Setelah beberapa tahun penyakit tersebut membuatku kurang stabil, anjuran untuk mulai berolahraga pun muncul dari dokter yang berbeda. Aku bukanlah seseorang yang antusias jika disuruh berolahraga. Bahkan terbilang aku hampir tidak pernah olahraga. Tapi aku merasa aku harus mencobanya jika memang itu bisa membantu meringankan kadar penyakitku. Sejak itu aku diperkenalkan dengan yoga yang pelan-pelan membantuku untuk bisa berpikir positif dan kembali bersemangat menjalani keseharian. Rutin melakukan yoga setiap akhir pekan ternyata menuntunku pada masa di mana aku bisa menghentikan konsumsi obat. Entah bagaimana aku merasa energiku kembali dengan melakukan yoga. Mungkin karena keringat yang keluar dari tubuh hingga terjadi detoksifikasi atau karena interaksiku dengan individu dari komunitas yang berbeda. 

Semakin sering berada di komunitas yoga perlahan mengantarku pada hidup sehat sesuai dengan kebutuhan dan pemahamanku sendiri. Aku mempelajari tubuhku sendiri dan keseimbangan hidup yang aku butuhkan. Menurutku pribadi, hidup seimbang itu tidak ada rumusnya karena setiap orang punya kondisi fisik yang berbeda-beda sehingga kita harus menemukan sendiri arti hidup seimbang itu. Misalnya ada temanku yang bisa melakukan diet keto (tidak makan karbohidrat), aku tidak bisa diet keto karena aku suka sekali mengudap roti jadi sepertinya aku belum bisa meninggalkan karbohidrat. Jadi sebenarnya tidak bisa sama apa yang aku lakukan dengan yang orang lain lakukan. Yang jelas kita harus paham untuk tidak mengkonsumsi sesuatu berlebihan. Aku juga tidak setiap hari berolahraga. Kadang tidurku juga tidak 7-8 jam, tapi berkualitas. Sehingga aku tidak merasa kelelahan. Pernah juga aku temui seorang kolega yang dapat menurunkan berat badan hanya cuma dengan berjalan dan dibantu ahli gizi saja. Beliau tidak olahraga berat apapun, tidak diet ketat, tapi progresnya amat terlihat. 

Hidup seimbang itu tidak ada rumusnya karena setiap orang punya kondisi fisik yang berbeda-beda sehingga kita harus menemukan sendiri arti hidup seimbang itu.

Hanya saja aku merasa olahraga itu mengajarkan banyak hal. Apalagi kalau kita melakukan olahraga yang diniati bukan sekadar bergerak-gerak saja. Misalnya kita niat untuk lari. Dengan ada niat itu saja sudah membawa energi positif pada diri. Kemudian niat itu juga disusul dengan gol. Kita jadi ingat kalau jika kita lari itu punya gol. Misalnya lari satu kilo. Itu adalah gol yang membuat kita punya motivasi. Soal di tengah-tengah berlari kita kelelahan itu urusan nanti. Cuma harus diingat bahwa kita jangan sampai berhenti untuk seterusnya. Sama saja seperti hidup. Kita punya pilihan untuk berhenti atau menunda pencapaian kita. Kalau kita berhenti berarti kita gagal. Tapi kalau kita menunda kita paling tidak masih ada keinginan untuk menyelesaikan hingga garis akhir. Boleh saja beristirahat 5-10 menit saat lari tapi kemudian ingat untuk meneruskan dan ingat bahwa di akhir garis finish kita bisa merayakannya. Banyak orang yang terlalu ketat dalam berolahraga sampai anti merayakan sesudah olahraga. Buatku, kenapa tidak? Itu bisa dibilang bentuk penghargaan diri kita. Sehingga kita bisa merasa bahwa olahraga itu menyenangkan dan kita tidak merasa enggan untuk menjadikannya rutinitas.

Inilah yang aku pelajari dari para pelatih kebugaran di Amerika. Mereka adalah orang-orang dengan kepribadian yang amat menyenangkan di mana hidupnya tidak 100% kehidupan zen tanpa selebrasi. Mereka juga suka bersenang-senang dan termasuk segelintir pribadi yang tergila-gila pada musik. Hampir semua pelatih kebugaran dan fitness enthusiast memang dekat dengan musik karena menggunakannya dalam kelas olahraga. Aku pun mengalami sendiri bagaimana musik menjadi elemen penting untuk meningkatkan mood kita. Sehingga saat kita berada dalam kelas kebugaran jadi merasa bersemangat juga untuk mengeluarkan keringat dan tidak bosan mencobanya lagi di esok hari. Aku berpikir faktor ini cukup penting karena olahraga yang paling penting adalah untuk keluar keringat dulu untuk menjaga metabolisme tubuh. Meski saat kita olahraga kita merasa kelelahan tapi sebenarnya setelah itu justru kita menghasilkan energi karena peredaran darah yang lancar dari detoksifikasi keringat tersebut. Sayangnya di Indonesia masih banyak orang yang niat olahraganya terbatas akan beberapa faktor yang kurang esensial. Padahal aku pikir healthy is happy dan happy is healthy, tanpa tekanan. Bukan sekadar untuk menurunkan berat badan atau mencapai tubuh yang ideal sesuai dengan standar yang dibuat oleh pihak tertentu.

Healthy is happy dan happy is healthy

Bukannya salah tapi aku memandang ini dapat menjadi lingkungan yang kurang mendukung di antara para pemula atau mereka yang memang memiliki niat untuk rutin berolahraga. Di beberapa studio yoga yang pernah aku kunjungi memiliki kecenderungan tersebut. Ada anggota yang tidak lagi mau datang karena merasa banyak tekanan. Salah satunya karena adanya keharusan untuk berkemampuan yoga yang baik sesuai standar sang pelatih. Dia merasa gerakan yoga yang dilakukan tidak pernah baik selalu mendapatkan kritik sampai dia memutuskan berhenti. Ada juga studio yang anggotanya membuat geng dan menebarkan rasa kurang nyaman ke anggota lain terutama mereka yang baru karena merasa bukan bagian dari mereka. Aku pun pernah mengalami trauma ketika yoga di salah satu studio di Jakarta. Sempat dulu ditanya berkali-kali sama instruktur yoga apakah itu pertama kali aku yoga. Aku bilang tidak. Tapi dia tidak percaya malah lalu di akhir sesi mengingatkan untuk melatih gerakanku supaya bisa lebih baik. Tentu jadi pengalaman kurang nyaman untukku dan membuat aku berpikir beberapa kali untuk yoga lagi. 

Dari pengalaman dan observasi tersebut serta motivasi dari seorang praktisi yoga yang aku temui di Amerika, akhirnya aku membulatkan tekad untuk membuat sebuah studio kebugaran yang menawarkan pengalaman berbeda. Bersama sahabatku, kami ingin menyebarkan pesan bahwa olahraga itu harus menyenangkan. Tidak perlu dengan tekanan yang penting niat untuk berolahraga. Tidak ada peralatan berat seperti di gym bahkan tidak ada timbangan. Bernama Active Barn, kami berusaha untuk mengajak siapapun mau dia sudah bisa yoga atau belum yang penting datang dulu untuk mencoba. Karena itulah bagian menyenangkan dari olahraga. Mencoba sesuatu yang baru soal bisa atau tidak, gerakan bagus atau tidak urusan nanti. Kami ingin mereka merasakan bagaimana serunya olahraga. Bagaimana olahraga bisa membantu aku untuk semangat melawan penyakitku dulu –  meski kisah ini juga tidak secara langsung aku bagikan kepada mereka. Terlebih lagi Active Barn mau mengumandangkan prinsip bahwa olahraga haruslah menyenangkan. Nantinya mereka yang datang mencoba kelas pun diharapkan dapat menanamkan “move beyond today” yang berarti kita manusia harus merasa lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini mood kurang baik, besok harus merasa berbeda. Dengan demikian kita jadi punya gol terus untuk merasa jadi lebih baik entah secara fisik atau mental atau keduanya.

Selain itu aku ingin saat orang datang ke sana, mereka bisa menerima dirinya sendiri bahwa setiap orang punya kondisi yang berbeda. Ada yang memang secara genetik tidak bisa membuat perutnya six pack dan tidak perlu sampai berusaha sebegitunya untuk mencapai ideal yang dibuat oleh kebanyakan orang tersebut. Menurutku kita kebanyakan mendapatkan doktrin untuk menempuh sesuatu yang bagus-bagus. Bahkan kita bisa menanamkan kepercayaan body positivity walau sebenarnya kondisi tubuh kita dalam kondisi kurang baik. Memang kita harus berpikir positif tentang diri kita sendiri namun lebih penting lagi kalau kita bisa memahami kebutuhan dan apa yang sudah dimiliki oleh raga kita. Jadi body positivity menurutku sebaiknya jangan 100% menjadi doktrin. Sebaliknya kita harus melihat berbagai aspek diri yang bisa membawa hal positif dalam tubuh.

​Kita harus berpikir positif tentang diri kita sendiri namun lebih penting lagi kalau kita bisa memahami kebutuhan dan apa yang sudah dimiliki oleh raga kita.

Related Articles

Card image
Self
Secukupnya Saja

Masyarakat modern saat ini punya banyak pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan beragam pilihan mulai dari pagi hari mau baca apa sampai keluar rumah mau pergi ke mal yang mana. Tanpa sadar banyaknya pilihan ini sebenarnya bisa jadi masalah. Terlalu banyak pilihan membuat kita memiliki banyak keinginan.

By Raditya Dika
15 August 2020
Card image
Self
Weak Ties: Masa Depan

Ada sebuah quote dari filsuf Seneca: Jika kamu tidak tahu mau berlayar kemana, arah angin manapun akan terasa menghambat. Saya mendengar quote ini saat pertama kali belajar tentang Foresight, atau Futures Thinking, alias...belajar berpikir tentang masa depan. Bagaimana caranya berpikir tentang masa depan, kan masa depan itu tidak bisa diprediksi?

By Kartika Anindya
08 August 2020
Card image
Self
Sejenak Mencari Bahagia

Sejatinya kita pasti ingin hidup bahagia. Rasanya tidak ada orang yang sengaja menyakiti dirinya agar tidak bahagia. Tapi menurut saya terkadang kita ingin hidup bahagia tanpa sebelumnya mengetahui benar apa yang membuat kita bahagia. Pencarian kebahagiaan itu sendiri sepertinya tidak akan berhenti dalam satu masa hidup. Seiring berjalannya waktu, makna bahagia yang kita percaya bisa berubah.

By Aulia Meidiska
08 August 2020