Self Lifehacks

Memaknai Perempuan Berdaya

Dua tahun terakhir sepertinya banyak diantara kita yang bekerja dari rumah. Berdasarkan pengalaman pribadi sebenarnya cukup banyak juga yang harus dilakukan bersamaan. Mulai dari pekerjaan kantor, mengurus keluarga, hingga meluangkan waktu untuk diri sendiri. Saya sepertinya juga harus memberikan credit kepada support system saya yang sangat mendukung semua peran yang saya jalani, rasanya tidak mungkin saya dapat melakukan banyak hal kalau hanya berasal dari kemauan sendiri tanpa dukungan orang sekitar. Beruntung support system saya, mulai dari suami, anak, orang tua, teman, bahkan rekan kantor juga mendukung sehingga saya dapat melakukan banyak hal sekaligus.

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama korea, atau hobi-hobi lainnya. Meluangkan waktu untuk diri sendiri menurut saya sangat penting, untuk menghasilkan sosok yang bahagia, sehingga saya bisa menjalankan setiap peran secara maksimal.

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri.

Selama 10 tahun saya berkarir, saya selalu mengusahakan waktu untuk diri sendiri, karena kalau tidak diusahakan, pasti tidak akan pernah ada waktunya. Apalagi di era digital seperti ini kita sekarang di rumah, tidak ada lagi jam kantor. Tidak ada batasan kapan jam masuk dan pulang kantor, jadi memang kita yang harus bisa menentukan batasan. Saatnya untuk berhenti sejenak, kalau memang butuh untuk istirahat. Kalau butuh cuti, ambil cuti. Sempatkan waktu untuk diri sendiri. Saya yakin dunia ini nggak akan meledak saat kita rehat sejenak, pasti akan ada orang yang membantu pekerjaan kita, selama kita bisa mendelegasikan tugasnya dengan baik. 

Saatnya untuk berhenti sejenak, kalau memang butuh untuk istirahat. Kalau butuh cuti, ambil cuti. Sempatkan waktu untuk diri sendiri. Saya yakin dunia ini nggak akan meledak saat kita rehat sejenak, pasti akan ada orang yang membantu pekerjaan kita, selama kita bisa mendelegasikan tugasnya dengan baik. 

Diskusi mengenai perempuan yang bekerja juga sudah jauh lebih menyenangkan dari tahun-tahun sebelumnya. Saya bersyukur dengan penggambaran wanita di media pada titik ini. Tidak hanya Fimela, saya rasa juga ada banyak media besar maupun influencer yang memang memberikan ruang bagi perempuan agar bisa tampil di depan. Mendukung perempuan agar bisa memahami nilai diri mereka sendiri. Memahami hak, potensi, dan bagaimana cara kita bersikap terhadap diri sendiri dan lingkungan. Saya rasa tidak ada alasan lagi bagi perempuan di Indonesia untuk tidak memanfaatkan kondisi sekarang agar bisa naik kelas. Meski perlu diakui kita belum ada di kondisi ideal yang diharapkan. 

Fokus utama saya dan Fimela adalah untuk membantu perempuan mengetahui bahwa kita memiliki potensi sendiri-sendiri. Fimela mencoba menghadirkan konten yang dapat memicu perempuan agar sadar bahwa mereka bisa melakukan banyak hal jika bersedia mencoba. Media-media lain mungkin akan sangat lantang membahas mengenai empowerment, kesetaraan, dan lain-lain tapi kami juga tidak hanya membahas hal itu. Kami juga ingin membawa hal-hal yang lebih kecil. Contohnya konten resep atau make up, yang bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai konten yang remeh atau trivial tapi kami ingin konten tersebut bisa memberi ide “Oh, ternyata saya besok mungkin bisa coba masak ini” tapi juga mungkin yang sebelumnya  belum bisa masak, kemudian melalui konten resep ini mereka coba dan merasa, ternyata saya bisa masak, satu lagi unlock skill yang mereka punya.

Di Indonesia terutama, memang sedihnya masih ada banyak sekali pihak-pihak yang masih close minded terhadap isu perempuan beropini dengan lantang. Tapi saya juga punya optimisme bahwa kita tidak akan berhenti di sini. Di lain sisi, saya juga senang bahwa ada pihak-pihak tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki yang kemudian ketika mereka melihat perempuan yang aktif bersuara dan mereka mengapresiasi, dan dari situ saya juga merasa bahwa kita punya potensi, karena kalau kita mau belajar pasti kita juga bisa open minded akan isu-isu ini.  Saya selalu salut kepada perempuan yang berani berpendapat karena saya merasa bahwa setiap manusia baik laki-laki atau perempuan, lahir dengan akal yang sama. Artinya  kita berhak untuk menyuarakan pendapat karena kita punya kemampuan berpikir yang sama, lantas kenapa harus dibeda-bedakan atau dikotak-kotakan? 

Saya selalu salut kepada perempuan yang berani berpendapat karena saya merasa bahwa setiap manusia baik laki-laki atau perempuan, lahir dengan akal yang sama. Artinya  kita berhak untuk menyuarakan pendapat karena kita punya kemampuan berpikir yang sama, lantas kenapa harus dibeda-bedakan atau dikotak-kotakan? 

Satu hal yang saya pesan bagi diri dan lingkungan sekitar, ketika kalian bersuara di platform manapun perlu dipastikan bahwa tidak berhenti sampai situ. Suara boleh, tapi aksi juga perlu. Inilah yang saya yakin bisa mengubah pandangan orang lain, mereka akan bisa merasa bahwa suara yang diberikan tidak hanya sekedar suara atau tulisan  di sosial media atau ketikan kita tapi juga ditunjukkan dari bidang yang kita kuasai. Mau itu pekerjaan, karya, atau prestasi kalian. Sebisa mungkin pasti harus diiringi dengan itu. Saya yakin kalau perempuan yang bersuara ini bisa menunjukkan karyanya dan aksi konkret maka tidak perlu khawatir akan gender dan lain-lain, karena tidak sekedar bicara tapi juga bisa membuktikan apa yang kita sampaikan itu ada realisasinya. 

Tahun ini Fimela mengangkat tema Elevate Woman sepanjang tahun 2021 dengan Fimela Fest sebagai acara puncak di akhir tahun. Kami terinspirasi oleh kondisi kita yang sedang pandemi, kita berharap kita sudah ada di penghujung pandemi semoga tahun depan sudah selesai. Tapi di awal tahun 2021 ini kita masih berada di tengah-tengah pandemi. Kami menyadari bahwa banyak individu yang terdampak dalam masalah finansial, kesehatan, hingga mental. Kondisi berkepanjangan ini membuat kami ingin mengembalikan lagi semangat perempuan agar mereka siap, kita juga masih punya masa depan nanti kalau pandemi ini sudah berakhir kita bisa siap dengan segala skill yang kita punya. Fimela Fest adalah acara puncak kita di akhir tahun, kami ingin membungkus apa yang telah kita sajikan selama setahun penuh dalam sebuah gelaran puncak yang kami hadirkan secara virtual pada 19 November lalu.

Perempuan berdaya buat saya adalah mereka yang padam dan sadar akan value diri mereka sendiri. Mereka sadar benar atas potensi yang mereka punya dan mereka tidak ragu untuk menjadi sosok yang mereka inginkan apapun profesinya apapun bidangnya. Karena mereka punya pemahaman akan diri sendiri, maka mereka tidak ragu untuk mengembangkan diri. Tapi berdaya bukan lantas semua harus bisa dijalankan sendiri, berdaya bukan berarti arogan dan merasa tidak butuh dukungan dari orang lain. Justru menjadi perempuan berdaya adalah bagaimana ia bisa percaya kepada dirinya sendiri, bisa bernalar dengan baik, ia juga bisa mengakui apabila dia butuh dukungan dari orang lain, menjadi bahagia dengan apa yang telah ia putuskan. 

Berdaya bukan lantas semua harus bisa dijalankan sendiri, berdaya bukan berarti arogan dan merasa tidak butuh dukungan dari orang lain. Justru menjadi perempuan berdaya adalah bagaimana ia bisa percaya kepada dirinya sendiri, bisa bernalar dengan baik, ia juga bisa mengakui apabila dia butuh dukungan dari orang lain. Menjadi bahagia dengan apa yang telah ia putuskan. 

Related Articles

Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022
Card image
Self
Menentukan Prioritas dalam Tujuan

Salah satu ajaran dari keluargaku adalah hidup harus jelas, kita harus punya tujuan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Kemudian tujuan tersebut dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum, aku merasa mulai butuh menentukan tujuan mulai dari SMA. Saat SMA kita harus mulai menentukan jurusan kuliah yang kita suka karena akan berhubungan dengan karir kita dalam jangka panjang.

By Nadhira Afifa
15 January 2022