Self Lifehacks

Memahami Eksistensialisme

Quarter life crisis, istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah periode dimana seseorang meninggalkan masa remajanya menuju fase kedewasaan. Biasa terjadi ketika seseorang menginjak usia kepala dua. Quarter life crisis digambarkan sebagai waktu yang penuh dengan ketidakstabilan, namun penting dalam rangka pencarian jati diri seseorang. Mengapa identitas memainkan peran penting dalam kehidupan manusia? Persoalan mengenai identitas tidak bisa lepas dari makna yang merupakan bagian dari isu eksistensialis.

Quarter life crisis digambarkan sebagai waktu yang penuh dengan ketidakstabilan, namun penting dalam rangka pencarian jati diri seseorang.

Apa, sih, eksistensialisme itu? Istilah eksistensialisme sendiri baru populer pada tahun 1940 yang didorong oleh situasi Perang Dunia ke-2. Ide-ide utama dari eksistensialisme tentang keberadaan manusia yang tidak bisa lepas dari kemampuannya untuk berpikir, merasakan, dan bertindak sudah ada sejak abad ke-19.

Kierkegaard, seorang filsuf asal Denmark, mencoba mendalami masalah eksistensi melalui pendekatan religius. Menurut Kierkegaard, ketika terjadi konflik antara etika dengan kepercayaan religius, maka seseorang akan mengalami apa yang disebut sebagai "The Singularity of Existence". Kierkegaard menekankan pada subjektivitas dari tiap pengalaman individu. Subjektivitas inilah yang kemudian mendorong manusia untuk mencari makna dalam hidupnya. 

Persoalan mengenai makna ini kemudian diangkat oleh Martin Heidegger dalam karyanya yang berjudul Being and Time. Heidegger memberi landasan bagi perkembangan eksistensialisme melalui hasil pemikirannya mengenai Dasein (being-there) yang mendefinisikan manusia sebagai makhluk ontologis yang terus-menerus mempertanyakan dirinya sendiri. Heidegger menitikberatkan pada otentisitas pengalaman sebagai bagian krusial dari pencarian makna suatu individu. 

Kedua pendekatan ini dibahas oleh tokoh eksistensialisme yang terkenal pada abad ke-20, Jean Paul-Sartre. Sartre adalah advokat dari kehendak bebas. Sartre percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan makna hidupnya sendiri, sekalipun ia tidak dapat menghindari polemik politik dalam masyarakat. 

Setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan makna hidupnya sendiri, sekalipun ia tidak dapat menghindari polemik politik dalam masyarakat. 

Meskipun terkesan penuh harapan, Sartre adalah seorang pesimistik dalam pelaksanaannya. Selain dikenal karena slogannya, "Existence before Essence", ia juga dikenal sebagai seorang ateis, dan ini terbukti dalam teori yang dinamakan "Bad Faith". Istilah ini merupakan bentuk ketidaksetujuannya atas paham determinisme yang dielukan pada masanya. Dalam argumen nya, Sartre mengatakan bahwa life is not predetermined, atau kehidupan ini tidak ditentukan sebelumnya. Manusia mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang penuh derita dengan menciptakan suatu ilusi bahwa kita adalah korban karena tidak memiliki kuasa untuk menghindar. Justru dengan ilusi yang disebut sebagai "Bad Faith" inilah terbukti bahwa manusia sebenarnya adalah makhluk yang bebas. 

Bagi Sartre, untuk hidup adalah untuk menderita karena kita tidak akan pernah bisa menghindari penderitaan, namun yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan kehendak bebas yang kita miliki untuk mempertanggungjawabkan masa depan kita. Meskipun begitu, eksistensialisme lebih merupakan gerakan kultural ketimbang suatu paham filosofis. Hal ini dibuktikan karena pendekatan eksistensialisme yang multidimensional, baik secara teologis, maupun psikologis. Selain itu, karya-karya penting dalam dunia eksistensialisme juga muncul dalam bentuk seni, diantaranya adalah Jean Paul-Sartre melalui karya fiksinya, "Nausea" dan "No Exit", hingga penulis besar seperti Dostoevsky dan Kafka. Pada tahun 1970-an, eksistensialisme dijadikan sebagai gerakan arus utama, seperti yang kemudian terwujud dalam karya novel dan juga film Woody Allen. 

Bagi Sartre, untuk hidup adalah untuk menderita karena kita tidak akan pernah bisa menghindari penderitaan, namun yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan kehendak bebas yang kita miliki untuk mempertanggungjawabkan masa depan kita.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari eksistensialisme? Pertama, krisis makna dan identitas merupakan suatu tema yang universal, mutlak dialami oleh manusia sebagai makhluk rasional dan juga sentimental. Kita tidak sendiri dalam menghadapi hal ini. Dan yang terakhir, persoalan mengenai identitas yang kita alami saat menghadapi quarter life crisis, merupakan isu yang sudah pernah dibahas oleh figur hebat dalam sejarah kita. Hasil dari pemikiran mereka dapat kita jadikan pedoman dalam menavigasi pertanyaan mengenai makna kehidupan. 

Tak peduli apa pengalaman masa lalu kita, dan tidak peduli apa yang masyarakat beritahu kepada kita, seperti apa yang disarankan Sartre, "Kebebasan adalah apa yang Anda lakukan dengan apa yang telah dilakukan untuk Anda." Karena pada akhirnya, hidup kita adalah tanggung jawab kita.

Tak peduli apa pengalaman masa lalu kita, dan tidak peduli apa yang masyarakat beritahu kepada kita. Karena pada akhirnya, hidup kita adalah tanggung jawab kita.

Related Articles

Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022
Card image
Self
Menentukan Prioritas dalam Tujuan

Salah satu ajaran dari keluargaku adalah hidup harus jelas, kita harus punya tujuan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Kemudian tujuan tersebut dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum, aku merasa mulai butuh menentukan tujuan mulai dari SMA. Saat SMA kita harus mulai menentukan jurusan kuliah yang kita suka karena akan berhubungan dengan karir kita dalam jangka panjang.

By Nadhira Afifa
15 January 2022