Self Art & Culture

Melawan Stigma Wanita Bertato

Ade Putri

@misshotrodqueen

Pencerita Kuliner

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma Wardani

Saya mulai menghias tubuh dengan tato sejak usia 18 tahun. Sewaktu itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tato bagi saya lebih seperti aksesoris tubuh – kalau ada desain yang menurut saya bagus, ya saya tato saja di tubuh.

Namun sayangnya belum banyak orang di negara ini yang memandang tato seperti halnya saya memaknai tato. Mereka masih menganggap orang bertato, terutama wanita, memiliki kesan yang negatif. Padahal saya sendiri tidak pernah memandang orang dari penampilan luarnya.

Ini lah cerita saya tentang tato dan stigma dari masyarakat.

 

Related Articles

Card image
Self
Perubahan Berasal dari Dalam

Jika diminta untuk mendefinisikan gaya hidup mindful, saya tidak bisa mengungkapkan secara singkat. Nyatanya, gaya hidup mindful tidak hanya berarti kita harus mengikuti arus – hidup di masa kini. Tidak hanya melakukan apa yang kita percaya karena orang lain berkata demikian.

By Ivana Atmojo
24 August 2019
Card image
Self
Menata Hidup Dari Rumah

Menurut sebagian orang, menata rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin iya, ada benarnya. Menata rumah memang kadang terasa melelahkan dan memakan waktu. Tapi, justru dari kegiatan menata rumahlah saya mendapat ketenangan dan mindfulness meski tinggal di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

By Astri Puji Lestari
24 August 2019
Card image
Self
Menelisik Benak (Mantan) Teroris

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang diciptakan untuk menjadi orang jahat. Pun seorang teroris. Tidak ada yang terlahir dibalut dengan bendera ISIS. Namun berkembangnya manusia identitas kita bisa berlipat ganda. Layaknya perubahan wujud zat air, manusia bisa berubah karena lingkungan, situasi atau kondisi tertentu. 

By Noor Huda Ismail
17 August 2019