Self Art & Culture

Melawan Stigma Wanita Bertato

Ade Putri

@misshotrodqueen

Pencerita Kuliner

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma Wardani

Saya mulai menghias tubuh dengan tato sejak usia 18 tahun. Sewaktu itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tato bagi saya lebih seperti aksesoris tubuh – kalau ada desain yang menurut saya bagus, ya saya tato saja di tubuh.

Namun sayangnya belum banyak orang di negara ini yang memandang tato seperti halnya saya memaknai tato. Mereka masih menganggap orang bertato, terutama wanita, memiliki kesan yang negatif. Padahal saya sendiri tidak pernah memandang orang dari penampilan luarnya.

Ini lah cerita saya tentang tato dan stigma dari masyarakat.

 

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Digital Minimalism

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari. Maka itu saya jadi digital minimalist. Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

By Marissa Anita
20 February 2021
Card image
Self
Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

By Dewi Lestari
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021