Self Art & Culture

Melawan Stigma Wanita Bertato

Ade Putri

@misshotrodqueen

Pencerita Kuliner

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma Wardani

Saya mulai menghias tubuh dengan tato sejak usia 18 tahun. Sewaktu itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tato bagi saya lebih seperti aksesoris tubuh – kalau ada desain yang menurut saya bagus, ya saya tato saja di tubuh.

Namun sayangnya belum banyak orang di negara ini yang memandang tato seperti halnya saya memaknai tato. Mereka masih menganggap orang bertato, terutama wanita, memiliki kesan yang negatif. Padahal saya sendiri tidak pernah memandang orang dari penampilan luarnya.

Ini lah cerita saya tentang tato dan stigma dari masyarakat.

 

Related Articles

Card image
Self
Hidup Di Dunia Nyata

Perubahan zaman sepertinya membuat semakin banyak orang semakin individualis. Di satu sisi mereka bisa melakukan banyak hal dengan mudah tapi di sisi lain dengan mobilitas tingginya terdapat kesepian yang tinggal dalam diri. Secara tidak sadar, kesepiannya tersebut diungkapkan lewat media sosial di mana mereka bisa berinteraksi dengan banyak orang.

By Sarah Sechan
18 January 2020
Card image
Self
Memulai Kembali

Semoga kalian akan mengingat perasaan saat berpikir tidak ada cahaya yang menyambut di ujung terowongan yang kalian lalui. Semoga kalian akan mengingat masa-masa di mana kalian pikir tidak akan dapat melaluinya. Semoga kalian mengingat masa-masa itu hanya sebagai pengingat bahwa segala sesuatunya ternyata bisa menjadi lebih baik.

By Cath Halim
18 January 2020
Card image
Self
Persiapan Masa Depan

Baik pribadi atau pebisnis bisa mengalami kegagalan finansial. Salah satu faktor utama yang menyebabkan adalah tidak adanya kejelasan visi keuangan jangka panjang. Bagi para pebisnis biasanya pailit terjadi karena adanya ketidakmampuan untuk menganalisa perubahan tren yang sedang terjadi atau tidak bisa menangkap momentum. Sedangkan bangkrut yang dialami individu biasanya diakibatkan oleh gaya hidup.

By Tirta Prayudha
18 January 2020