Self Art & Culture

Melanjutkan Warisan Seni

Anya Madiadipoera

@anyamadiadipoera

Artist Representative Nyoman Nuarta & Space Director NuArt

Tasya Nuarta

@tasyanuarta

Artist Representative Nyoman Nuarta & Dosen

Photograph by : Arif Agustianto

Satu hal yang tidak akan pernah lepas saat kita berbicara tentang Indonesia adalah seni dan budaya. Keragaman suku yang kita miliki kemudian melahirkan banyak perspektif yang sering kali diterjemahkan kembali melalui beragam karya seni. Kali ini, Greatmind berkesempatan untuk berbincang dengan Anya Madiadipoera dan Tasya Nuarta mengenai pengalaman mereka tumbuh besar dengan seni rupa dan perjalanan mereka saat ini untuk mewariskan legacy seni keluarga.

Greatmind (GM): Halo, Mbak Anya dan Mbak Tasya. Sebelum berbincang lebih jauh tentang seni. Boleh cerita sedikit tentang kesibukan akhir-akhir ini mbak?

Tasya Nuarta (TN): Sekarang ini, sebetulnya kalau project di kantor saya lagi nggak begitu banyak. Sekarang bisa dibilang paling fokus untuk kontrol pembangunan kantor presiden di IKN. Kemungkinan juga yang akan datang ada pembangunan Masjid di IKN tapi masih dalam tahap diskusi.

Anya Madiadipoera (AM): Saat ini saya dan juga adik saya, Tasya, adalah Artist Representative ayah kami, Nyoman Nuarta. Sekarang saya juga bertanggung jawab sebagai Space Director untuk NuArt Sculpture Park di Bandung. Jadi pekerjaan saya cukup kompleks mulai dari mengurus operasional NuArt Sculpture Park, produksi patung untuk kolektor, dan juga pembangunan kantor presiden di IKN.

GM: Wah, berarti projectnya sekarang lumayan besar ya mbak. Mungkin saya mau mulai dengan tarik mundur kembali, seperti apa rasanya tumbuh besar dekat dengan seni?

TN:  Kalau saya, masa kecil saya memang jadi sedikit beda, karena kantor dulu di rumah. Jadi, untuk nonton televisi pun saya harus mengikuti jadwal kantor, jadi baru bisa menyalakan televisi jam 5, dan jam 7 harus sudah selesai. Jadi akhirnya saat masih kecil saya sering main ke workshop melihat bapak bikin karya.

Kami juga selalu dilibatkan dalam proses karya. Mulai dari produksi hingga proses persiapan pameran. Dari umur 6 tahun bahkan saya sudah ikut pameran. Hingga menjelaskan sebuah karya rasanya sudah tidak asing lagi. Seni rupa sudah menjadi bagian dari keseharian.

AM: Buat kami berdua, kehidupan dengan seni rupa itu jadi normal. Jadi saya juga bingung menjelaskan seperti apa tumbuh besar dengan seni, karena saya sudah seperti itu sejak lahir.  Kehidupan kami juga tidak terlalu berbeda sama anak-anak lainnya, bedanya orang tua kami pekerja seni. Sehingga 24 jam kehidupan kami berpusar di lingkaran seni rupa. Kalau seniman lain mungkin membebaskan anak-anaknya untuk bekerja di bidang lain, kalau kita sedari kecil sudah tau bahwa kita harus menjaga legacy yang ditinggalkan oleh orang tua kami.

TN: Tapi kami juga punya ibu yang juga mendukung dari segi business mindset. Sejak dulu ibu yang mengurus dari segi finansial mulai dari rancangan biaya hingga kontrak. Makanya, cara pikir kami juga jadi lebih seimbang antara berkesenian dan berbisnis. Keluarga kami juga sepertinya adalah perusahaan pertama yang berbentuk PT, yang memang bergerak di bidang seni, sejak tahun 1987. Dari situ kami melihat bahwa ternyata suami dan istri juga bisa menjadi partner kerja. Jadi percakapan mengenai seni dan proses pembuatan karya adalah hal yang sangat lumrah kami dengar dari kecil.

GM: Jadi, seni sudah terasa begitu normal ya mbak?

AM: Betul. Kami juga sudah terbiasa bertemu dengan banyak seniman besar dan para kurator seni. Mereka berbicara tentang konsep dan hal-hal ajaib. Obrolan mengenai seni rasanya sudah menjadi makanan sehari-hari kami.

TN: Iya, bapak juga selalu mengikutsertakan kami dalam setiap proses berkarya. Bahkan kalau meeting sampai malam di rumah, kalau kami mau ikut boleh, tidak pernah diusir. Kami juga dibiarkan untuk bertanya dan memberikan pendapat. Percakapan seni ini juga tidak hanya terbatas tentang lukisan atau patung, tetapi beragam bidang seni lainnya termasuk performing art, musik, teater, dan masih banyak lagi.

Bapak juga termasuk salah satu penggerak seni rupa baru dari tahun 70-an. Sehingga saat berdiksusi, ada banyak nama-nama hebat lain tidak hanya seniman. Misalnya saat mendiskusikan project Garuda Wisnu Kencana (GWK). Diskusi ini juga melibatkan ahli bahasa dan budayawan.

AM: Karena percakapan “berat” tentang seni sudah terasa begitu natural, saat saya kuliah saya juga sempat menelepon ke Bandung, kok ternyata hampir semua materi pembelajarannya saya sudah pernah dengar. Karena kami tumbuh besar dengan membahas karya-karya dari Wassily Kandinsky atau Marcel Duchamp.

GM: Adakah kebiasaan khusus saat masih kecil yang berhubungan dengan seni?

AM: Dulu, kita belum boleh tidur sebelum kasih satu gambar ke bapak. Entah itu bagus atau jelek, pokoknya setiap hari kita harus gambar.

TN: Wah, kakak saya memang lebih hebat menggambar. Matanya, tuh, jago banget melihat sebuah bidang lalu diterjemahkan menjadi dua dimensi. Sedangkan saya lebih nyaman dengan bentuk 3D.

GM: Kalau begitu, pernah terpikir kah untuk bekerja tanpa menyentuh bidang seni?

AM: Terus terang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Karena dari kecil kami sangat amat terbiasa dengan seni. Tapi saya tau persis, saat saya selesai kuliah, saya tidak akan pernah melebihi kemampuan bapak saya dalam berkarya. Saya tidak punya keberanian untuk menjadi seniman sepenuhnya. Jadi saya memilih untuk tidak menjadi seniman, tapi tetap bekerja dekat dengan seni.

TN: Kami berdua memang pemikirannya cenderung sangat logis. Bapak saya memang pola pikirnya seniman sekali. Mungkin dia rela tidak makan asal bisa berkarya. Kalau saya dan kakak, jujur masih banyak pertimbangan lain. Sebagai manusia, kami juga masih ada keinginan atau keperluan konsumtif yang juga ingin dipenuhi.

Hal ini berangkat dari pengalaman masa kecil. Kami merasakan betul bagaimana sulitnya saat kecil. Meski kami memang tidak pernah tau apakah orang tua kami punya uang atau tidak, juga tidak tau berapa harga patung kalau terjual, tapi kami ingat pengalaman pergi ke toko kue dan kami hanya boleh memilih satu. Kalau pun tamu datang, berarti kue itu tidak akan bisa kami makan. Kondisi keuangan seniman memang sangat bergantung apakah ada karya yang terjual atau tidak.

AM: Iya, kita taunya kita kurang. Terus kita nangis di kamar, kalau kue satu-satunya tadi dikasih ke tamu. Untuk sekolah aja, kita hampir putus sekolah. Jadi kalau saya berkaca dari pengalaman itu, kayaknya saya nggak sanggup jadi seniman. Saya harus kasih makan anak saya apa kalau karya saya lagi nggak laku? Karena sampai hari ini pun keluarga kami masih membantu banyak sekali seniman yang sebetulnya berbakat tapi punya kesulitan untuk menjual karya. Masa kecil kami agak traumatis sih, jadi kami pilih untuk nggak jadi seniman.

GM: Hidup begitu dekat dengan seni, tapi juga traumatis dari segi finansial itu bagaimana?

AM: Kalau di zaman saya malahan teman-teman saya yang orang tuanya PNS, jauh lebih berada keadaannya dibanding kami. Keluarga PNS, paling tidak mereka punya kestabilan, mereka setiap bulan punya pemasukan tetap. Kalau kita nggak, ya itu sih jadi bikin trauma tapi gimana caranya tetap bertahan. Karena saya tau persis bahwa saya tidak akan pernah bisa lari dari legacy ini untuk melanjutkan jiwa seni rupa keluarga kami. Tapi gimana caranya jangan sampai trauma masa kecil kami ini terulang kembali. Makanya saya berusaha membekali tim saya dengan anak-anak yang sangat mumpuni di bagian bisnis. Apalagi sekarang total karyawan kami ada kurang lebih 300 orang, tim saya di NuArt saja ada 40 orang yang harus dipikirkan hidupnya dari seni rupa, seni pertunjukkan, dan museum.

TN: Karena perusahaan ini memang dimulai oleh dua kepala yaitu orang tua kami, sekarang kami bertanggung jawab sebagai perpanjangan tangan mereka. Sama mungkin ini ya, kehidupan seni di Indonesia itu tidak semewah seniman di luar. Contohnya, waktu saya kerja di Amerika, bos saya sampai bertanya kenapa saya masih bekerja, padahal bapak saya seniman? Ya, untuk seniman di Amerika mungkin begitu, tapi seniman di Indonesia. Kita nggak bisa, marketnya kita belum di level itu.

GM: Masih berkarir dekat dengan seni, pernahkah merasa terbebani dengan nama Pak Nyoman Nuarta?

TN: Kalau dulu kita pernah bahas juga, kita terlalu banyak dibayang-bayangi nama bapak. Jadi semua selalu membanding-bandingkan. Oh, bapaknya bisa bikin gini, anaknya pasti bisa. kalau orang tuanya seniman, anaknya juga seniman. Padahal tidak seperti itu juga, meskipun kita terekspos dunia seni tapi outputnya bisa beda-beda. Sekarang saja mengajar dari tahun 2007 saya dosen, memang sih dosen desain, tapi tetap aja saya dosen, saya akademisi, tidak terlalu sering menjadi praktisi

GM: Apa tantangan yang selama ini dihadapi setelah mulai bertanggung jawab mewarisi legacy seni keluarga?

TN: Perusahaan kami memang sekarang cukup besar. Ada beberapa anak perusahaan di bawahnya dan kami bertanggung jawab untuk itu. Salah satu kesulitannya adalah mencari tenaga professional. Karena bidang usaha kami cukup spesifik. Biasanya dari sisi seniman terlalu “seni” sehingga kadang terlalu mengutamakan kebebasan berkarya, sedangkan kalau dari sisi bisnis yang professional mereka tentu mengutamakan profit yang besar. Sulit untuk mempertemukan kedua aspek di di tengah.

AM: Makanya NuArt ada untuk merangkul mereka. Untuk mencari jalan tengah ini, membantu anak-anak seni rupa tapi tetap dapat profit itu yang berat. Tapi alhamdulillah, sejak saya pegang, saya sebetulnya baru total megang NuArt itu sejak covid. Kami sekarang sudah benar-benar berdikari, hanya dari seni rupa kita bisa menggaji sekian banyak orang. Menjalankan tempat ini yang cukup besar, kurang lebih 3 hektar. Tukang kebun aja ada 12, karena tempat yang bersih dan presentable adalah hal yang selalu kami utamakan. Agak berat, tapi alhamdulillah kita bisa kok.

GM: Adakah poin dimana merasa yakin untuk sepenuhnya menerima tanggung jawab untuk melanjutkan legacy?

AM: Kalau untuk akhirnya menyerah pada takdir dan menerima ini memang harus saya jalankan ya barang kali baru akhir-akhir ini. Tapi pada saat saya sadar betul itulah kemudian saya bisa ternyata. Sebelumnya saya masih ragu, bisa nggak sih, mana mungkin bisa, akhirnya saat sudah covid, saya ambil alih dan memang ya sudah ini jalan hidup saya dan pintu rezekinya jadi jalan sendiri otomatis. Pada saat kita sudah betul-betul menerima.

TM: Kalau saya, memang sudah melewati begitu banyak pengalaman kerja di berbagai tempat. Mulai dari kasir hingga office management. Ternyata saya menyadari bekerja di bidang seni adalah zona nyaman saya. Secara tidak langsung saya sudah dibekali oleh ilmu yang sangat banyak, sekaligus juga pengalaman langsung untuk bekerja bersama para ahli di dunia seni. Orang mungkin banyak yang merasa pengetahuan saya akan seni sangat luas, tapi itu terasa biasa bagi saya karena ini adalah hasil proses saya terbiasa belajar, mendengarkan, dan berdiskusi selama saya hidup.

GM: Sekarang, adakah perbedaan cara Mbak Anya dan Mbak Tasya dalam melihat kesenian atau seniman?

TN: Saya nggak ada sih. Dari kecil, saya juga sudah terbiasa diberikan tanggungjawab dan juga hak dari orang tua. Jadi kami ikut bekerja, mempersiapkan pameran, hingga menjadi guide saat pameran. Tapi saya juga dibayar untuk itu. Dari dulu aku sudah bekerja, jadi sudah tau ada tanggung jawab, dan kemudian dapat reward.

AM: Kalau saya, justru akhir-akhir ini merasa seniman-seniman muda saat ini kurang melatih disiplin diri. Disiplin adalah satu prinsip yang selalu dipegang oleh bapak. Sebagai seniman, bapak saya sangat amat disiplin. Setiap hari ia bangun jam 3 pagi dan langsung menggambar. Banyak yang mungkin mendiskreditkan proses berkarya bapak saya, tapi ia memang sangat disiplin dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Seorang Nyoman Nuarta, kalau karyanya harus dikirim tanggal 10 November, maka 10 Oktober sudah beres. Itu kenapa sampai sekarang ia masih terus berkarya.

GM: Kalau begitu, apa yang bisa sama-sama kita lakukan untuk dapat meningkatkan apresiasi terhadap karya seni?

AM: Untuk itulah, NuArt hadir sebagai art space yang inklusif. Kita terbuka untuk siapapun. Siapapun boleh menikmati, nggak harus sekolah seni dulu baru bisa apresiasi seni. NuArt itu betul-betul untuk semua. Beberapa waktu lalu kami juga bekerja sama untuk menampilkan Botani Art. Ini sebenarnya lebih mengarah pada gambar botani atau tanaman, mereka juga bukan seniman, hanya pencinta seni dari beragam latar belakang berbeda. Tapi ini adalah salah satu usaha kami untuk memperkenalkan seni ke khalayak yang lebih luas, bahwa siapapun boleh menikmati seni.

TN: Kami ingin membantu memfasilitasi publik. Beberapa kali kami ada internship, jadi seniman-seniman muda bisa bekerja bersama bapak. Kami juga ingin mengedukasi publik seniman patung itu seperti apa, yang pure ingin berkarya, dan pure untuk estetika. Kenapa sih penting ada patung? Karena itu salah satu penunjuk tempat. Ini juga bisa menjadi kebanggaan kita untuk ditunjukkan ke bangsa-bangsa lain di dunia.

GM: Sebaliknya mbak, apa yang kira-kira butuh dilakukan oleh para seniman muda agar dapat lebih diapresiasi oleh publik?

AM: Menurut saya kedisiplinan dan kerja keras adalah hal yang utama bagi seniman. Lalu kemudian hal ini juga harus diikuti oleh sikap yang juga baik. Kebanyakan seniman terkadang cenderung memiliki arogansi terhadap karya yang ia buat dan juga terhadap orang lain yang mungkin dianggap tidak terlalu “nyeni” seperti dirinya. Padahal karya seni pada akhirnya adalah cerminan dari seniman itu sendiri. Maka, cara seniman bersikap dan menghargai orang lain juga penting, agar kita juga bisa mendapat apresiasi yang baik. Sebetulnya attitude adalah hal dasar yang harus dimiliki manusia pada umumnya tidak hanya seniman.

Karya seni pada akhirnya adalah cerminan dari seniman itu sendiri. Maka, cara seniman bersikap dan menghargai orang lain juga penting, agar kita juga bisa mendapat apresiasi yang baik.

TN: Betul, bapak saya pun terkadang ada sisi arogannya, tapi ia punya banyak pengingat. Saya, kakak saya, dan ibu selalu mengingatkan kalau bapak sudah terlalu arogan. Bapak saya juga sering mengajarkan bahwa jangan berharap pada orang lain. Kalau kita berbuat baik pada seseorang, jangan berharap ia akan berterima kasih atau bahkan ingat dengan kita. Berbuat baiklah tanpa harapan bahwa hal ini akan dibalas oleh manusia.

Kalau kita berbuat baik pada seseorang, jangan berharap ia akan berterima kasih atau bahkan ingat dengan kita. Berbuat baiklah tanpa harapan bahwa hal ini akan dibalas oleh manusia.

GM: Terakhir mbak, sekarang bagaimana cara Mbak Anya dan Mbak Tasya untuk mewarisi legacy seni keluarga?

AM: Kalau saya mewariskan legacy bapak saya dengan membangkitkan rasa. Jadi tugas saya di NuArt adalah membuat anak-anak, generasi muda, tetap sensitif terhadap rasa. Seni pada ujungnya adalah tentang rasa. Lukisan, patung, atau apapun medium seninya adalah untuk memancing rasa. Seniman itu membuat karya untuk membangkitkan rasa orang yang kemudian menikmati karyanya. Anak-anak harus diajak ke galeri atau museum untuk menggunggah perasaan di hati mereka, jangan sampai mereka kehilangan empati atau rasa dalam diri mereka.

Seni pada ujungnya adalah tentang rasa. Anak-anak harus diajak ke galeri atau museum untuk menggunggah perasaan di hati mereka, jangan sampai mereka kehilangan empati atau rasa dalam diri mereka.

TN: Kalau dari saya, mungkin mengingatkan generasi muda di Indonesia saat ini bahwa kita adalah manusia yang berbudaya. Jangan sampai kita lupa akan identitas dan budaya kita. Karena itu tahapannya sebuah peradaban, punya budaya, oleh karena itu kita berseni. Andaikan saja generasi kita bisa tetap menjadi manusia yang berbudaya tentu ini akan membantu kemajuan negara kita di masa mendatang.

Andaikan saja generasi kita bisa tetap menjadi manusia yang berbudaya tentu ini akan membantu kemajuan negara kita di masa mendatang.

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024