Self Lifehacks

Masa Kecil Membangun Diri

Tak terbayangkan ketika kecil apa yang akan didapat dari menjadi seorang bintang cilik. Menjadi figur publik yang dikenal, dielu-elukan, dimintai foto bersama, dianggap makhluk kecil yang dapat menjadi panutan dan akan mendulang kesuksesan di masa depan. Kala itu, yang saya tahu hanyalah bagaimana menghibur anak-anak lain dengan nyanyian. Kala itu, yang saya pahami adalah bagaimana terlihat ceria, tertawa bersama orang-orang yang mendekati dan bahagia dapat bertemu saya. Meski sebenarnya di masa kini saya menyadari anugerah dari prestasi yang saya dulang waktu kecil namun sebenarnya terdapat kerikil-kerikil yang juga berasal dari pengalaman tersebut.

Menjadi populer, terkenal, tidak hanya di kalangan sendiri bahkan di masyarakat tidak melulu menyenangkan. Ada masa di mana saya merasa terganggu dengan label “Bintang Cilik”. Masa tersulit adalah ketika beranjak remaja di mana juga masa transisi dari anak-anak beranjak ke dewasa. Banyak orang melihat figur publik sebagai sosok yang sempurna. Sosok yang “lebih” dari mereka dan memiliki kehidupan yang enak nan nyaman. Padahal selebriti tetap saja manusia. Begitu juga saya sang penyanyi cilik ini. Sehingga mereka pun seakan-akan selalu memiliki harapan bahwa saya tidak pernah melakukan kesalahan. Padahal, ya tetap saja namanya remaja pasti ada kenakalan tersendiri yang menjadi proses pengembangan diri. 

Seringkali, label “penyanyi cilik” tersebut dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan saya. Orang-orang terdekat pun sering menyatakan: “kamu kan Enno Lerian, jangan begitu nanti dinilai orang begini.” Seakan-akan seumur hidup saya harus menjaga citra sebagai penyanyi cilik yang tak bernoda. Menjaga kepolosan anak-anak yang dulu saya tampilkan di panggung. Sempat pula mengalami kesulitan memaparkan identitas sebagai remaja karena selalu dianggap anak-anak. Hingga ada masa di mana saya berontak marah dengan keadaan bahkan dengan orang tua. Saya pernah mempertanyakan mengapa waktu kecil harus sudah bekerja, menyanyi ke sana kemari, harus jadi terkenal. Merasa dimanfaatkan karena “diminta” berkarir sejak berusia dini. Seakan-akan tidak punya kebebasan untuk bermain dan menghabiskan waktu selayaknya anak seusia saya.

Kebebasan pula yang menjadi isu kala itu. Karena dikenal dari kecil, hingga tumbuh besar masih banyak orang yang hapal wajah saya. Apalagi dulu saya memiliki tahi lalat di hidung yang menjadi pengingat mereka. Jadi setiap kali di ruang publik, orang berbondong-bondong datang untuk berkenalan, dan meminta momen bersama. Sulit sekali punya kebebasan di tempat umum. Bahkan ketika acara sekolah waktu di Sekolah Dasar, saya tidak bisa menikmati waktu karyawisata seutuhnya saking banyak orang yang langsung menghampiri dan mengikuti kemana pun saya pergi. Seringkali saya sering menutupi wajah supaya tak dikenal orang dan kebiasaan inilah yang ternyata membawa saya pada situasi kurang percaya diri. Menumbuhkan krisis identitas yang membuat saya percaya bahwa saya tidak menjadi diri sendiri ketika dewasa tampil di layar kaca. Terutama setelah beberapa isu di hidup saya selepas remaja termasuk menikah muda dan bercerai. Label penyanyi cilik yang dianggap sempurna tersebut seakan-akan membuat banyak orang kecewa dengan ketidak-sempurnaan saya di masa dewasa. Ini juga yang akhirnya membuat saya seakan enggan untuk tampil dan justru menarik diri. Ada perasaan tidak ingin orang lain tahu dan kenal aku siapa karena saat kecil kurang bebas menjalani masa anak-anak seperti anak pada umumnya.

Namun kini saya pun sadar akan proses kehidupan di mana pengalaman-pengalaman tersebut yang membentuk diri dan karakter saat ini. Dengan adanya masa-masa sulit tersebut saya merasa lebih kuat, lebih dewasa. Kini saya jauh lebih nyaman dengan diri sendiri, lebih percaya diri. Apalagi dengan banyaknya orang yang sering memberikan apresiasi soal kehadiran saya di masa kecil mereka di mana generasi saat ini kurang memiliki hiburan anak-anak selayaknya generasi-generasi sebelumnya. Inilah yang menguatkan bahwa ternyata saya berguna bagi orang lain. Belum lagi dengan kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan sekarang. Banyak yang menolong ketika saya membutuhkan sesuatu karena dikenal banyak orang. Pintu-pintu rezeki pun banyak terbuka karena popularitas saya kala kecil itu. Sehingga tak ada lagi penyesalan akan menjadi bintang cilik.

Mensyukuri popularitas menjadi artis cilik pun lebih saya rasakan ketika peran saya dulu ternyata dapat sangat bermanfaat untuk penyebaran hal-hal positif seperti gerakan yang sedang digiati saat ini. Kampanye #savelaguanak yang merupakan inisiasi dari sekumpulan artis cilik dari berbagai generasi sedang kami gaungi untuk memerangi adanya penyimpangan yang terjadi akibat kurangnya hiburan khusus untuk anak-anak. Belakangan karena minimnya lagu anak-anak, banyak dari mereka yang menikmati lagu orang dewasa di mana terdapat lirik yang kurang pantas untuk dihapalkan. Tentu saja fenomena ini dapat berpengaruh buruk untuk pengembangan mereka. Oleh karena itu saya merasa amatlah penting untuk kembali menghidupkan lagu anak-anak yang memiliki pesan moral yang tinggi dengan bahasa sederhana, bahasa anak-anak pula. 

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021